IHSG Punya Rekor Positif di Juli, Akankah Jadi Momentum Bangkit?
- IHSG hampir selalu menguat pada Juli. Namun, tekanan ekonomi dan derasnya aksi jual asing membuat pola historis itu diuji pada 2026.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Bulan Juli selama bertahun-tahun dikenal sebagai salah satu periode paling bersahabat bagi pasar saham Indonesia. Di tengah berbagai musim investasi (seasonality effect) yang kerap muncul setiap tahun, Juli memiliki reputasi sebagai "bulan hijau" bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Data historis Bursa Efek Indonesia menunjukkan probabilitas IHSG mencatatkan kenaikan pada Juli tergolong sangat tinggi. Dalam satu dekade terakhir, Juli selalu berakhir positif.
Bahkan jika cakupan diperluas menjadi sekitar dua dekade, hanya terdapat beberapa pengecualian yang seluruhnya terjadi ketika pasar menghadapi guncangan ekonomi global berskala besar.
Namun, tahun 2026 menghadirkan kondisi yang berbeda. Di tengah tekanan dari dalam dan luar negeri yang datang secara bersamaan, muncul pertanyaan besar di kalangan pelaku pasar, apakah pola historis "Juli Hijau" masih mampu bertahan, atau justru tahun ini akan menjadi pengecualian berikutnya?
Juli Selalu Menjadi Bulan Positif bagi IHSG
Secara historis, Juli merupakan salah satu bulan dengan tingkat keberhasilan tertinggi bagi IHSG untuk mencetak kenaikan. Dalam 10 tahun terakhir, IHSG selalu membukukan return positif selama Juli atau memiliki probabilitas kenaikan mendekati 100%.
Jika ditarik lebih panjang menggunakan data sekitar 20 tahun terakhir, pola tersebut masih tetap dominan. Koreksi Juli hanya terjadi pada beberapa tahun, yakni:
- 2000: turun 4,45%
- 2002: turun 4,86%
- 2008: turun 1,90%
- 2013: turun 4,33%
- 2015: turun 2,20%
Artinya, selama dua dekade terakhir IHSG hanya mengalami koreksi Juli sebanyak lima kali, sehingga probabilitas bulan Juli berakhir positif mencapai sekitar 75%. Yang menarik, hampir seluruh pengecualian tersebut muncul ketika pasar menghadapi tekanan eksternal yang luar biasa.
Baca juga : Menguat Lagi, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini?
Pada 2008, pasar global diguncang krisis subprime mortgage yang kemudian berkembang menjadi krisis keuangan dunia. Pada 2013, Indonesia terkena dampak taper tantrum, ketika bank sentral Amerika Serikat memberi sinyal penghentian stimulus moneter sehingga memicu arus keluar dana besar-besaran dari negara berkembang.
Sementara pada 2015, pelemahan ekonomi China, anjloknya harga komoditas, serta ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve menekan pasar saham Indonesia.
Dengan kata lain, setiap kali pola Juli gagal terjadi, penyebabnya hampir selalu berasal dari tekanan makroekonomi global yang bersifat sistemik, bukan sekadar koreksi teknikal biasa.
Studi Akademis Juga Menemukan Efek Musiman
Fenomena tersebut bukan hanya terlihat dari data historis. Penelitian mengenai Seasonality Effect pada return Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang dilakukan oleh Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya menggunakan metode variabel dummy untuk menguji apakah terdapat pola musiman pada pergerakan return saham di Indonesia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Seasonality Effect memang terjadi pada IHSG, terutama pada bulan Maret, April, Juli, dan September yang memiliki pengaruh signifikan terhadap return saham.
Sebaliknya, fenomena January Effect, yaitu kecenderungan return saham meningkat pada bulan Januari seperti yang umum ditemukan di banyak pasar modal dunia, tidak terbukti signifikan pada periode penelitian tersebut.
Temuan tersebut memperkuat bahwa Juli memang memiliki karakteristik khusus di pasar saham Indonesia. Namun, statistik bukanlah kepastian.
Probabilitas tinggi bukan berarti jaminan bahwa Juli selalu berakhir hijau. Dan kondisi fundamental tahun 2026 menjadi tantangan terbesar bagi pola historis tersebut.
Baca juga : IHSG Dibuka Menuju Level 6.000-an, Cek Data Lengkapnya
Mengapa 2026 Bisa Berbeda?
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, pasar saham Indonesia tahun ini tidak hanya menghadapi satu faktor negatif. Sedikitnya terdapat empat tekanan sistemik yang datang hampir bersamaan.
Kombinasi tekanan tersebut bahkan dinilai sebanding dengan kondisi ketika pasar menghadapi krisis global pada 2008 maupun taper tantrum 2013.
1. Defisit Neraca Dagang Pertama Setelah 72 Bulan Surplus
Tekanan pertama datang dari sektor perdagangan luar negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebesar US$1,61 miliar pada Mei 2026.
Defisit ini menjadi yang pertama sejak Mei 2020, sekaligus mengakhiri rekor 72 bulan berturut-turut Indonesia membukukan surplus perdagangan.
Penyebab utamanya berasal dari sektor energi. Defisit perdagangan migas melebar hingga US$3,76 miliar, sementara surplus nonmigas hanya mencapai US$2,15 miliar, sehingga tidak mampu menutup kekurangan tersebut.
Sepanjang Mei 2026, nilai ekspor Indonesia tercatat US$23,20 miliar, sedangkan impor meningkat menjadi US$24,81 miliar. Produksi minyak domestik yang terus menurun, meningkatnya kebutuhan impor energi, serta melemahnya permintaan dari sejumlah negara tujuan ekspor menjadi persoalan yang lebih bersifat struktural.
Kepala Pusat Makroekonomi INDEF, Rizal Taufikurahman, bahkan menyebut defisit tersebut sebagai "lampu kuning" bagi perekonomian Indonesia.
2. Net Foreign Sell Terbesar dalam Sejarah
Tekanan kedua berasal dari pasar modal. Sepanjang tahun berjalan 2026, investor asing membukukan net foreign sell sebesar Rp74,42 triliun.
Bahkan beberapa perhitungan menunjukkan angka tersebut telah mendekati Rp88,89 triliun. Sebagai perbandingan, sepanjang pandemi 2020, ketika pasar global mengalami kepanikan luar biasa, net sell asing tercatat sekitar Rp62,8 triliun. Artinya, tekanan jual asing tahun ini telah melampaui periode krisis pandemi.
Akibat derasnya arus keluar modal tersebut, IHSG sempat melemah sekitar 32,05% secara year-to-date, turun dari level awal tahun sekitar 9.134 menuju kisaran 5.875.
Memang sempat terjadi pembelian bersih asing sekitar Rp6,08 miliar pada perdagangan Jumat, 3 Juli 2026. Namun angka tersebut relatif kecil dibandingkan akumulasi penjualan sepanjang tahun.
Bahkan pada perdagangan Senin, 6 Juli 2026, investor asing kembali mencatat net sell Rp190,9 miliar. Tekanan tersebut turut tercermin pada aktivitas perdagangan.
Rata-rata nilai transaksi harian (RNTH) di Bursa Efek Indonesia turun 35,89% menjadi hanya Rp11,27 triliun per hari pada pekan terakhir Juni. Sementara volume transaksi harian juga menyusut 30,34%.
Kondisi ini menunjukkan likuiditas pasar masih relatif tipis, dengan perdagangan lebih banyak ditopang investor domestik.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: INKP dan BBRI Naik, MDKA Turun
3. Rupiah Sempat Mendekati Rp18.000 per Dolar AS
Faktor ketiga adalah pelemahan nilai tukar. Pada 7 Juli 2026, rupiah masih bergerak di kisaran Rp17.990 per dolar AS.
Level tersebut dipandang sebagai batas psikologis penting karena pelemahan rupiah biasanya meningkatkan risiko keluarnya dana asing dari pasar keuangan domestik.
Cadangan devisa Indonesia juga mengalami penurunan. Posisinya turun dari US$146,2 miliar menjadi US$144,9 miliar, atau berkurang sekitar US$1,4 miliar.
Penurunan tersebut dipengaruhi pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah stabilisasi nilai tukar yang dilakukan Bank Indonesia.
4. MSCI Mengurangi Porsi Indonesia
Tekanan keempat datang dari indeks global. Dalam evaluasi MSCI Mei 2026, tidak ada satu pun saham Indonesia yang masuk ke dalam MSCI Global Standard Index.
Sebaliknya, enam saham justru dikeluarkan, yaitu:
- AMMN (Amman Mineral Internasional)
- BREN (Barito Renewables Energy)
- TPIA (Chandra Asri Pacific)
- DSSA (Dian Swastatika Sentosa)
- CUAN (Petrindo Jaya Kreasi)
- AMRT (Sumber Alfaria Trijaya)
Selain itu, 13 saham Indonesia juga dikeluarkan dari MSCI Small Cap Index, termasuk ANTM, AALI, BANK, BSDE, DSNG, dan SIDO.
Analis memperkirakan perubahan tersebut dapat memicu passive outflow sekitar Rp28 triliun hingga Rp31 triliun karena dana indeks global harus menyesuaikan portofolionya.
Akibatnya, bobot Indonesia di indeks pasar berkembang MSCI turun dari hampir 0,8% menjadi sekitar 0,5% hingga 0,6%. Penurunan bobot tersebut berpotensi mengurangi daya tarik Indonesia bagi investor institusi global.
IHSG Mulai Rebound, Tetapi Belum Mengubah Tren
Di tengah tekanan tersebut, IHSG memang menunjukkan pemulihan pada awal Juli.
Pergerakan indeks tercatat sebagai berikut,
- 3 Juli 2026: 5.875,78 atau naik 2,28%
- 6 Juli 2026: 5.916,07 atau naik 0,69%
- 7 Juli 2026 (pembukaan): 5.933,57 atau naik 0,30%
Saham-saham perbankan menjadi motor utama penguatan. BRIS naik sekitar 4,9%, BBRI menguat 3%, sedangkan BBCA bertambah sekitar 1,2%.
Secara teknikal, IHSG membentuk pola three advancing soldiers, yang umumnya mengindikasikan peluang kelanjutan kenaikan jangka pendek.
Meski demikian, mayoritas analis menilai penguatan tersebut masih sebatas technical rebound, bukan pembalikan tren. Level 6.450 masih menjadi area konfirmasi penting.
Selama IHSG belum mampu mencatat weekly closing di atas level tersebut dengan volume yang kuat, tren naik belum dianggap valid. Dalam jangka pendek, target terdekat masih berada pada area psikologis 6.000.
Sebaliknya, support penting berada di kisaran 5.650 dan 5.300–5.400. Apabila level tersebut ditembus, peluang IHSG kembali menguji titik terendah masih terbuka.
Rendahnya volume transaksi juga menunjukkan investor masih bersikap wait and see. Analis menilai keberlanjutan penguatan akan sangat bergantung pada perubahan arus modal asing menjadi net buy secara konsisten.
Tanpa kembalinya investor asing, kenaikan IHSG berisiko hanya menjadi pemantulan sementara setelah penurunan tajam.
Masih Ada Faktor Positif
Meski tekanan masih besar, pasar juga memiliki beberapa katalis yang dapat membantu menopang sentimen.
Di antaranya adalah efisiensi anggaran Program Makan Bergizi Gratis dari sekitar Rp268 triliun menjadi sekitar Rp174 triliun, yang dipandang dapat mengurangi tekanan terhadap defisit APBN.
Selain itu, harga minyak dunia turun ke sekitar US$71,99 per barel, level terendah sejak Februari 2026, sehingga berpotensi membantu menekan defisit migas Indonesia.
Di sisi global, Dow Jones menguat sekitar 1,14%, sementara MSCI Asia Pacific naik 1,94%. Indeks dolar Amerika Serikat juga melemah ke sekitar 100,853, level terendah sejak 19 Juni 2026, yang secara teori dapat membantu stabilisasi rupiah dan meningkatkan minat investor terhadap aset di negara berkembang.

Muhammad Imam Hatami
Editor
