BMRI Kembali Diburu Asing, Cek Fundamental, Dividen, dan Prospeknya
- Saham BMRI kembali diburu investor asing setelah sehari sebelumnya terkena aksi jual. Cek kinerja keuangan, valuasi, dividen, dan rekomendasi analis.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) kembali diborong investor asing pada perdagangan 15 Juli 2026. Pergeseran sentimen ini terjadi hanya sehari setelah asing mencatat aksi jual bersih (net sell) ratusan miliar rupiah di saham perbankan pelat merah tersebut.
Pada perdagangan Kamis, 16 Juli 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 0,27% ke level 6.058,15. Penguatan indeks ditopang oleh saham-saham kapitalisasi besar, termasuk BMRI yang naik 1,19% ke level Rp4.250 per saham pada awal perdagangan.
Pergerakan tersebut memperpanjang pemulihan harga setelah sehari sebelumnya BMRI ditutup menguat 0,96% di Rp4.200 per saham.
Data perdagangan dikutip Bursa menunjukkan investor asing membukukan net foreign buy BMRI sebesar Rp184,17 miliar pada perdagangan Rabu, 15 Juli 2026. Nilai tersebut menjadikan BMRI sebagai saham dengan pembelian bersih asing terbesar pada hari itu.
Dari sisi volume, investor asing membeli sekitar 99,69 juta saham dan menjual 56,12 juta saham, sehingga menghasilkan net buy 43,57 juta saham. Bahkan, pada sesi pertama perdagangan saja, asing telah mencatatkan pembelian bersih mencapai Rp149,9 miliar dengan volume sekitar 35,4 juta saham.
Aksi tersebut menjadi perhatian pasar karena terjadi setelah sehari sebelumnya, Selasa, 14 Juli 2026, investor asing justru melakukan net sell BMRI sebesar Rp247,9 miliar.
Dalam kurun waktu dua hari, posisi asing berubah drastis dari menjual bersih hampir Rp250 miliar menjadi membeli bersih Rp184 miliar. Pembalikan ini dinilai menjadi salah satu sinyal membaiknya sentimen terhadap saham BMRI dalam jangka pendek.
Baca juga : Pembukaan LQ45 Hari Ini: AMMN dan MBMA Naik, EXCL Turun
Fundamental BMRI Masih Solid pada 2026
Di luar sentimen perdagangan, Bank Mandiri juga mencatatkan kinerja fundamental yang tetap kuat sepanjang tahun berjalan. Sepanjang periode Januari-April 2026, BMRI membukukan laba bersih Rp18,05 triliun, meningkat 19% secara tahunan (year on year/YoY) dan melampaui estimasi analis.
Sementara hingga Mei 2026, laba bersih telah mencapai Rp23,3 triliun, tumbuh 18,6% YoY. Perseroan juga mempertahankan Return on Equity (ROE) di kisaran 20%, dengan total aset mencapai Rp2.306 triliun, meningkat sekitar 20% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sejumlah indikator operasional juga menunjukkan perbaikan. Pertumbuhan kredit mencapai 18% YoY, sementara Cost of Credit (CoC) turun menjadi 0,5% dari sebelumnya 0,7%, sehingga membantu menopang pertumbuhan laba.
Di sisi lain, Net Interest Income (NII) masih mampu tumbuh 10% YoY, meskipun Net Interest Margin (NIM) mengalami tekanan dan turun sekitar 30 basis poin menjadi 4,5% akibat meningkatnya biaya dana (cost of fund).
Investor juga mencermati kenaikan Loan to Deposit Ratio (LDR) menjadi 94%, dibandingkan sekitar 91% pada Maret 2026, yang perlu dipantau dari sisi likuiditas.
Baca juga : IHSG Dibuka Lompat 0,4 Persen, AGAR dan RANS Jadi Katalis
Valuasi Murah, Dividen BMRI Tembus Yield 11%
Dari sisi valuasi, BMRI masih dipandang menarik. Per pertengahan Juni 2026, saham Bank Mandiri diperdagangkan pada Price to Book Value (PBV) sekitar 1,38 kali dan Price Earnings Ratio (PER) sekitar 7,2 kali.
BRI Danareksa Sekuritas sebelumnya menilai kombinasi valuasi yang relatif murah dengan profitabilitas tinggi menjadikan BMRI sebagai salah satu pilihan utama di sektor perbankan nasional.
Selain fundamental, daya tarik lain BMRI datang dari kebijakan dividen. Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) pada 29 April 2026 menyetujui pembagian dividen sebesar Rp44,47 triliun, atau sekitar 79% dari laba bersih tahun buku 2025 sebesar Rp56,3 triliun.
Total dividen yang diterima pemegang saham mencapai Rp476,95 per saham, meningkat dibandingkan dividen tahun sebelumnya sebesar Rp466,18 per saham.
Sebelumnya, Bank Mandiri telah membayarkan dividen interim sebesar Rp100 per saham atau sekitar Rp9,3 triliun pada 14 Januari 2026. Sisa dividen sekitar Rp376,96 per saham atau sekitar Rp35,15 triliun diperkirakan akan dibayarkan pada 25 November 2026.
Dengan harga penutupan Rp4.200 per saham pada 15 Juli 2026, dividend yield BMRI mencapai sekitar 11,36%, tergolong tinggi di sektor perbankan Indonesia. Saat RUPST berlangsung ketika harga saham berada di sekitar Rp4.430, dividend yield tercatat sekitar 10,77%.
Selain itu, pemegang saham juga menyetujui program pembelian kembali (buyback) saham dengan nilai maksimal Rp1,17 triliun, di mana saham hasil buyback akan disimpan sebagai saham treasuri.
Pergerakan Harga Saham BMRI
BMRI sempat mengalami penyesuaian harga setelah stock split dengan rasio 1:2 yang mulai efektif pada 8 Juli 2026, sehingga harga saham berada di kisaran Rp5.250 setelah aksi korporasi tersebut.
Pada 13 Juli 2026, saham BMRI melonjak sekitar 4,17% ke Rp4.250, didukung sentimen positif setelah Standard & Poor's (S&P) mempertahankan peringkat utang Indonesia pada level BBB dengan outlook stabil.
Namun sehari kemudian, 14 Juli, saham terkoreksi sekitar 2,1% ke kisaran Rp4.160, seiring aksi jual bersih investor asing sebesar Rp247,9 miliar. Pada 15 Juli, BMRI kembali menguat 0,96% ke Rp4.200 bersamaan dengan masuknya dana asing sebesar Rp184,17 miliar.
Memasuki perdagangan 16 Juli sesi I, saham kembali naik sekitar 1,19% secara intraday ke Rp4.250. Meski mulai pulih dalam beberapa hari terakhir, secara year to date (YTD) BMRI masih mencatat penurunan sekitar 16,8%. Dalam 52 minggu terakhir, saham bergerak pada kisaran Rp3.650 hingga Rp5.375.
Rekomendasi Analis Masih Didominasi Rating Beli
Prospek BMRI juga masih memperoleh dukungan dari mayoritas analis. Dari 24 analis yang memantau saham ini, sebanyak 17 analis memberikan rekomendasi "Buy", enam analis menyarankan Hold, dan dua analis memberikan rekomendasi Sell.
Rata-rata target harga konsensus 12 bulan berada di kisaran Rp5.450 per saham, yang mencerminkan potensi kenaikan sekitar 36,58% dibandingkan harga saat ini.
Target harga tertinggi berada di Rp6.800, sedangkan target terendah sebesar Rp3.593. Sejumlah rumah riset juga mempertahankan pandangan positif terhadap BMRI.
Ciptadana Sekuritas memberikan rekomendasi Buy dengan target harga Rp6.150, sementara Macquarie menetapkan rekomendasi Buy dengan target Rp6.240.
CLSA juga mempertahankan rekomendasi Buy dengan target harga Rp5.000. Sementara itu, Goldman Sachs memberikan rekomendasi Hold dengan target harga di kisaran Rp4.510 hingga Rp5.450.
RHB Sekuritas pun masih mempertahankan rekomendasi Overweight untuk sektor perbankan, dengan BMRI tetap menjadi salah satu saham unggulan.
Baca juga : Menilik Prospek dan Kinerja BREN, Gencar Diburu Asing
Peluang dan Risiko Saham BMRI
Sejumlah faktor masih menjadi daya tarik utama saham BMRI,
- Pertama, dividend yield yang mencapai sekitar 11,36% dengan payout ratio 79% menjadikan saham ini menarik bagi investor yang mencari pendapatan dividen.
- Kedua, pertumbuhan laba yang masih berada di kisaran 18,6% YoY menunjukkan fundamental perusahaan tetap kuat.
- Ketiga, pembalikan aksi investor asing dari net sell menjadi net buy memberikan sentimen positif bagi pergerakan harga dalam jangka pendek.
- Keempat, mayoritas analis masih memberikan rekomendasi beli dengan potensi kenaikan harga lebih dari 36%.
- Kelima, valuasi yang relatif murah, ditambah program buyback senilai Rp1,17 triliun, menjadi faktor pendukung tambahan.
Di sisi lain, investor tetap perlu memperhatikan sejumlah risiko. Secara tahunan, harga saham BMRI masih terkoreksi sekitar 16,8%.
Selain itu, meski terjadi pembelian asing pada perdagangan terakhir, secara agregat investor asing masih mencatat net sell sekitar Rp92,04 triliun di pasar saham Indonesia sepanjang tahun berjalan.
Tekanan terhadap Net Interest Margin (NIM), kenaikan Loan to Deposit Ratio (LDR) hingga 94%, serta tingginya volatilitas transaksi investor asing juga menjadi faktor yang perlu dicermati.

Chrisna Chanis Cara
Editor
