Tren Pasar

IHSG 9.000-an, Bagaimana Strategi Investasi 2026?

  • Bareksa menilai ini menjadi titik krusial bagi investor untuk mengevaluasi strategi, seiring penguatan indeks dan tak lagi ditopang saham blue chip.
Ilustrasi Pengamatan IHSG - Panji 1.jpg
Karyawan mengamati pergerakan harga saham di Profindo Sekuritas, Jakarta, Kamis 16 Maret 2023. Hari ini (17/3) IHSG dibuka menguat 49,65 poin atau 0,76 persen ke posisi 6.615,3. Sementara itu kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 naik 9,87 poin atau 1,09 persen ke posisi 917,3. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan sejarah baru setelah menembus level 9.000 pada awal 2026. Berdasarkan data perdagangan, IHSG menyentuh level 9.002 secara intraday pada 8 Januari 2026, tertinggi sepanjang masa.

Penguatan berlanjut pada perdagangan Rabu 14 Januari 2025. Hingga penutupan sesi I, IHSG berada di posisi 9.028,22, menguat 0,89% dibandingkan penutupan sebelumnya. Secara year to date (YTD), IHSG telah naik 4,05%.

Dalam riset terbarunya, Bareksa menilai capaian tersebut bukan hanya mencerminkan optimisme pasar, tetapi juga menjadi titik krusial bagi investor untuk mengevaluasi strategi investasi ke depan.

“Level 9.000 menjadi area psikologis penting karena mayoritas target IHSG 2026 yang dipatok analis berada di kisaran 9.000–10.000. Artinya, target terendah sudah tercapai lebih awal,” tulis Bareksa dalam risetnya.

Penguatan Ditopang Saham Non-Blue Chip

Bareksa mencatat, penguatan IHSG kali ini memiliki karakter berbeda dibandingkan periode sebelumnya. Sejak meredanya ketegangan perang dagang global pada April 2025, IHSG dan indeks saham unggulan LQ45 sempat bergerak searah.

Namun sejak Juli 2025, pola tersebut mulai berubah. IHSG terus mencatat kenaikan, sementara LQ45 cenderung bergerak mendatar. Kondisi ini mengindikasikan bahwa penguatan indeks lebih banyak ditopang oleh saham non-blue chip, bukan oleh saham-saham berkapitalisasi besar.

“Perbedaan pergerakan ini menunjukkan bahwa reli pasar tidak lagi merata dan risiko menjadi semakin selektif,” tulis Bareksa.

Menurut Bareksa, posisi IHSG di atas 9.000 menempatkan investor pada kondisi persimpangan. Investor yang telah menikmati keuntungan signifikan berpotensi mulai melakukan aksi ambil untung. Sementara itu, investor yang meyakini IHSG masih berpeluang menuju level 10.000 tetap melihat ruang kenaikan, meski dengan risiko yang lebih tinggi.

Adapun investor yang baru masuk pasar atau khawatir tertinggal momentum justru menghadapi dilema karena valuasi saham dinilai sudah relatif mahal. “Kondisi ini membuat strategi pasif mengikuti indeks tidak lagi selalu efektif,” tulis Bareksa.

Di tengah kondisi pasar yang cenderung selektif, Bareksa menilai reksadana campuran dapat menjadi salah satu alternatif strategi bagi investor. Instrumen ini dinilai memiliki fleksibilitas karena manajer investasi dapat menyesuaikan alokasi aset antara saham, obligasi, dan pasar uang sesuai kondisi pasar.

Saat pasar saham dinilai panas, porsi saham dapat dikurangi untuk meredam risiko. Sebaliknya, ketika peluang muncul, eksposur saham bisa kembali ditingkatkan.

Kinerja Reksadana Campuran

Berdasarkan data Bareksa per 7 Januari 2026, sejumlah reksadana campuran mencatatkan kinerja yang menonjol dalam satu tahun terakhir, antara lain:

  1. Sucorinvest Anak Pintar dengan imbal hasil 57,13%
  2. Sucorinvest Citra Dana Berimbang sebesar 50,98%
  3. Syailendra Balanced Opportunity Fund Kelas A sebesar 46,94%
  4. Eastspring Syariah Mixed Asset Fund Kelas A mencatat imbal hasil 5,5% sejak diluncurkan pada 20 Agustus 2025

Bareksa menilai produk yang relatif baru seperti Eastspring Syariah Mixed Asset Fund menunjukkan pergerakan yang lebih stabil, namun tetap mampu mengikuti penguatan pasar saham.

Bareksa menegaskan, tembusnya IHSG di atas 9.000 bukan akhir dari reli pasar, melainkan momentum bagi investor untuk melakukan evaluasi portofolio.

Investor yang memilih bertahan tetap disarankan untuk lebih selektif, sementara investor yang ingin meredam risiko dapat mempertimbangkan diversifikasi ke instrumen yang lebih fleksibel.

“Di tengah euforia pasar, disiplin terhadap tujuan investasi dan profil risiko tetap menjadi kunci utama,” tulis Bareksa.