Tren Pasar

Ekspansi Jumbo BUVA: Incar MSCI Small Cap dan Hotel Baru

  • BUVA ekspansi agresif di Bali dan Labuan Bajo lewat rights issue jumbo. Simak potensi masuk indeks MSCI Small Cap dan target harga saham Rp3.000 dari analis.
Ubud
Resor Alila Ubud dari PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA). (buvagroup.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) tengah gencar memperkuat ekspansi bisnis recurring income dalam lima tahun ke depan. Langkah strategis ini dilakukan melalui serangkaian aksi korporasi besar dan pengembangan proyek properti mewah di kawasan Bali serta Labuan Bajo.

Samuel Sekuritas dalam riset terbarunya menyoroti langkah agresif perseroan yang mengalokasikan dana rights issue senilai Rp600 miliar. Dana jumbo tersebut disiapkan khusus untuk mendukung akuisisi lahan premium dan sinergi pengembangan aset unggulan yang dimiliki perseroan saat ini.

Rencana besar ini dinilai akan meningkatkan valuasi aset perseroan secara signifikan seiring pulihnya sektor pariwisata nasional pasca pandemi. Tak ayal, pelaku pasar pun melihat potensi pertumbuhan jangka panjang yang solid dari integrasi aset baru dengan portofolio eksisting BUVA.

1. Rights Issue dan Akuisisi Bali

Perseroan mengalokasikan dana sebesar Rp416 miliar dari hasil rights issue untuk mengakuisisi 99,99% saham PT Bukit Permai Properti pada November 2025. Langkah ini merupakan bagian vital dari strategi inorganik perusahaan untuk menguasai cadangan lahan strategis di Pulau Dewata.

PT Bukit Permai Properti diketahui memiliki landbank seluas 19,3 hektare di kawasan Uluwatu yang lokasinya sangat berdekatan dengan Alila Villas Uluwatu. Aset ini merupakan flagship BUVA yang selama ini menjadi kontributor terbesar bagi pendapatan perseroan sepanjang tahun buku 2024 lalu.

Analis Samuel Sekuritas Ahnaf Yassar menilai luas lahan BPP yang tiga kali lebih besar dari Alila menawarkan potensi pengembangan masif. "Potensi pengembangan di kawasan tersebut diperkirakan dapat menghasilkan harga jual premium dan menguatkan prospek pertumbuhan BUVA," tulisnya dalam riset yang dirilis pada Senin, 27 Januari 2026. 

2. Ekspansi Labuan Bajo

Selain fokus di Bali perseroan juga melebarkan sayap ke Labuan Bajo melalui anak usahanya yaitu Bukit Savanna Raya. Mereka membeli lahan seluas 2,7 hektare senilai Rp112 miliar untuk menangkap peluang pertumbuhan pariwisata di destinasi super prioritas tersebut.

Lahan strategis tersebut rencananya akan dimanfaatkan untuk pembangunan hotel baru yang memiliki kapasitas akomodasi sebanyak 126 kamar modern. Proyek ini diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan berulang baru yang memperkuat arus kas operasional perseroan di masa mendatang.

Pengembangan hotel ini diproyeksikan memberikan dampak positif yang signifikan terhadap kinerja keuangan perseroan mulai dua tahun ke depan. Manajemen memperkirakan potensi kenaikan laba pra pajak sebesar 16,8% pada tahun 2026 dan berlanjut 17,3% pada tahun 2027 nanti.

3. Potensi Masuk MSCI

Aksi korporasi rights issue BUVA juga membuka peluang besar bagi perseroan untuk masuk dalam perhitungan indeks global MSCI Small Cap. MSCI dijadwalkan akan mengumumkan hasil kajian indeks berikutnya pada tanggal 10 Februari 2026 dan berlaku efektif Maret nanti.

Peluang ini didukung oleh kenaikan harga saham BUVA yang melonjak drastis sebesar 176% sejak bulan November tahun lalu. Selain itu peningkatan adjusted free float market cap juga menjadi faktor penentu utama dalam penilaian kriteria inklusi indeks tersebut.

Nilai kapitalisasi pasar bebas perseroan kini tercatat mencapai US$543 juta atau jauh di atas ambang batas minimal US$330 juta. Hal ini memperkuat posisi BUVA sebagai kandidat kuat penghuni baru indeks yang menjadi acuan banyak manajer investasi global.

4. Likuiditas Transaksi

Selain kapitalisasi pasar faktor likuiditas perdagangan saham juga menjadi sorotan positif dalam evaluasi kelayakan masuk indeks global tersebut. Aktivitas transaksi saham BUVA menunjukkan peningkatan signifikan yang mencerminkan tingginya minat pelaku pasar terhadap prospek bisnis perseroan ke depan.

Data perdagangan menunjukkan selama dua belas bulan terakhir rata rata nilai transaksi harian BUVA mencapai angka US$6,1 juta per hari. Angka ini sudah jauh melebihi batas minimum likuiditas yang dipersyaratkan oleh MSCI yakni sebesar US$1 juta per hari.

Jika berhasil masuk ke dalam indeks MSCI Small Cap maka visibilitas perseroan di mata investor global akan meningkat pesat. Hal ini berpotensi menarik aliran dana pasif atau passive flow dari berbagai fund asing yang berbasis pada indeks tersebut.

5. Prospek dan Rekomendasi

Prospek bisnis BUVA turut ditopang oleh pemulihan sektor pariwisata Bali yang diproyeksikan tumbuh positif dalam lima tahun ke depan. Estimasi pertumbuhan majemuk tahunan atau CAGR pariwisata Bali diperkirakan mencapai angka 8,3% pada periode tahun 2025 hingga 2030.

Kombinasi antara ekspansi agresif dan pemulihan industri pariwisata mendorong Samuel Sekuritas memberikan pandangan positif terhadap saham emiten properti ini. Mereka merekomendasikan strategi speculative buy untuk saham BUVA dengan mempertimbangkan potensi kenaikan harga yang masih cukup terbuka lebar.

Analis menetapkan target harga saham BUVA berada di level Rp3.000 per lembar saham dalam jangka waktu menengah. Target valuasi ini setara dengan rasio price to book value atau PBV sebesar 33,7 kali yang mencerminkan optimisme pasar premium.