Tren Pasar

Destry Damayanti Calon Gubernur BI: Rupiah Menguat, IHSG Tertekan

  • Mengapa rupiah menguat saat IHSG justru anjlok? Simak analisis dampak pencalonan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur BI terhadap pasar.
IHSG Ditutup Menguat-1.jpg
Karyawan beraktivitas dengan latar layar monitor pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) di gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, 8 September 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Pengajuan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia (BI) oleh Presiden Prabowo Subianto mendapat respons yang berbeda dari dua pasar keuangan Indonesia.

Di satu sisi, pasar valuta asing dan obligasi menyambut positif kepastian kepemimpinan bank sentral. Rupiah menguat tajam setelah pemerintah resmi menyerahkan Surat Presiden (Surpres) kepada DPR RI.

Namun di sisi lain, pasar saham justru menunjukkan respons berbeda. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan Senin, 10 Agustus 2026, dan tekanan berlanjut hingga penutupan sesi I dan II perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026.

Pengajuan Destry hingga Respons Pasar

Pada Senin, 10 Agustus 2026, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyerahkan Surpres kepada DPR RI yang mengusulkan Destry Damayanti sebagai calon tunggal Gubernur Bank Indonesia.

Tak lama setelah pengumuman tersebut, rupiah menguat sekitar 0,79%-0,81% dan ditutup di kisaran Rp17.755 per dolar Amerika Serikat (AS). Penguatan ini sekaligus menghapus sebagian pelemahan yang terjadi setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri sebagai Gubernur BI pada akhir Juli lalu.

Sebaliknya, IHSG justru ditutup melemah 0,69% ke level 6.365,37 setelah sebelumnya sempat menguji area 6.462 tetapi gagal menembus level tersebut.

Baca juga : Blok Masela Bergulir, Jadi Motor Ekonomi Timur Indonesia

Tekanan masih berlanjut pada perdagangan Selasa, 11 Agustus 2026. Hingga penutupan sesi I, IHSG berada di level 6.309,87 atau melemah 0,87%. Pelemahan berlanjut pada sesi II, hingga pukul 15.20 WIB, IHSG turun lebih dalam ke posisi 6.244 atau terkoreksi 1,94%, mencerminkan tekanan jual yang masih mendominasi pasar. Sementara rupiah bergerak di kisaran Rp17.796–Rp17.860 per dolar AS.

Pergerakan tersebut menunjukkan bahwa pasar tidak memberikan respons yang seragam terhadap kabar pencalonan Destry.

Mengapa Rupiah Justru Menguat?

Bagi pasar valuta asing, yang paling penting bukan siapa nama gubernurnya semata, melainkan apakah arah kebijakan moneter akan tetap kredibel dan berkelanjutan. Dalam hal ini, Destry dinilai memenuhi ekspektasi pasar. Ada beberapa alasan mengapa pengajuan Destry diterima positif,

1. Memberikan kepastian arah kebijakan

Destry bukan figur baru di Bank Indonesia. Ia menjabat sebagai Deputi Gubernur Senior sejak 2019 dan kini menjadi Pejabat Sementara Gubernur BI setelah Perry Warjiyo mengundurkan diri.

Dengan latar belakang tersebut, investor melihat peluang perubahan kebijakan moneter secara drastis relatif kecil. Faktor continuity atau kesinambungan kebijakan menjadi alasan utama mengapa pasar merespons positif.

2. Mengurangi ketidakpastian transisi kepemimpinan

Sejak pengunduran diri Perry Warjiyo pada akhir Juli, pasar berada dalam fase menunggu siapa yang akan memimpin BI secara definitif. Pengajuan Destry mengurangi ketidakpastian tersebut sehingga premi risiko di pasar valas mulai menurun.

3. Rekam jejak yang dinilai kredibel

Sebelum masuk BI, Destry memiliki pengalaman sebagai ekonom, Kepala Ekonom Bank Mandiri dan Mandiri Sekuritas, anggota Dewan Komisioner LPS, hingga Deputi Gubernur Senior BI.

Rekam jejak tersebut memberi keyakinan bahwa stabilitas nilai tukar, inflasi, dan kebijakan moneter akan tetap menjadi prioritas.

4. Pasar obligasi juga ikut merespons

Penguatan rupiah umumnya diikuti turunnya imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN). Hal ini menunjukkan investor obligasi melihat risiko kebijakan moneter menjadi lebih rendah dibandingkan ketika posisi Gubernur BI masih kosong.

Baca juga : Jejak Ekonomi Destry Damayanti: Dari Citibank hingga Calon Gubernur BI

Mengapa IHSG Malah Turun?

Berbeda dengan pasar valuta asing, pasar saham tidak hanya mempertimbangkan isu kepemimpinan BI. Investor saham juga memperhitungkan valuasi, kinerja emiten, data ekonomi, hingga sentimen global. Karena itu, ada sejumlah faktor yang membuat IHSG bergerak berlawanan.

1. Aksi profit taking

Sebelum pengumuman calon Gubernur BI, IHSG telah mengalami penguatan. Ketika indeks gagal menembus area resistance sekitar 6.462, banyak investor memilih merealisasikan keuntungan. Tekanan jual tersebut menjadi penyebab utama pelemahan indeks.

2. Saham perbankan menjadi pemberat

Sektor keuangan justru menjadi kontributor terbesar pelemahan IHSG. Saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBCA, BMRI, dan BBNI mengalami tekanan jual sehingga menghambat penguatan indeks. Padahal sektor perbankan biasanya menjadi kelompok yang paling sensitif terhadap arah kebijakan Bank Indonesia.

3. Data ekonomi domestik

Sentimen pasar saham juga dipengaruhi oleh pelemahan indeks kepercayaan konsumen. Data tersebut memunculkan kekhawatiran bahwa pemulihan konsumsi domestik belum berlangsung sekuat yang diharapkan.

4. Risiko global

Di saat bersamaan, pasar global menghadapi kenaikan tensi geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump kembali melontarkan tuntutan kepada Iran terkait kompensasi perang.

Kondisi tersebut memicu kenaikan harga minyak dunia mendekati 5% dan meningkatkan sikap hati-hati investor terhadap aset berisiko.

5. Investor masih menunggu proses DPR

Pengajuan Surpres belum berarti Destry resmi menjabat sebagai Gubernur BI. Investor masih menunggu proses fit and proper test di DPR sebelum melakukan penyesuaian valuasi yang lebih besar terhadap saham-saham domestik.

Baca juga : Rupiah Melemah, Pasar Tunggu Kepastian Gubernur BI dan Inflasi AS

Apa Artinya bagi Investor?

Bagi investor, pergerakan dua pasar tersebut memberikan dua sinyal yang berbeda. Penguatan rupiah menunjukkan kepercayaan terhadap arah kebijakan Bank Indonesia mulai pulih setelah kepastian calon gubernur muncul.

Di sisi lain, pelemahan IHSG menunjukkan investor saham masih memilih bersikap wait and see. Pelaku pasar masih menunggu sejumlah faktor, mulai dari hasil uji kelayakan Destry di DPR, arah kebijakan BI setelah kepemimpinan definitif terbentuk, perkembangan likuiditas domestik, hingga dinamika ekonomi global.

Artinya, pencalonan Destry memang menjadi katalis positif bagi pasar keuangan Indonesia, tetapi dampaknya kemungkinan tidak terjadi secara instan pada seluruh kelas aset.

Untuk sementara, pasar obligasi dan valuta asing telah lebih dulu memberikan sinyal optimisme. Adapun pasar saham masih membutuhkan konfirmasi tambahan sebelum memberikan penilaian ulang (re-rating) terhadap aset-aset Indonesia.