BMRI Tebar Dividen Jumbo, Simak Peluang dan Risiko Investasinya
- Dengan PER hanya 7x dan ROE di atas 20%, BMRI dinilai undervalued. Cek potensi dan risikonya di sini.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - PT Bank Mandiri (Persero) Tbk dengan kode saham BMRI kembali menjadi sorotan pasar modal Indonesia. Tepat pada 29 April 2026, Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) menyetujui pembagian dividen total sebesar Rp 44,47 triliun, salah satu yang terbesar dalam sejarah emiten perbankan nasional.
Di saat yang sama, laporan keuangan kuartal I-2026 memperlihatkan laba bersih yang melejit hingga 16,6% secara tahunan. Jadi, apakah BMRI masih layak dikoleksi investor? Berikut bedah lengkapnya.
Mengapa BMRI Masih relevan bagi investor?
- Bank dengan aset terbesar di Indonesia, mencapai Rp 2.432 triliun per Maret 2026
- Salah satu komponen utama Indeks LQ45 dan IDX30 di Bursa Efek Indonesia
- Saham dividend yield tertinggi di antara emiten perbankan besar Indonesia, mencapai 10,77%
- Masuk dalam ekosistem Danantara sebagai BUMN strategis nasional
- Konsisten membagikan dividen setiap tahun sejak 2004 tanpa jeda
Berapa Dividen BMRI 2026 dan Kapan Dibagikan?
Pertanyaan diatas jadi pertanyaan paling banyak dicari investor ritel saat ini. berikut jawaban lengkapnya,
RUPST yang digelar 29 April 2026 menetapkan total dividen sebesar Rp 44,47 triliun, setara dengan 79% dari laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp 56,3 triliun.
Rincian Pembagian Dividen BMRI 2026:
- Total dividen per saham (DPS): Rp 476,95 naik dari Rp 466,18 pada tahun buku 2024
- Dividen interim (sudah dibayar): Rp 9,3 triliun pada 14 Januari 2026
- Dividen final (dibagikan pasca-RUPST): Rp 35,17 triliun
- Dividend yield: 10,77% berdasarkan harga penutupan Rp 4.430 pada hari RUPST
- Dividend Payout Ratio (DPR): 79% melampaui guidance awal manajemen di kisaran 70–80%
Perbandingan dividend yield BMRI vs instrumen lain:
- Deposito bank 12 bulan: sekitar 4–5%
- Obligasi pemerintah (SBN): sekitar 6–7%
- Median dividend yield perbankan nasional: sekitar 6%
- BMRI dividend yield 2026: 10,77%
Dividend yield BMRI jauh melampaui instrumen pendapatan tetap konvensional, menjadikannya salah satu pilihan paling kompetitif di pasar modal Indonesia saat ini.
Baca juga : Bank Mandiri Perkuat Intermediasi, Kinerja Solid 2025
Bagaimana Kinerja Laba BMRI?
Laba Bersih Tahun Buku 2025
Laba bersih konsolidasi Bank Mandiri sepanjang 2025 tercatat sebesar Rp 56,3 triliun, tumbuh stabil dari Rp 55,8 triliun pada 2024.
Pendorong utama laba 2025:
- Penyaluran kredit tumbuh 13,4% YoY menjadi Rp 1.895 triliun
- Dana Pihak Ketiga (DPK) melonjak 23,9% YoY menjadi Rp 2.106 triliun
- Net Profit Margin (NPM) berada di level 34,2%, sangat tinggi untuk standar perbankan nasional
- Return on Equity (ROE) di angka 17,19%, efisiensi pengelolaan modal yang solid
Laba Kuartal I-2026: Momentum Berlanjut
Memasuki 2026, Bank Mandiri langsung tancap gas. Laba bersih konsolidasi Q1-2026 mencapai Rp 15,4 triliun, tumbuh 16,6% YoY dari Rp 13,2 triliun pada Q1-2025.
Highlight kinerja Q1-2026:
- Pertumbuhan kredit: Rp 1.530 triliun, naik 17,4% YoY, hampir dua kali lipat rata-rata industri yang hanya 9,37%
- DPK bank only: Rp 1.675 triliun, tumbuh 21,1% YoY
- Pendapatan bunga bersih (NII): Rp 21,17 triliun, naik 11,1% YoY
- Pendapatan non-bunga: Rp 8,25 triliun, tumbuh 4,42% YoY
- Total pendapatan: Rp 29,4 triliun, naik 9,15%
- ROE: 22,1%, meningkat signifikan dari periode sebelumnya
- CAR (Capital Adequacy Ratio): 19,7%, permodalan sangat kuat
- BOPO: 58,0%, efisiensi operasional yang semakin membaik
Realisasi laba Q1-2026 bahkan melampaui konsensus pasar, mencapai sekitar 27% dari target laba sepanjang 2026.
Seberapa Sehat Fundamental BMRI? Cek Rasio Kuncinya
Bagi investor yang mengedepankan analisis fundamental, inilah metrik yang wajib diperhatikan sebelum mengoleksi saham BMRI.
Kualitas Aset (Asset Quality)
Ini adalah indikator seberapa aman kredit yang disalurkan bank. Makin rendah NPL, makin sehat.
- NPL Gross bank only: 0,98%, turun dari 1,01% pada Q1-2025, jauh di bawah rata-rata industri 2,17%
- NPL Net: 0,41%
- NPL Coverage Ratio: 245%, bank punya cadangan 2,45x dari total kredit bermasalah
- Loan at Risk (LAR): 6,13%, turun dari 7,37%, tren membaik
- Cost of Credit (CoC): 0,58%, sangat rendah, menunjukkan biaya pencadangan yang efisien
- Special Mention Loan (SML): 3,02%, membaik dibanding periode sebelumnya
Profitabilitas
- ROE Q1-2026: 22,1% (proyeksi jangka menengah: 21–23%)
- NPM 2025: 34,2%
- NIM 2026: 4,7% (dalam target guidance 4,5–4,7%)
Permodalan
- CAR: 19,7% — sangat solid, memberikan ruang ekspansi kredit yang memadai
Likuiditas
- CASA Ratio: 71,6% — mayoritas dana berasal dari tabungan & giro, biaya lebih murah
- DPK tumbuh 21,1% YoY — melampaui pertumbuhan kredit, artinya likuiditas sangat sehat
Buyback BMRI dan Apa Dampaknya bagi Investor?
Selain dividen jumbo, RUPST juga menyetujui program buyback saham senilai Rp 1,17 triliun yang akan berlangsung hingga 29 April 2027.
Yang perlu kamu tahu tentang buyback BMRI:
- Saham hasil buyback disimpan sebagai saham treasuri
- Akan dialihkan melalui Program Kepemilikan Saham (ESOP) bagi karyawan, Direksi, dan Komisaris Non-Independen
- Buyback umumnya menjadi sinyal positif bahwa manajemen percaya harga saham masih undervalued
- Langkah ini bertujuan menjaga kepercayaan investor terhadap prospek jangka panjang perseroan
Kombinasi dividen jumbo + program buyback mencerminkan kebijakan alokasi modal yang sangat pro-shareholder.
Baca juga : AADI dan MEDC Jadi Rekomendasi Saham LQ45 Hari Ini
Bagaimana Performa Digital BMRI?
Bank Mandiri tidak hanya mengandalkan kredit konvensional. Ekosistem digital menjadi katalis pertumbuhan yang semakin signifikan.
Data digital BMRI Q1-2026:
- Livin' by Mandiri: 1.242 juta transaksi, tumbuh 13% YoY; nilai transaksi Rp 1.241 triliun, naik 16% YoY
- Livin' Merchant: telah merangkul 3,3 juta mitra di seluruh Indonesia
- Kopra by Mandiri (segmen korporat): nilai transaksi Rp 7.169 triliun pada Q1-2026, tumbuh 21% dalam 2 tahun terakhir
- Pembiayaan berkelanjutan (ESG): Rp 320 triliun per Maret 2026, naik 8,8% YoY
Pertumbuhan digital ini memperkuat pendapatan non-bunga, menjaga Net Interest Margin (NIM), sekaligus memperluas basis nasabah ke segmen yang lebih muda dan berbasis teknologi.
Bagaimana Valuasi Saham BMRI Saat Ini?
Pertanyaan krusial: apakah BMRI masih murah atau sudah mahal?
Indikator valuasi BMRI per April 2026:
- Harga saham saat RUPST: Rp 4.430 per lembar
- Price to Earnings Ratio (PER): sekitar 7 kali, tergolong rendah untuk bank dengan ROE di atas 20%
- Target harga konsensus Bloomberg: Rp 5.881, potensi upside sekitar 28% dari harga saat RUPST
- Rekomendasi analis: 75,7% buy, 16,2% hold, 8,1% sell
- Target harga Nafan (analis): Rp 6.200, rating accumulative buy
- YTD performance: saham terkoreksi sekitar -7,84% sejak awal 2026, menciptakan entry point yang menarik
PER 7 kali untuk bank dengan pertumbuhan laba double digit dan ROE di atas 22% secara historis dianggap sebagai valuasi yang sangat murah (undervalued).
Apa Risiko Investasi di Saham BMRI?
Tidak ada investasi tanpa risiko. Berikut faktor yang perlu diwaspadai:
- Ketidakpastian global: Perang dagang, gejolak geopolitik, dan volatilitas nilai tukar rupiah bisa menekan margin
- Persaingan DPK: Perebutan dana pihak ketiga antarbank berpotensi meningkatkan biaya dana
- Dekonsolidasi BSI: Pelepasan BSI per Februari 2026 menyebabkan penyesuaian struktural pada laporan konsolidasi
- Penurunan NIM guidance: NIM 2026 direvisi ke 4,5–4,7% dari sebelumnya 4,6–4,8%
- Target kredit lebih konservatif: Pertumbuhan kredit 2026 dipangkas ke 7–9% setelah divestasi BSI
Berdasarkan data terkini, BMRI menawarkan kombinasi langka yang jarang ditemukan di satu saham sekaligus: pertumbuhan laba double digit + dividen yield dua digit + valuasi undervalued.

Chrisna Chanis Cara
Editor
