Tren Pasar

Bursa Asia Berdarah Akibat Perang Iran-AS

  • Bursa Timur Tengah ditutup akibat perang Iran. Data Bloomberg mencatat IHSG anjlok 1,75% bersama indeks saham Nikkei, Straits Times, dan bursa Asia lainnya.
RATZWZOEG5DHVAU3TBGGIQJW3U.jpg
Ilustrasi saham gorengan. (Ajaib)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Eskalasi konflik militer antara Amerika Serikat dan Iran memicu sentimen negatif di pasar finansial global pada perdagangan Senin, 2 Maret 2026. Hujan rudal dan serangan udara di kawasan Timur Tengah tersebut secara langsung meningkatkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap stabilitas keamanan kawasan.

Merespons kondisi darurat tersebut, sejumlah otoritas pasar modal di kawasan semenanjung Arab mengambil langkah pembekuan operasional. Penghentian aktivitas perdagangan sementara ini dilakukan sebagai langkah mitigasi strategis untuk melindungi pasar dari volatilitas valuasi yang ekstrem akibat sentimen kepanikan perang.

Kepanikan dari pusat konflik tersebut dengan cepat menjalar dan menekan kinerja sektoral bursa saham regional Asia. Berdasarkan data pergerakan pasar yang dihimpun TrenAsia.id dari Bloomberg, mayoritas indeks acuan berbagai negara Asia Pasifik hingga Asia Tenggara serempak terperosok ke zona merah.

Penutupan Bursa Timur Tengah

Tindakan preventif paling tegas diambil oleh otoritas pasar modal Uni Emirat Arab menyusul eskalasi serangan di kawasan Teluk. Bursa Abu Dhabi Securities Exchange dan Dubai Financial Market secara resmi diinstruksikan untuk ditutup selama dua hari penuh pada 2-3 Maret 2026.

Langkah penutupan bursa tersebut diambil guna memantau situasi keamanan sekaligus menghindari aksi jual berlebih dari para investor. Di Arab Saudi, bursa utama Tadawul tetap beroperasi secara normal namun langsung anjlok lebih dari 4% saat pembukaan ke kisaran 10.280 poin di tengah laporan gangguan.

Sementara itu, aktivitas perdagangan di TASE yang menjadi bursa efek nasional Israel dilaporkan mengalami gangguan dengan posisi indeks tertahan di level 4.075 poin. Di Qatar dan Bahrain, otoritas belum memberikan pengumuman penutupan spesifik, namun kerusakan infrastruktur penerbangan menahan aktivitas pasar secara riil.

Kejatuhan Sektoral di IHSG

Di pasar domestik, indikator utama kinerja bursa Indonesia yakni IHSG langsung dibuka melemah sebesar 1,75% menuju posisi 8.092,62 pada pukul 09:00 WIB. Hampir seluruh indeks sektoral mencatatkan pelemahan yang menekan pasar, kecuali sektor energi yang justru naik ringan berkat melonjaknya harga minyak mentah.

Sektor barang konsumen siklikal menjadi pemberat utama dengan penurunan terdalam sebesar 5,21%, yang salah satunya disumbang oleh anjloknya saham MAPI sebesar 5,22%. Pelemahan bursa turut diperparah oleh tekanan dari sektor properti yang merosot 3,13% serta sektor infrastruktur yang mencatatkan penurunan sebesar 3,05%.

Aksi jual juga melanda saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBRI, BMRI, dan BBCA yang secara kumulatif memberikan beban terhadap pergerakan indeks. Di jajaran saham unggulan LQ45, tekanan jual masif turut menghantam saham INKP yang anjlok 5,60% dan saham BRPT yang tergelincir 4,52%.

Tekanan Pasar Saham Jepang

Sentimen negatif dari Timur Tengah ini turut menghantam pasar ekuitas Jepang dengan tekanan jual yang masif di lantai bursa. Nikkei 225, indeks acuan yang berisi 225 perusahaan terbesar di negara tersebut, langsung terperosok ke zona merah dengan pelemahan tajam 2,07% ke level 57.628,07.

Penurunan signifikan yang dialami oleh indikator utama pasar saham Jepang tersebut tercatat sebagai koreksi pembukaan terdalam sejak tahun 2022. Kondisi pelemahan yang serupa turut menekan TOPIX, indeks pasar saham komprehensif Bursa Efek Tokyo, yang merosot tajam sebesar 2,10% menuju posisi 4.015,92 pada awal sesi.

Tekanan berat di bursa saham Tokyo ini utamanya dimotori oleh aksi lepas kepemilikan saham pada emiten sektor keuangan dan energi. Pelaku pasar di Jepang merespons kepanikan terhadap ancaman terganggunya rantai logistik global akibat meluasnya eskalasi militer di kawasan negara-negara produsen minyak tersebut.

Pelemahan Bursa Asia Tenggara

Efek rambatan krisis keamanan maritim ini memberikan beban berat bagi pergerakan bursa saham di kawasan Asia Tenggara secara keseluruhan. Selain kejatuhan tajam indikator utama IHSG di Jakarta, tekanan jual berskala masif dengan ritme yang sama turut terpantau melanda pusat finansial Singapura.

Indeks Straits Times yang menjadi patokan kinerja 30 perusahaan terbesar di bursa Singapura mengalami penurunan nilai sebesar 1,25% ke kisaran level 3.785. Pelemahan serentak indikator saham di kawasan Asia Tenggara ini didorong oleh sikap kehati-hatian investor dalam merespons ketidakpastian logistik internasional.

Para pelaku pasar modal secara umum terpantau menghindari instrumen aset berisiko tinggi dan beralih mengamankan portofolio mereka sembari menunggu redanya konflik. Kepanikan yang bersumber dari blokade jalur maritim dunia ini memaksa pemodal mengevaluasi kembali eksposur risiko mereka pada bursa regional secara komprehensif.

Ketahanan dan Penurunan Terbatas

Di tengah tertekannya mayoritas pasar regional, bursa saham Tiongkok justru menampilkan pergerakan berlawanan arah. Shanghai Composite, indeks utama pasar saham Tiongkok daratan, bergerak relatif stabil dan membukukan penguatan tipis 0,15% untuk melampaui level 4.160 berkat dukungan kebijakan stimulus domestik.

Pelemahan moderat diperlihatkan oleh pasar ekuitas Australia, di mana ASX 200 yang melacak 200 saham terbesar turun 0,38% ke 8.456,40 akibat tekanan sektor komoditas. Sementara itu, Hang Seng sebagai indeks acuan bursa Hong Kong mencatatkan pergerakan kontrak berjangka yang turun 0,63% ke 26.465.

Tidak seluruh bursa merespons langsung, di mana Kospi 200 yang mewakili 200 saham unggulan bursa Korea Selatan tutup lantaran libur nasional meski derivatifnya turun 1,8%. Pelaku pasar global kini memantau ketat langkah otoritas bursa menyikapi eskalasi geopolitik yang mengancam stabilitas pada hari berikutnya.