GOTO Didepak MSCI Tapi Fundamental Membaik, Saham Rp50 Bisa Naik?
- GOTO keluar dari MSCI setelah saham bertahan di Rp50. Simak kinerja keuangan, laba, target 2026, risiko, dan prospek saham GOTO.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) menghadapi tekanan baru setelah dikeluarkan dari indeks MSCI Standard Index. Keputusan tersebut berlaku setelah penutupan perdagangan Senin, 31 Agustus 2026.
Di tengah tekanan dari sisi pasar, kinerja fundamental GOTO justru menunjukkan perbaikan. Perseroan mencatatkan laba selama dua kuartal berturut-turut, pertumbuhan pendapatan dan adjusted EBITDA, serta arus kas bebas yang telah berbalik positif.
GOTO membukukan laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp607,48 miliar pada semester I-2026. Capaian tersebut berbalik dari rugi bersih Rp580,01 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Namun, perbaikan kinerja belum tercermin pada pergerakan saham. Sejak 6 Mei 2026, saham GOTO masih bertahan di level Rp50, yang merupakan batas minimum harga saham di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Kondisi tersebut membuat posisi GOTO menjadi unik. Di satu sisi, fundamental perusahaan membaik, tetapi di sisi lain likuiditas saham rendah dan perseroan menghadapi perubahan indeks serta potensi penghapusan batas minimum harga saham Rp50.
Baca juga : Gojek Berangkatkan 70 Mitra Legend Tunaikan Ibadah Umroh
Bagaimana Kinerja Keuangan GOTO 2026?
Dilansir Rilis resmi GoTo, berikut kinerja keuangan GoTo 2026,
- GoTo mencatat laba bersih Rp252 miliar pada kuartal II-2026. Ini menjadi kuartal kedua berturut-turut perseroan mencatat laba. Perbaikan tersebut didukung oleh kenaikan pendapatan dan upaya perusahaan mengendalikan biaya.
- Pendapatan bersih naik 31% dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi sekitar Rp5,7 triliun.
- EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat 137% secara tahunan menjadi lebih dari Rp1 triliun. Ini merupakan pertama kalinya angka tersebut menembus Rp1 triliun.
- Jumlah pengguna yang bertransaksi dalam satu tahun mencapai 71 juta orang, meningkat 19% dibandingkan tahun sebelumnya.
- Nilai transaksi inti (Core GTV) tumbuh 83% secara tahunan menjadi sekitar Rp164 triliun.
- Untuk sepanjang 2026, GoTo mempertahankan target EBITDA Grup yang disesuaikan sebesar Rp3,2–3,4 triliun.
- Target bisnis Fintech (GoPay) dinaikkan menjadi Rp1,7–1,8 triliun, dari sebelumnya Rp1,4–1,5 triliun. Kenaikan target ini menunjukkan kinerja bisnis fintech yang lebih kuat dari perkiraan sebelumnya.
- Sebaliknya, target bisnis On-Demand Services (Gojek) diturunkan menjadi Rp1,4–1,5 triliun, dari sebelumnya Rp1,7–1,8 triliun. Penurunan target tersebut berkaitan dengan penerapan batas komisi GoRide sebesar 8%.
GoTo juga berencana membatalkan lebih dari 32 miliar saham treasuri, atau saham perusahaan yang sebelumnya dibeli kembali. Jumlah tersebut setara dengan sekitar 2,7% dari total saham GoTo yang beredar.
Pembatalan saham tersebut masih harus mengikuti aturan yang berlaku dan mendapatkan persetujuan pemegang saham. GoTo akan mengumumkan informasi lebih lanjut, termasuk jadwal dan agenda RUPSLB, setelah seluruh persiapannya selesai.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: AADI dan ADRO Terbang, HRTA Tiarap
Kinerja Gojek
Bisnis layanan Gojek atau On-Demand Services (ODS) mencatat sejumlah perkembangan positif pada kuartal II-2026.
- EBITDA yang disesuaikan mencapai Rp464 miliar, naik 41% dibandingkan tahun sebelumnya. Pendapatan bersih segmen ini mencapai sekitar Rp3,6 triliun.
- Jumlah pesanan yang berhasil diselesaikan naik 3% secara tahunan dan 8% dibandingkan kuartal sebelumnya.
- Nilai transaksi Gojek naik 2% secara tahunan menjadi sekitar Rp16,7 triliun.
- Perusahaan lebih fokus meningkatkan keuntungan dari setiap transaksi, terutama menjelang penerapan aturan komisi baru sebesar 8%.
- Bisnis Delivery atau layanan pesan-antar mencatat peningkatan margin dari 1,8% menjadi 2,1%.
- Bisnis Mobility atau layanan transportasi juga mencatat peningkatan margin dari 3% menjadi 5%.
- Pelanggan dengan tingkat pengeluaran tinggi menjadi salah satu pendorong pertumbuhan bisnis. Jumlah pengguna dengan pengeluaran sangat tinggi meningkat 21% dibandingkan tahun lalu.
- Investasi GoTo untuk menjangkau konsumen pasar massal mulai menunjukkan hasil. Setelah aturan komisi 8% berlaku, perusahaan akan lebih fokus pada produk dan layanan yang harganya terjangkau serta sering digunakan masyarakat.
Kinerja GoPay
Bisnis fintech melalui GoPay menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan GoTo.
- EBITDA yang disesuaikan GoPay naik 447% dibandingkan tahun lalu menjadi Rp481 miliar.
- Pendapatan bersih GoPay tumbuh 53% menjadi lebih dari Rp2 triliun.
- Jumlah pengguna GoPay yang aktif bertransaksi setiap bulan mencapai 28,8 juta orang, naik 29% dibandingkan tahun lalu.
- Jumlah transaksi GoPay melonjak 91% menjadi sekitar 2,4 miliar transaksi.
- Nilai transaksi inti GoPay, tidak termasuk transaksi melalui layanan pembayaran untuk merchant, meningkat 91% menjadi sekitar Rp157 triliun.
- Meningkatnya aktivitas pengguna juga mendorong pertumbuhan bisnis pinjaman. Nilai pinjaman yang masih tercatat di pembukuan GoPay tumbuh 58% menjadi sekitar Rp11 triliun.
- Kualitas pinjaman tetap terjaga. Tingkat keterlambatan pembayaran dan rasio kredit bermasalah atau NPL masih stabil.
Target GoTo Sepanjang 2026
GoTo tetap mempertahankan target EBITDA Grup yang disesuaikan sebesar Rp3,2–3,4 triliun untuk sepanjang 2026.
Namun, target masing-masing bisnis mengalami perubahan.
Target Fintech (GoPay) dinaikkan menjadi Rp1,7–1,8 triliun dari sebelumnya Rp1,4–1,5 triliun karena kinerja bisnis yang lebih baik dari perkiraan.
Sementara itu, target On-Demand Services (Gojek) diturunkan menjadi Rp1,4–1,5 triliun dari sebelumnya Rp1,7–1,8 triliun. Penurunan tersebut merupakan dampak dari penerapan batas komisi aplikasi sebesar 8%.
GoTo menegaskan bahwa target tersebut merupakan perkiraan berdasarkan kondisi bisnis saat ini. Target dapat berubah apabila terjadi perubahan kondisi bisnis, seperti persaingan yang semakin ketat, kenaikan biaya, kondisi ekonomi, inflasi, maupun perubahan kondisi ekonomi makro lainnya.
Mengapa Saham GOTO Masih Rp50?
Meskipun fundamental perusahaan membaik, saham GOTO masih tertahan di Rp50. Setidaknya terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi kondisi tersebut.
1. Likuiditas Saham Rendah
Saham GOTO telah berada di level Rp50 sejak 6 Mei 2026. Pada periode tersebut, nilai transaksi harian saham GOTO mengalami penurunan dan berada di bawah Rp50 miliar. Dalam beberapa perdagangan terakhir, nilai transaksi bahkan disebut hanya sekitar Rp3 miliar per hari.
Rendahnya likuiditas menjadi salah satu faktor yang mendapat perhatian dalam keputusan MSCI mengeluarkan GOTO dari indeksnya.
Bagi indeks global, likuiditas menjadi faktor penting karena dana yang mengikuti indeks membutuhkan kemampuan untuk melakukan transaksi pada saham yang menjadi konstituen indeks.
2. Antrean Jual Menumpuk
Harga Rp50 juga menjadi titik penting karena merupakan batas minimum harga saham di BEI. Antrean jual pada level tersebut dilaporkan mencapai ratusan juta lot. Kondisi ini membuat tekanan jual sulit terserap secara cepat karena minat beli yang tersedia relatif terbatas.
Selama batas minimum Rp50 masih berlaku, transaksi saham GOTO menjadi terkonsentrasi pada satu level harga tersebut.
3. Tekanan Investor Asing
Investor asing juga menjadi salah satu sumber tekanan terhadap saham GOTO. Sepanjang 2026, investor asing tercatat melakukan penjualan bersih saham GOTO hingga sekitar Rp1,74 triliun.
Tekanan tersebut terjadi ketika kinerja fundamental perseroan mulai menunjukkan perbaikan. Chief Financial Officer GOTO Simon Ho sebelumnya menyatakan bahwa harga saham GOTO saat ini belum mencerminkan fundamental perusahaan dan dinilai undervalued.
Apakah Saham GOTO Masih Berpotensi Naik?
Keluarnya GOTO dari MSCI bukan disebabkan oleh penurunan kinerja fundamental perusahaan. Keputusan tersebut berkaitan dengan aspek teknis indeks, terutama likuiditas saham dan kondisi harga yang berada pada batas minimum Rp50.
Dengan harga saham yang sulit bergerak dan likuiditas yang rendah, kemampuan investor indeks untuk melakukan transaksi dan mereplikasi posisi GOTO menjadi terbatas.
Keputusan tersebut terjadi ketika GOTO justru sedang menunjukkan perbaikan kinerja keuangan.
Perseroan telah membukukan laba dalam dua kuartal berturut-turut, mencatatkan adjusted EBITDA yang meningkat, serta membukukan adjusted free cash flow positif.
Baca juga : IHSG Dibuka Stagnan Hari Ini, OILS dan LAPD Ngebut
Sejumlah indikator membuat saham GOTO masih mendapatkan perhatian analis. Berdasarkan konsensus Bloomberg yang dikutip dalam analisis pasar, sekitar 77% analis memberikan rekomendasi buy terhadap saham GOTO.
Target harga rata-rata berada di sekitar Rp80 per saham, atau sekitar 60% di atas harga Rp50. Sejumlah target harga individual yang tercatat antara lain UOB Kay Hian sebesar Rp78, Macquarie Rp72, dan BRI Danareksa Rp70 per saham.
Selain prospek profitabilitas, GOTO juga memiliki kas dan setara kas sebesar Rp23,7 triliun pada akhir Juni 2026. Perseroan juga memperoleh persetujuan pemegang saham untuk melakukan pembelian kembali saham atau buyback dengan nilai maksimal Rp3,5 triliun untuk periode 2026–2027.
Namun, target harga analis tidak menjamin pergerakan saham akan mencapai level tersebut karena harga saham tetap dipengaruhi kondisi pasar, likuiditas, sentimen investor dan kinerja perusahaan.

Chrisna Chanis Cara
Editor
