Dividen Siluman: Memahami Keunggulan Share Buyback Dibanding Dividen Tunai
- Tak hanya dividen tunai, share buyback juga menjadi cara perusahaan mengembalikan nilai kepada pemegang saham. Disebut “dividen siluman”, aksi ini menawarkan efisiensi pajak dan potensi kenaikan nilai investasi yang kerap luput dari perhatian investor.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Di dunia investasi saham, fokus seringkali tertuju pada dividen tunai sebagai bukti nyata keuntungan. Saham yang rajin membagikan dividen tunai umumnya disukai investor. Namun, ada cara lain perusahaan mengembalikan nilai yang seringkali lebih efisien: share buyback.
Pembelian kembali saham (buyback) kerap dianggap abstrak. Padahal, aksi korporasi ini bisa diibaratkan sebagai "dividen siluman" yang menawarkan keuntungan signifikan, terutama dari sisi pajak dan peningkatan nilai kepemilikan. Berikut adalah lima poin penting untuk memahaminya.
1. Bias Psikologis dan Jebakan Dividen Tunai
Investor cenderung lebih menyukai menerima kas dividen secara langsung. Ini adalah bias psikologis "uang di tangan". Padahal, dividen tunai langsung dikenakan pajak final (PPh), mengurangi jumlah bersih yang diterima dan potensi compounding dana tersebut di masa depan.
Selain itu, saat perusahaan membagikan dividen tunai, nilai perusahaan secara teori turun sebesar jumlah dividen. Hal ini sering tercermin pada penurunan harga saham setelah tanggal cum date, sebuah fenomena yang dikenal sebagai dividend trap.
2. Mekanisme Kerja 'Dividen Siluman'
Berbeda dengan dividen tunai, mekanisme buyback bekerja secara tidak langsung. Perusahaan menggunakan kas internalnya untuk membeli kembali sahamnya sendiri dari pasar. Akibatnya, jumlah saham yang beredar di publik akan menyusut secara bertahap.
Penyusutan jumlah saham beredar memiliki dua dampak positif. Pertama, Laba Per Saham (EPS) secara otomatis meningkat. Kedua, persentase kepemilikan investor yang tidak menjual sahamnya secara otomatis bertambah tanpa perlu mengeluarkan modal tambahan.
3. Keunggulan Utama: Efisiensi Pajak
Inilah keunggulan paling signifikan dari buyback. Keuntungan investor datang dalam bentuk potensi kenaikan harga saham (capital gain). Pajak atas capital gain ini bersifat ditangguhkan (tax deferral) dan baru dibayarkan saat investor menjual sahamnya.
Hal ini memberikan fleksibilitas penuh kepada investor untuk menentukan kapan merealisasikan keuntungan dan membayar pajak. Berbeda dengan dividen tunai yang pajaknya langsung dipotong saat diterima, mengurangi jumlah bersih yang bisa diinvestasikan kembali.
4. Kapan Buyback Menjadi Bumerang?
Namun, buyback tidak selalu positif. Aksi ini bisa menjadi bumerang jika perusahaan melakukannya dengan cara menambah utang secara berlebihan. Selain itu, buyback juga bisa merugikan jika dilakukan saat harga saham sudah sangat mahal (overvalued).
Dalam kondisi tersebut, kas perusahaan mungkin lebih baik dialokasikan untuk investasi internal, membayar utang, atau dibagikan sebagai dividen tunai. Keputusan buyback harus selalu dianalisis dalam konteks valuasi dan kondisi keuangan perusahaan secara keseluruhan.
5. Memahami Alokasi Modal Perusahaan
Share buyback adalah salah satu alat penting dalam alokasi modal perusahaan. Memahaminya membantu investor bergerak melampaui paradigma "pemburu dividen tunai" semata. Investor cerdas akan mengevaluasi semua cara perusahaan mengembalikan nilai kepada pemegang sahamnya.

Alvin Bagaskara
Editor
