Benarkah Shio Hanya untuk Etnis Tionghoa? Ini Faktanya
- Imlek 2026 memasuki era Shio Kuda dan mengulas sejarah serta makna sistem shio. Tradisi ini memengaruhi cara masyarakat membaca karakter dan dinamika ekonomi.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Hari ini, Selasa, 17 Februari 2026, seluruh masyarakat merayakan datangnya Tahun Baru Imlek yang menandai dimulainya era shio Kuda. Di tengah semarak lampion merah dan tradisi berbagi angpao, narasi mengenai ramalan peruntungan shio kembali menjadi primadona utama di berbagai lapisan.
Fenomena astrologi kuno ini sukses menarik perhatian banyak kalangan secara global hingga saat ini. Mulai dari masyarakat pencinta budaya populer hingga para analis finansial modern secara rutin memetakan dampaknya terhadap sentimen makroekonomi. Namun, di balik popularitasnya yang masif, kerap muncul sebuah pertanyaan.
Apakah prediksi karakter shio ini hanya berlaku eksklusif bagi masyarakat keturunan Tionghoa saja? Mari kita bedah tuntas mitos eksklusivitas, sejarah pembentukan kalender, daftar 12 hewan penjaga, hingga relevansinya di dunia modern berdasarkan catatan historis dan studi perilaku ekonomi yang mendalam.
1. Fakta Mitos Eksklusivitas
Banyak pihak yang masih menganggap bahwa shio merupakan sebuah sistem kepercayaan tertutup. Faktanya, jika dilihat dari kacamata sejarah dan logika astronomi kuno, anggapan tersebut hanyalah sebuah mitos belaka. Kepemilikan shio murni berbasis pada sistem penanggalan waktu kelahiran setiap manusia secara universal.
Berabad-abad lalu, peradaban Tiongkok menggunakan kalender lunisolar sebagai instrumen waktu yang sangat presisi. Sebagai penanda, digunakanlah 12 hewan yang terus berputar dalam siklus tahunan. Artinya, siapa pun manusia yang lahir di bumi otomatis berada di bawah naungan elemen hewan tersebut pada saat itu.
Untuk memahaminya, kita bisa membandingkan shio dengan sistem zodiak maupun weton Jawa. Seseorang sama sekali tidak perlu berdarah Eropa untuk memiliki zodiak Taurus. Logika universal yang sama mutlak berlaku untuk shio sebagai cara peradaban masa lalu memetakan pola karakter waktu bagi manusia.
2. Sejarah dan Mitologi Kuno
Merujuk pada catatan literatur kuno Tiongkok berjudul Shiji, sistem kalender yang memuat cikal bakal shio mulai distandarisasi secara resmi. Kebijakan ini diterapkan pada masa kejayaan Dinasti Han untuk memenuhi tingginya kebutuhan sistem agraris dan pencatatan musim yang jauh lebih akurat bagi publik.
Namun dalam literatur folklor, kemunculan 12 hewan ini lahir dari legenda perlombaan surgawi. Dikisahkan bahwa Kaisar Giok menggelar perlombaan menyeberangi sungai deras untuk seluruh hewan. Posisi 12 besar yang berhasil mencapai garis akhir akan diabadikan secara resmi sebagai dewa penjaga kalender tahunan.
Tikus keluar sebagai juara pertama berkat kecerdikannya menumpang di punggung Kerbau. Macan yang tangguh menyusul di posisi ketiga, diikuti Kelinci. Sang Naga finis kelima karena sibuk menurunkan hujan bagi desa kekeringan, di mana urutan inilah yang menjadi susunan baku hingga hari ini.
3. Karakteristik Hewan Penjaga
Dalam sistem astrologi Tiongkok, siklus 12 hewan ini merepresentasikan karakter dasar manusia. Tikus mewakili sifat cerdas dan adaptif, sementara Kerbau melambangkan pekerja keras yang membumi. Macan hadir dengan karakter berani serta dinamis, sedangkan Kelinci membawa sifat elegan yang senantiasa sangat waspada terhadap situasi.
Daftar ini dilanjutkan oleh Naga yang karismatik dan penuh dengan inovasi ambisius. Ular melambangkan intuisi misterius yang kuat, diikuti oleh Kuda yang sangat enerjik dan mandiri. Kambing hadir melengkapi daftar ini dengan membawa karakter tenang, artistik, serta penuh dengan rasa empati.
Siklus ini ditutup oleh empat hewan terakhir yang memiliki peran sama penting. Monyet merepresentasikan kecerdikan bersosialisasi, Ayam menunjukkan sifat teliti dan perfeksionis. Anjing hadir sebagai simbol kesetiaan yang sangat protektif, sementara Babi menjadi penutup manis dengan sifat tulus yang sangat menyukai harmoni.
4. Kombinasi Lima Elemen Alam
Siklus hewan ini sejatinya menjadi semakin kompleks karena dipadukan langsung dengan konsep filsafat kuno. Penanggalan tradisional Tiongkok selalu melibatkan kombinasi 5 elemen alam yang dikenal dengan istilah Wuxing untuk menyempurnakan pemetaan karakter dasar setiap manusia yang lahir di atas bumi pada periode waktu tertentu.
Kelima elemen pembentuk kehidupan tersebut meliputi unsur kayu yang melambangkan pertumbuhan dan api sebagai lambang semangat. Unsur tanah merepresentasikan stabilitas hidup, elemen logam menunjukkan ketahanan mental, serta unsur air yang hadir mewakili tingkat fleksibilitas manusia dalam menghadapi setiap perubahan zaman yang terus terjadi.
Kombinasi antara perputaran hewan dan kelima elemen ini pada akhirnya menciptakan sebuah siklus besar berdurasi 60 tahunan. Mahakarya penanggalan kuno ini melampaui berbagai sekat etnis dunia dan telah bertransformasi menjadi lensa universal bagi masyarakat modern untuk mengintrospeksi diri secara utuh dalam kehidupan sehari-hari.
5. Penggerak Sentimen Bursa
Di era ekonomi modern saat ini, narasi astrologi kuno berhasil melampaui fungsi ramalan personal semata. Instrumen budaya ini kini menjelma menjadi sebuah indikator penting yang kerap digunakan untuk membaca arah sentimen pergerakan di lantai bursa saham secara lebih mendalam oleh para pengelola dana dan investor.
Kajian keuangan perilaku sering kali menyoroti munculnya anomali kalender ketika kepercayaan budaya massa mampu menggerakkan keputusan ekonomi riil. Fenomena sentimen kultural di bursa saham ini rutin dijadikan proksi andalan oleh para pelaku pasar modal untuk menakar tingkat selera risiko investasi pada periode Imlek.
Contoh historisnya adalah volatilitas tajam pasar pada tahun 1998 yang bertepatan dengan tahun macan. Sebaliknya, tahun naga sering memicu lonjakan angka kelahiran. Ekspektasi lonjakan konsumsi tersebut sukses mendongkrak aliran modal pada sektor properti, kesehatan, maupun emiten barang ritel harian yang melantai di bursa efek.

Alvin Bagaskara
Editor
