IHSG Anjlok, Intip Cuan LQ45 di ADMR, ANTM dan KLBF
- Panic selling hantam IHSG! Tapi 5 saham LQ45 ini malah hijau royo-royo. Ada ADMR, ANTM hingga KLBF. Cek daftar lengkap saham anti badai di sini.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks LQ45 terpaksa tunduk di zona merah pada penutupan perdagangan Senin, 12 Januari 2026. Indeks saham paling likuid ini terkoreksi tipis 0,17% ke level 866,55, terseret oleh aksi jual masif yang melanda pasar saham domestik di tengah sentimen panic selling global.
Saham konglomerasi Barito Pacific (BRPT) menjadi pemberat utama indeks dengan kejatuhan tajam hingga 7,10%. Namun, di tengah gelombang tekanan jual tersebut, lima emiten justru tampil perkasa melawan arus. Mereka menjadi tempat pelarian modal investor yang mencari perlindungan dari volatilitas pasar yang tinggi.
Sektor mineral dan energi mendominasi daftar saham yang paling "moncer" hari ini. Kenaikan harga komoditas global tampaknya menjadi katalis positif yang membuat saham-saham ini tetap hijau royo-royo. Berikut adalah lima saham LQ45 yang sukses mencetak cuan tebal saat pasar sedang panik.
1. ADMR: Juara Gainer, Terbang Dua Digit
PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) menjadi juara bertahan hari ini dengan lonjakan fantastis. Saham anak usaha Adaro ini terbang 10,86% atau menguat 190 poin hingga bertengger di level Rp1.940 per lembar. Kenaikan dua digit ini terjadi di tengah lesunya indeks utama.
Minat beli pada ADMR sangat tinggi, didorong oleh optimisme sektor mineral coking coal. Investor asing dan domestik kompak melakukan akumulasi, menjadikan saham ini anomali positif. Performa ADMR membuktikan bahwa saham komoditas spesifik masih memiliki daya tarik kuat di mata pelaku pasar modal.
Kenaikan tajam ini mengindikasikan adanya momentum breakout yang kuat secara teknikal. Di saat saham lain berguguran, ADMR justru menawarkan capital gain signifikan. Hal ini menjadikannya primadona bagi trader yang memanfaatkan volatilitas harian untuk mendulang keuntungan cepat di awal pekan perdagangan.
2. MDKA: Kilau Emas di Tengah Panik
Posisi kedua ditempati oleh PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) yang sukses menguat signifikan. Emiten tambang emas dan tembaga ini naik 7,04% atau bertambah 190 poin ke level Rp2.890. MDKA menjadi pilihan favorit investor yang mengincar aset lindung nilai saat pasar gonjang-ganjing.
Kenaikan harga emas dunia memberikan sentimen positif langsung terhadap kinerja saham MDKA. Sebagai produsen emas, MDKA diuntungkan oleh ketidakpastian geopolitik yang mendorong harga logam mulia. Investor melihat saham ini sebagai proxy aman untuk mengamankan portofolio mereka dari risiko penurunan indeks global.
Volume transaksi yang tebal menunjukkan keyakinan pasar yang kuat terhadap emiten ini. MDKA berhasil memisahkan diri dari tren penurunan sektor lainnya. Ketangguhan ini memberikan sinyal bullish lanjutan, terutama jika harga komoditas emas terus bertahan di level tingginya dalam beberapa hari ke depan.
3. ANTM: BUMN Tambang Paling Laris
PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) tidak mau ketinggalan dalam pesta kenaikan sektor tambang. Saham pelat merah ini melesat 5,51% atau naik 200 poin menutup hari di Rp3.830. Statusnya sebagai BUMN tambang emas membuat ANTM menjadi sasaran akumulasi investor institusi maupun ritel.
Performa ANTM sangat impresif mengingat tekanan jual yang melanda saham blue chip perbankan. Kenaikan ini sejalan dengan tren positif komoditas emas yang menjadi andalan penjualan perseroan. Sentimen positif dari evaluasi indeks ESG sebelumnya juga turut menjaga kepercayaan pemegang saham jangka panjang.
Level Rp3.830 menjadi pijakan baru yang cukup solid bagi pergerakan ANTM selanjutnya. Di tengah panic selling pasar, likuiditas ANTM tetap terjaga dengan baik. Hal ini membuktikan bahwa saham berbasis komoditas strategis tetap menjadi primadona saat ketidakpastian ekonomi makro sedang meningkat tajam.
4. MEDC: Diuntungkan Tensi Geopolitik
Sektor energi minyak dan gas diwakili oleh PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC). Saham ini berhasil naik 3,03% atau menguat 45 poin ke level Rp1.530. Eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi katalis utama yang mendongkrak harga saham berbasis energi fosil ini.
Investor merespons potensi gangguan pasokan minyak global dengan memburu saham MEDC. Kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi insentif langsung bagi margin keuntungan perseroan. Di saat sektor teknologi dan perbankan tertekan, MEDC muncul sebagai alternatif investasi yang menjanjikan keuntungan jangka pendek.
Pergerakan saham MEDC menunjukkan korelasi positif yang kuat dengan isu geopolitik global. Selama ketegangan di negara produsen minyak masih tinggi, MEDC berpotensi melanjutkan tren penguatannya. Saham ini menjadi opsi diversifikasi yang menarik untuk menyeimbangkan risiko portofolio di tengah pasar yang bearish.
5. KLBF: Benteng Defensif Sektor Farmasi
Terakhir, ada PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) yang mewakili sektor defensif farmasi. Saham ini naik 2,95% atau menguat 35 poin ke level Rp1.220. Di tengah guncangan pasar, saham defensif seperti KLBF selalu menjadi tempat berlindung yang aman bagi investor konservatif yang menghindari risiko.
Kenaikan KLBF membuktikan bahwa rotasi sektoral sedang terjadi menuju saham-saham kebutuhan primer. Bisnis kesehatan yang stabil dan minim dampak dari fluktuasi ekonomi makro menjadi daya tarik utama. Investor memilih mengamankan asetnya di emiten yang membagikan dividen rutin dan memiliki fundamental kuat.
Penutupan di zona hijau saat IHSG dan LQ45 merah adalah bukti ketahanan KLBF. Saham ini menawarkan stabilitas yang jarang ditemukan saat pasar sedang panik. Prospeknya tetap cerah sebagai penyeimbang portofolio, terutama jika volatilitas pasar saham masih berlanjut di sisa pekan ini.

Alvin Bagaskara
Editor
