IHSG Ambrol, Target 10.000 Jadi Isapan Jempol?
- Ambruknya IHSG menjadi pukulan besar bagi investor. Hal ini lantaran IHSG sempat menembus 9.000-an awal Januari 2026, bahkan diproyeksi menuju 10.000.

Chrisna Chanis Cara
Author


Pekerja beraktifitas dengan latar belakang layar monitor pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat 5 Juni 2020. IHSG ditutup menguat 0,63% atau 31,08 poin ke level 4.947,78 pada akhir perdagangan. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) babak belur menyusul potensi reklasifikasi bursa Indonesia dari status bergengsi Emerging Market menjadi Frontier Market. Bursa Efek Indonesia (BEI) bahkan harus menghentikan perdagangan sementara (trading halt) lantaran pelemahan signifikan.
Trading halt muncul usai IHSG terkoreksi hingga 8% di posisi 8.261,79 di awal sesi II, Rabu 28 Januari 2026. Hanya ada 30 saham yang menguat. Di sisi lain, sebanyak 764 saham melemah dan 10 saham stagnan.
Ambruknya bursa saham dalam negeri menjadi pukulan besar bagi para investor. Hal ini lantaran IHSG sempat menembus 9.000-an pada awal Januari 2026. Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa, saat itu pun sesumbar IHSG dapat terus melaju kencang. “Lebih dari 10.000 pasti,” ujar Purbaya kepada wartawan beberapa waktu lalu.
Purbaya mengklaim target tersebut bukan mustahil lantaran didukung fondasi ekonomi nasional yang semakin kokoh dan stabil. Dia menilai kinerja pasar saham bisa ngebut jika desain kebijakannya mulus. “Ke depan dengan kebijakan semakin sinkron, IHSG akan naik lebih cepat,” ujar Purbaya.
Bermimpi Tembus 35.000
Menkeu bahkan sempat menyebut IHSG bakal “to the moon” mencapai 35.000. Menurut Purbaya, kenaikan menuju 9.000 baru permulaan dari siklus ekspansi jangka panjang. Merujuk data historis ekonomi, indeks saham bisa naik berkali-kali lipat dari titik terendah.
Potensi kenaikan ini dihitung berdasarkan siklus ekspansi ekonomi yang biasanya berlangsung selama tujuh hingga 10 tahun penuh. “Berapa kali sih IHSG itu naik? Ya bisa empat-lima kali. Berarti bisa 32.000 sampai 35.000,” hitungnya.
Senada pemerintah, JP Morgan Indonesia memasang target agresif dalam pandangan pasar ekuitas tahun 2026. Lembaga keuangan global ini memproyeksikan IHSG mampu menembus level 10.000 dalam skenario terbaik atau bull scenario. Tahun 2026 dianggap sebagai masa memetik hasil pasca transisi politik.
Namun JP Morgan dalam laporannya juga mewanti-wanti ada potensi scenario terburuk (bear scenario) yang bisa membuat IHSG melorot ke level 7.800. Volatilitas eksternal disebut menjadi faktor risiko yang perlu dicermati investor.

Morgan Stanley Capital International (MSCI) sendiri memberi peringatan bahwa Indonesia berpotensi menghadapi ancaman serius. Hal itu setelah MSCI mengungkap IHSG berpotensi turun kasta dari Emerging Market menjadi Frontier Market jika problem transparansi tak segera dibereskan. Penurunan kelas berpotensi memicu capital outflow lantaran berkurangnya kepercayaan investor asing.
Peringatan itu muncul setelah MSCI menilai perbaikan data free float yang dilakukan Bursa Efek Indonesia belum cukup memuaskan standar global. Investor asing menuntut transparansi lebih tinggi terkait struktur kepemilikan saham publik yang selama ini dinilai masih abu-abu dan membingungkan.
Baca Juga: BEI Lobi MSCI: Memahami Akar Masalah Free Float Saham
Jika penurunan status ini benar terjadi, Indonesia bakal sejajar dengan negara negara seperti Vietnam atau Nigeria dalam peta investasi. Hal ini tentu menjadi kemunduran besar mengingat Indonesia telah lama menikmati status Emerging Market yang menarik banyak aliran modal asing berkualitas.
BRI Danareksa Sekuritas dalam risetnya menyoroti kesimpulan MSCI bahwa data kepemilikan saham Indonesia masih kurang transparan di mata asing. "Walau ada perbaikan data dari IDX, masalah investability inti belum dianggap selesai,” ungkap sekuritas tersebut.

Chrisna Chanis Cara
Editor
