Tren Pasar

Harga Emas Rekor Lagi, Tapi Waspada Koreksi Jangka Pendek

  • Harga emas dunia naik ke rekor baru US$3.656 per ons. Saxo Bank prediksi emas berpeluang menembus US$3.800, namun risiko koreksi tetap ada menjelang rapat The Fed.
Harga Emas Pegadaian.jpg
Karyawan menunjukkan emas batangan di Galeri 24 Pegadaian, Jakarta, Rabu, 23 Maret 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID — Harga emas dunia kembali mencatatkan rekor baru seiring meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga Amerika Serikat (AS). Ole Hansen, Ahli Strategi Komoditas Saxo Bank, memperkirakan momentum teknikal dapat membawa emas menembus level US$3.800 per ons.

Meski begitu, ia mengingatkan potensi terjadinya “sell the fact” ketika pengumuman pemangkasan suku bunga resmi dirilis. Strategi ini merujuk pada aksi jual aset setelah fakta penting diumumkan, kebalikan dari “buy on the rumor”. Menurut Hansen, setiap pelemahan harga justru dapat memperkuat narasi bullish jangka panjang.

Peluang koreksi jangka pendek ini dinilai menjadi kesempatan bagi investor yang ingin mengakumulasi emas di harga lebih rendah, mengingat prospek jangka panjang logam mulia masih positif.

Reli Emas Didukung Data Ekonomi AS

Harga emas global ditutup di atas US$3.600 per ons pada akhir pekan lalu, dengan harga spot terakhir tercatat US$3.644,60 per ons (12/9), naik 1,6% dibanding pekan sebelumnya. Reli emas didorong data ekonomi AS yang mengecewakan, sehingga membuka ruang bagi Federal Reserve untuk melanjutkan pelonggaran moneter.

Analis independen Jesse Colombo menilai kenaikan emas tidak hanya karena ekspektasi pemangkasan suku bunga, tetapi juga akibat ketidakpastian arah kebijakan The Fed di tengah tekanan politik dari Presiden Donald Trump agar suku bunga diturunkan lebih agresif.

“Pelemahan signifikan di pasar tenaga kerja dan ancaman resesi dapat membuka peluang pemangkasan hingga 100 basis poin, meski ada risiko The Fed bertindak berlebihan,” jelas Colombo.

Investor kini menanti rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16–17 September. Pasar memperkirakan 96,4% peluang suku bunga AS turun 25 basis poin menjadi 4–4,25% dari level saat ini 4,25–4,5%.

Robert Minter, Direktur Strategi ETF abrdn, menyebut tren penurunan suku bunga moderat saja sudah cukup mendorong emas menembus US$3.700 per ons. Namun, peluang upside akan semakin besar jika The Fed mengambil langkah lebih agresif.

Ekspektasi ini menguat setelah revisi data ketenagakerjaan memangkas hampir 1 juta pekerjaan—tiga kali lebih rendah dari rata-rata 10 tahun dan menjadi catatan terburuk sepanjang sejarah. Kondisi ini membuka kemungkinan pemangkasan hingga 50 basis poin, meski probabilitas pasar hanya 5%.

Risiko Koreksi Tetap Ada

Sejumlah analis tetap mengingatkan risiko koreksi teknis. Lukman Otunuga dari FXTM menyebut, jika pemangkasan hanya 25 basis poin sesuai ekspektasi, arah emas akan bergantung pada proyeksi dot plot terbaru. Bila proyeksi tidak sejalan dengan ekspektasi pasar yang menginginkan tambahan pemangkasan 50 basis poin, harga emas bisa terkoreksi.

Michael Brown dari Pepperstone menambahkan, inflasi yang masih tinggi membuat peluang pemangkasan agresif kecil. Ia menilai pasar terlalu jauh mendiskon kebijakan dovish, sehingga berisiko memicu reaksi hawkish yang menekan saham, obligasi, maupun emas. Meski demikian, ia tetap melihat pelemahan emas sebagai peluang beli.

Mengutip Investing.com, harga emas spot dunia pada Senin (15/9) pukul 10.55 WIB berada di US$3.646 per ons, naik tipis 0,09% dibanding hari sebelumnya. Secara intraday, emas sempat menembus rekor tertinggi baru di US$3.656 per ons pada 12 September pukul 12.00 WIB.

Untuk harga emas domestik, Bareksa Emas mencatat harga emas fisik digital Treasury di Rp1.966.552 per gram (setelah diskon dari Rp1.976.532). Harga emas di Pegadaian berada di Rp2.008.000 per gram, emas Indogold Rp1.974.732 per gram, dan emas batangan Antam di Rp2.093.000 per gram.