Tren Pasar

BYAN Longsor, Harta Low Tuck Kwong Raib Rp29 T dalam 5 Hari

  • Saham BYAN merosot tajam hingga Rp10.450. Apa penyebabnya? Simak pengaruh RKAB, rumor akuisisi dan prospek Bayan Resources.
IMG_6827.webp
Low Tuck Kwong (Dok/Forbes Asia)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) kembali berada dalam tekanan jual. Hingga penutupan sesi I perdagangan Selasa (15/9/2026), saham emiten batu bara milik Low Tuck Kwong tersebut turun 5,86% ke level Rp10.450.

Penurunan itu memperpanjang koreksi BYAN setelah pada perdagangan Senin (14/9/2026) sahamnya anjlok 10,12% ke Rp11.100. Jika dibandingkan dengan level tertinggi Rp17.275 pada 18 Agustus 2026, harga saham BYAN telah terkoreksi sekitar 41,7%.

Secara month-to-date (MTD), saham BYAN telah turun sekitar 28,3%, sedangkan secara year-to-date (YTD) koreksinya mencapai sekitar 34,24%. Pada sesi I Selasa, BYAN bahkan sempat menyentuh level terendah Rp10.075. 

Kapitalisasi pasar perseroan yang pada 18 Agustus mencapai sekitar Rp575,83 triliun juga menyusut menjadi Rp374,17 triliun pada 14 September atau tergerus sekitar Rp201,66 triliun.

Tekanan terhadap BYAN terutama dipicu dua sentimen besar, yakni persoalan persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 serta rumor akuisisi dengan harga yang jauh di bawah nilai pasar.

Baca juga : Rupiah Fluktuatif, Pasar Cerna Pergantian Menteri Keuangan

RKAB 2026 Jadi Beban Utama BYAN

Faktor fundamental yang paling diperhatikan pasar adalah belum terbitnya persetujuan perubahan RKAB 2026 untuk tiga anak usaha Bayan, yakni PT Tiwa Abadi, PT Tanur Jaya, dan PT Fajar Sakti Prima.

Direktur BYAN Low Yi Ngo mengatakan persetujuan RKAB diperlukan agar anak usaha dapat menjalankan kegiatan produksi batu bara secara sah. Kondisi tersebut kemudian memengaruhi kemampuan perseroan memenuhi kewajiban pasokan kepada pelanggan.

Pada 11 September 2026, BYAN menyatakan force majeure atau kondisi luar biasa diluar kendali kepada pelanggan terkait kewajiban pasokan batu bara berdasarkan Coal Supply Agreement.

Direktur PT Zubay Mining Indonesia Muhammad Emil menilai hambatan RKAB dapat terjadi pada perusahaan yang membutuhkan tambahan atau perubahan kuota produksi. Namun, dampaknya saat ini terbatas pada tiga anak usaha tersebut dan tidak berarti seluruh kegiatan produksi Bayan berhenti.

Persoalan tersebut terjadi ketika pemerintah juga mengetatkan target produksi batu bara nasional. Produksi 2026 diarahkan sekitar 600 juta ton, jauh di bawah realisasi sekitar 790 juta ton pada 2025.

Rumor Akuisisi Diskon 80% Tekan Sentimen

Selain masalah RKAB, BYAN menghadapi tekanan dari rumor akuisisi oleh entitas yang dikendalikan pengusaha Andi Syamsuddin Arsyad atau Haji Isam.

Entitas tersebut dikabarkan mengajukan penawaran tunai sekitar US$3 miliar atau sekitar Rp52,5 triliun untuk mengambil 62,2% saham BYAN milik Low Tuck Kwong dan putrinya, Elaine Low.

Jika dibandingkan dengan kapitalisasi pasar BYAN sekitar US$26 miliar saat rumor muncul, nilai 62,2% saham tersebut secara teoritis mencapai sekitar US$16,12 miliar. Artinya, tawaran US$3 miliar mencerminkan diskon sekitar 80%.

Pengamat Pasar Modal Hendra Wardana mengingatkan investor agar tidak langsung menganggap Bayan akan dijual US$3 miliar. Menurutnya, informasi tersebut dapat saja masih berada dalam tahap negosiasi.

Corporate Secretary BYAN Jenny Quantero juga menyatakan perseroan tidak mengetahui adanya rencana akuisisi tersebut. Namun, pemegang saham pengendali dapat mempertimbangkan berbagai peluang untuk memaksimalkan investasi.

Emiten terafiliasi Haji Isam, PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR), turut membantah adanya rencana akuisisi BYAN. KISI Sekuritas menilai kombinasi deklarasi force majeure dan isu akuisisi dengan nilai diskon jumbo menjadi pemicu utama tekanan saham BYAN.

Baca juga : Meneropong Prospek IHSG Usai Suahasil Nazara Geser Purbaya

Kekayaan Low Tuck Kwong Ikut Tertekan

Anjloknya saham BYAN juga berdampak terhadap nilai kekayaan Low Tuck Kwong sebagai pemegang saham pengendali. Berdasarkan data Forbes Real-Time Billionaires, kekayaan Low Tuck Kwong tercatat sekitar US$19,1 miliar pada 7 September 2026. Angka tersebut turun menjadi US$18,7 miliar pada 9 September dan sekitar US$17,4 miliar pada 11 September.

Dengan demikian, kekayaannya berkurang sekitar US$1,7 miliar atau setara Rp29,75 triliun dalam periode 7-11 September.

Jika hanya menghitung dampak penurunan kapitalisasi pasar BYAN dari Rp575,83 triliun pada 18 Agustus menjadi Rp374,17 triliun pada 14 September, nilai pasar perseroan telah tergerus Rp201,66 triliun.

Dengan kepemilikan langsung Low Tuck Kwong sekitar 40,251%, penurunan tersebut secara teoritis mengurangi nilai kepemilikannya sekitar Rp81,2 triliun. Namun, angka tersebut berbeda dengan perubahan net worth Forbes karena kekayaan miliarder mencakup aset dan investasi lainnya. Low Tuck Kwong masih tercatat sebagai orang terkaya di Indonesia.

Di tengah tekanan tersebut, BYAN masih memiliki sejumlah fundamental positif. Pada semester I-2026, perseroan membukukan pendapatan konsolidasi sekitar US$1,74 miliar, dengan penjualan batu bara mencapai US$1,73 miliar.

Perseroan juga menargetkan produksi batu bara sekitar 30-76 juta ton pada 2026, bergantung pada persetujuan RKAB.

Hendra Wardana menilai daya tarik Bayan tidak hanya berasal dari cadangan batu bara, tetapi juga skala produksi, infrastruktur logistik, efisiensi, dan kemampuan menghasilkan arus kas.

Baca juga : Data dan Analisis Harga Emas Antam Hari Ini 15 September 2026

Ia memberikan pandangan speculative buy untuk jangka pendek hingga menengah dengan target awal Rp15.000. Secara teknikal, BYAN juga dinilai berpotensi bergerak di kisaran Rp13.700-Rp13.800.

Namun, investor tetap menghadapi sejumlah risiko, mulai dari ketidakpastian RKAB, tekanan jual asing, rumor akuisisi dengan valuasi rendah, hingga prospek jangka panjang batu bara termal di tengah transisi energi global.

Dengan demikian, dua katalis utama BYAN saat ini adalah kepastian RKAB dan kejelasan rumor akuisisi. Jika persetujuan RKAB segera terbit dan isu akuisisi mereda, tekanan terhadap saham berpotensi berkurang. Sebaliknya, semakin lama ketidakpastian berlangsung, semakin besar risiko volatilitas BYAN.