Tren Pasar

Harga Minyak Mendidih, ELSA Siap Genjot Aktivitas Hulu

  • Konflik Timur Tengah dongkrak harga minyak, PT Elnusa Tbk (ELSA) bidik peluang jasa migas hulu. Saham ELSA melesat 69% sejak awal tahun, cek ulasan lengkapnya!
Elnusa .png
Gedung Elnusa (Dok/ELSA)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Lonjakan harga minyak dunia akibat memanasnya konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah menjadi angin segar bagi emiten jasa penunjang migas domestik. Emiten PT Elnusa Tbk (ELSA) menilai kenaikan harga komoditas tersebut berpotensi besar membuka peluang peningkatan aktivitas hulu.

Dari lantai bursa saham ELSA pada perdagangan Jumat, 6 Maret 2026, terpantau bergerak menguat 0,58% ke level Rp865 per lembar saham. Jika diukur sejak awal tahun, saham perusahaan ini tercatat telah melesat hebat mencapai kenaikan sekitar 69% secara kumulatif.

Ketegangan yang terjadi di jalur distribusi strategis Selat Hormuz saat ini telah memicu kekhawatiran serius terhadap stabilitas pasokan energi global. Penutupan akses jalur pelayaran yang dilewati sekitar 20% pasokan minyak dunia tersebut dipastikan mendorong permintaan jasa penunjang migas nasional.

Peluang Aktivitas Hulu Migas

Direktur Keuangan PT Elnusa Tbk (ELSA), Nelwin Aldriansyah, menjelaskan bahwa level harga energi baru yang berkelanjutan akan mendorong kegiatan eksplorasi masif. Kondisi lapangan marginal yang selama ini memiliki biaya produksi tinggi kini mulai kembali dilirik oleh para pelaku usaha.

Peningkatan aktivitas pada sektor hulu migas tersebut secara otomatis akan meningkatkan kebutuhan terhadap berbagai layanan teknis pendukung industri. Harapannya, permintaan terhadap jasa pengeboran serta survei seismik akan meningkat tajam seiring dengan ambisi pemerintah dalam mengejar target kenaikan lifting.

Kenaikan volume kegiatan usaha ini diyakini akan memberikan dampak positif yang sangat signifikan bagi kinerja keuangan konsolidasi milik perusahaan. Menyikapi peluang tersebut, "Tentunya ini akan berimbas positif pada peningkatan kegiatan usaha yang ada di Elnusa dan mungkin juga di beberapa anak perusahaan," ujar Nelwin dalam media briefing pada Kamis, 5 Maret 2026. 

Ketahanan Energi Nasional

Langkah percepatan produksi minyak dalam negeri mendesak dilakukan mengingat cadangan bahan bakar minyak nasional saat ini dilaporkan berada dalam kondisi terbatas. Stok energi Indonesia disebut hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan selama 20 hingga 23 hari ke depan di tengah gejolak global.

Optimalisasi lifting minyak bumi di berbagai lapangan domestik diharapkan dapat menggantikan sebagian porsi kebutuhan minyak mentah yang selama ini didapat melalui impor. Penguatan kemandirian energi nasional ini dipastikan akan melibatkan peran strategis emiten dalam menyediakan layanan infrastruktur energi terintegrasi.

Keterlibatan aktif perusahaan dalam proyek strategis nasional tersebut akan memperkuat posisi tawar korporasi sebagai penyedia jasa migas terdepan di Indonesia. Nelwin menegaskan, "Ketergantungan kita akan crude import dari Indonesia ini dapat sedikit banyak digantikan sebagian dari dalam negeri dengan peningkatan lifting di Indonesia."

Kinerja Keuangan 2025

Meskipun dibayangi oleh fluktuasi harga minyak global yang sangat dinamis, ELSA sukses mencatatkan performa keuangan yang cukup tangguh. Sepanjang tahun buku 2025, korporasi berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp718 miliar dengan pertumbuhan pendapatan usaha mencapai Rp14,5 triliun.

Pencapaian pendapatan tersebut mencerminkan pertumbuhan sebesar 8% secara tahunan jika dibandingkan dengan perolehan pada periode tahun sebelumnya di tengah pasar yang menantang. Realisasi kinerja ini membuktikan efektivitas strategi bisnis perusahaan dalam menjaga stabilitas operasional di berbagai lini layanan jasa migas.

Direktur Utama PT Elnusa Tbk (ELSA), Litta Indriya Ariesca, menyebut hasil tersebut masih berada di atas pencapaian perusahaan pada masa lampau. "Walaupun kita lihat kemarin pasar agak sedikit keras ya, tetapi masih jauh lebih baik dari pencapaian kami sebelumnya," kata Litta saat media briefing.

Struktur Pendapatan Korporasi

Berdasarkan rincian laporan keuangan terbaru, kontribusi terbesar pendapatan korporasi berasal dari sektor hilir migas yang menyumbang porsi sebesar 60% secara keseluruhan. Sementara itu, lini bisnis hulu migas memberikan kontribusi sebesar 28% terhadap total nilai pendapatan usaha milik emiten.

Layanan pendukung lainnya seperti pengelolaan data migas dan transportasi maritim turut memberikan tambahan porsi pendapatan usaha sebesar 12% bagi perusahaan. Dari sisi basis pelanggan, sebanyak 78% pendapatan masih didominasi oleh pengerjaan proyek strategis di lingkungan internal grup raksasa Pertamina.

Pertumbuhan laba bersih inti perusahaan secara riil sebenarnya mencapai angka 11% jika mengecualikan faktor pendapatan non-bisnis inti pada tahun buku sebelumnya. Nelwin mengungkapkan, "Walaupun kita lihat kemarin pasar agak sedikit keras ya, jadi ada penurunan juga dari nilai Elnusa, tetapi masih jauh lebih baik."

Posisi Kas dan Dividen

Saldo kas korporasi pada akhir periode tahun 2025 tercatat berada pada posisi yang cukup kuat yakni mencapai angka sebesar Rp2,7 triliun. Penurunan nilai kas sebesar 8% murni disebabkan oleh kebijakan manajemen dalam melakukan pelunasan instrumen sukuk sebesar Rp700 miliar.

Meskipun melakukan pelunasan utang dalam jumlah besar, perusahaan tetap mampu mempertahankan arus kas operasional yang sangat positif selama setahun penuh. Kondisi likuiditas yang terjaga dengan baik ini memberikan fleksibilitas bagi korporasi untuk mendanai berbagai rencana ekspansi bisnis di masa mendatang.

Kekuatan arus kas dari aktivitas operasi mencerminkan kesehatan fundamental keuangan perusahaan dalam menghadapi berbagai ketidakpastian pasar modal pada tahun depan. Nelwin Aldriansyah menjelaskan, "Artinya masih ada positive cash flow dari operations kita sebesar Rp500 miliar di tahun 2025," ungkap Nelwin