IHSG Melesat, Akankah Reli Berlanjut atau Hanya Euforia Sesaat?
- IHSG melonjak lebih dari 3% usai damai AS-Iran. Simak faktor pendorong reli, proyeksi indeks hingga akhir 2026, serta risiko yang perlu diwaspadai investor.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat lebih dari 3% pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026, setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan damai yang mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Setelah beberapa pekan ambrol berturut-turut sampai sempat menyentuh 5500, apakah reli ini masih bisa berlanjut atau justru berisiko mengalami koreksi dalam waktu dekat?
Yang pasti, melihat momentum diatas pasar merespons sangat positif kabar perdamaian tersebut karena berpotensi menurunkan risiko geopolitik global yang selama beberapa bulan terakhir membebani sentimen investor.
Selain itu, dibukanya kembali Selat Hormuz turut mendorong penurunan harga minyak dunia dan memperbaiki prospek ekonomi sejumlah negara importir energi, termasuk Indonesia.
Baca juga : Indeks LQ45 Hari Ini 15 Juni 2026 Dibuka Naik 20,11 ke 617,56 Poin
Mengapa Damai AS-Iran Mendorong Kenaikan IHSG?
Pada sesi perdagangan Senin pagi, IHSG dibuka di level 6.198,47 atau melonjak sekitar 3,18% dibandingkan penutupan sebelumnya.
Penguatan berlanjut hingga indeks sempat menyentuh level 6.221,44, mencerminkan optimisme investor terhadap membaiknya kondisi ekonomi global.
Aktivitas perdagangan juga menunjukkan peningkatan signifikan. Sebanyak 5,81 miliar saham berpindah tangan dengan nilai transaksi mencapai Rp3,61 triliun pada sesi awal perdagangan.
Euforia tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia. Bursa saham Asia juga bergerak menguat, menunjukkan bahwa sentimen positif pasca damai AS-Iran dirasakan secara global.
Ada beberapa faktor yang membuat pasar saham Indonesia langsung merespons positif. Pertama, harga minyak dunia turun lebih dari 4% setelah pasar melihat risiko gangguan pasokan energi mulai mereda. Harga Brent turun ke kisaran US$83 per barel sementara WTI berada di sekitar US$81 per barel.
Bagi Indonesia sebagai negara pengimpor minyak, harga energi yang lebih rendah berpotensi menekan inflasi dan mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan.
Kedua, rupiah menunjukkan penguatan terhadap dolar AS. Penguatan nilai tukar membantu emiten yang memiliki kewajiban dalam mata uang asing sekaligus meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset domestik.
Ketiga, investor asing mulai kembali masuk ke pasar saham Indonesia setelah ketidakpastian global berkurang. Arus modal asing menjadi salah satu faktor penting yang menopang penguatan IHSG.
Baca juga : IHSG Hari Ini 15 Juni 2026 Dibuka Naik ke 6.118,73 Poin
Apakah Reli IHSG Masih Bisa Berlanjut?
Sektor perbankan kembali menjadi penopang utama kenaikan indeks. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) menjadi kontributor terbesar terhadap penguatan IHSG.
Selain perbankan, saham sektor properti, basic materials, serta emiten yang diuntungkan dari turunnya harga energi juga mulai menarik perhatian investor.
Kondisi ini menunjukkan jika reli tidak hanya terjadi pada satu sektor, melainkan cukup merata di berbagai kelompok saham. Sejumlah analis masih melihat peluang penguatan lanjutan dalam jangka pendek hingga menengah.
Optimisme tersebut didukung oleh beberapa faktor, mulai dari meredanya ketegangan geopolitik, harga minyak yang lebih rendah, hingga potensi masuknya dana asing ke pasar negara berkembang.
Head Of Riset Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI), Wafi, menilai ruang penguatan IHSG masih cukup terbuka meski laju kenaikannya diperkirakan tidak secepat sebelumnya.
Menurutnya, pada skenario yang paling realistis, indeks berpotensi menutup tahun 2026 di kisaran 6.800 hingga 7.200.
Proyeksi tersebut didukung oleh asumsi bahwa Indonesia tetap mempertahankan statusnya dalam indeks MSCI Emerging Markets dan pergerakan rupiah terhadap dolar AS tetap relatif stabil sepanjang tahun.
Dari sisi teknikal, selama IHSG mampu bertahan di atas area 5.850 hingga 5.900, tren penguatan dinilai masih terjaga.
Baca juga : 11 Pajak yang Sering Menekan Langsung Dompetmu
Risiko Apa yang Perlu Diwaspadai Investor?
Meski prospeknya terlihat positif, investor tetap perlu berhati-hati karena sejumlah risiko masih membayangi pasar.
Salah satu faktor utama adalah keputusan suku bunga bank sentral Amerika Serikat atau The Fed. Jika The Fed kembali mengambil kebijakan yang lebih agresif, arus modal asing berpotensi keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.
Selain itu, perlambatan ekonomi China juga menjadi perhatian karena dapat memengaruhi permintaan komoditas global yang selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi Indonesia.
Pasar juga masih menunggu implementasi penuh dari kesepakatan damai AS-Iran. Jika muncul hambatan dalam proses pelaksanaannya, sentimen positif yang saat ini mendorong pasar dapat berbalik arah.
Dari sisi teknikal, area 6.200 hingga 6.290 menjadi zona resistensi penting. Kegagalan menembus level tersebut berpotensi memicu aksi ambil untung jangka pendek.
Reli IHSG pasca damai AS-Iran menunjukkan jika pasar merespons sangat positif meredanya risiko geopolitik global. Turunnya harga minyak, menguatnya rupiah, serta kembalinya minat investor asing menjadi kombinasi yang mendukung penguatan pasar saham Indonesia.
Namun, investor tidak boleh mengabaikan risiko yang masih ada. Keputusan The Fed, perkembangan ekonomi China, serta implementasi kesepakatan damai AS-Iran akan menjadi faktor penentu apakah reli ini dapat berlanjut menuju level yang lebih tinggi atau justru mengalami koreksi setelah euforia mereda.
Untuk saat ini, skenario yang paling mungkin adalah IHSG melanjutkan tren penguatan secara bertahap, meski diselingi volatilitas dan aksi ambil untung di sejumlah saham yang sudah naik signifikan.

Muhammad Imam Hatami
Editor
