Harga Emas Melejit Lagi, Apa Sebabnya? Masih Layak Dibeli?
- lembaga keuangan raksasa Goldman Sachs memproyeksikan harga emas berpotensi mencapai US$5.400 per ons pada akhir 2026

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Harga emas dunia tengah berada di level tinggi dan menjadi sorotan pelaku pasar global. Harga emas per ons hari ini, 22 Januari 2026, telah menyentuh di kisaran US$4.830 hingga US$4.836 per Ons.
Indo Primer mencatat harga emas telah naik sekitar 11 persen sepanjang tahun ini, didorong oleh meningkatnya ketidakpastian geopolitik dan kebijakan moneter global. Bahkan,
lembaga keuangan raksasa Goldman Sachs memproyeksikan harga emas berpotensi mencapai US$5.400 per ons pada akhir 2026, memperkuat sentimen bullish terhadap logam mulia tersebut.
Lonjakan harga embali menempatkan emas sebagai aset primadona di tengah situasi global yang dinilai rapuh.
Di sisi lain, tingginya harga juga memunculkan dilema klasik bagi investor, apakah ini saat yang tepat untuk membeli, atau justru waktu yang berisiko karena harga sudah terlalu mahal?
Baca juga : Melemah18,23 Poin, IHSG Hari Ini Ditutup di 8.992,18 Poin
Faktor Pendorong Kenaikan Harga Emas
Kenaikan harga emas tidak terjadi tanpa sebab. Faktor utama yang paling dominan adalah ketidakpastian kebijakan dan geopolitik global.
Konflik berkepanjangan di sejumlah kawasan, rivalitas kekuatan besar, serta kebijakan ekonomi yang sulit diprediksi mendorong investor swasta maupun bank sentral menjadikan emas sebagai aset lindung nilai (safe haven).
Dalam kondisi dunia yang tidak stabil, emas kembali dipersepsikan sebagai penyimpan nilai yang relatif aman.
Selain itu, pasar juga bereaksi terhadap ekspektasi penurunan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed). Ketika suku bunga acuan diperkirakan akan turun, daya tarik instrumen berbunga seperti obligasi ikut melemah.
Sebaliknya, emas yang tidak memberikan bunga justru menjadi lebih kompetitif karena biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang emas menjadi lebih rendah.
Faktor penting lainnya adalah pembelian emas secara masif oleh bank sentral dunia, khususnya dari negara-negara berkembang.
Upaya diversifikasi cadangan devisa dan pengurangan ketergantungan pada dolar AS membuat permintaan emas meningkat signifikan. Pembelian dalam volume besar ini secara langsung mengurangi pasokan emas di pasar, sehingga ikut mengerek harga.
Di sisi makroekonomi, tekanan inflasi dan pelemahan mata uang fiat juga memperkuat posisi emas. Secara historis, emas dipandang sebagai pelindung nilai terhadap inflasi dan depresiasi mata uang, sehingga kembali menjadi pilihan utama saat daya beli uang tergerus.
Baca juga : LQ45 Hari Ini Ditutup Menguat ke 875,11 Poin
Beli Emas Sekarang atau Tunggu?
Meski prospek jangka panjang terlihat cerah, keputusan membeli emas tidak bisa disamaratakan. Bagi investor yang berpandangan jangka panjang, emas tetap dinilai relevan sebagai instrumen pelindung nilai.
Sejarah menunjukkan emas mampu menjaga daya beli aset dalam periode ketidakpastian ekonomi dan inflasi tinggi. Proyeksi bullish dari lembaga keuangan global seperti Goldman Sachs juga menjadi sinyal bahwa pelaku pasar besar masih melihat ruang kenaikan harga.
Namun, ada pula alasan kuat untuk bersikap lebih berhati-hati. Harga emas saat ini berada di level tinggi, sehingga risiko koreksi tetap terbuka apabila sentimen global berubah, misalnya jika ketegangan geopolitik mereda atau kebijakan moneter kembali mengetat.
Untuk investor dengan tujuan jangka pendek, emas dinilai kurang ideal karena fluktuasi harga harian bisa cukup tajam dan sulit diprediksi.
Selain itu, berbeda dengan saham atau obligasi, emas tidak menghasilkan arus kas seperti dividen atau bunga. Keuntungan semata-mata berasal dari selisih harga jual dan beli, sehingga timing menjadi faktor yang sangat krusial.
Di tengah ketidakpastian waktu terbaik untuk masuk pasar, para analis menyarankan investor tidak terpaku pada upaya menebak puncak harga.
Salah satu strategi yang banyak direkomendasikan adalah Dollar Cost Averaging (DCA), yakni membeli emas secara rutin dengan nominal tetap. Pendekatan ini membantu meratakan harga beli dan mengurangi risiko membeli di harga tertinggi.
Selain itu, emas sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari portofolio yang terdiversifikasi, bukan sebagai satu-satunya instrumen investasi.
Mengombinasikan emas dengan aset lain seperti reksa dana, obligasi, atau deposito dapat membantu menyeimbangkan risiko dan potensi imbal hasil.
Yang tak kalah penting, investor perlu memahami tujuan kepemilikan emas itu sendiri. Apakah emas disiapkan sebagai dana darurat, tabungan jangka panjang, atau proteksi nilai kekayaan? Jawaban atas pertanyaan ini akan menentukan strategi, jangka waktu investasi, serta toleransi terhadap fluktuasi harga.
