Tren Pasar

BBNI Melesat 6,74 Persen ke Rp3.800, Kinerja Progresif Disorot Publik

  • Saham BBNI naik 6,74% ke Rp3.800. Didukung laba Rp5,68 triliun, kredit tumbuh 20,1%, dan rekomendasi beli dari mayoritas analis.
bni-scaled.jpg
Ilustrasi BNI Life (Perseroan)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) menjadi salah satu emiten perbankan yang tergolong moncer di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026. 

Di tengah reli pasar yang dipicu membaiknya sentimen global, BBNI melesat hampir 6,74% diangka 3800 memimpin penguatan di kelompok bank jumbo.

Penguatan tersebut tidak hanya didorong oleh sentimen pasar, tapi juga ditopang fundamental perusahaan yang terus menunjukkan perbaikan. Kinerja keuangan yang solid, pertumbuhan kredit yang kuat, ekspansi digital yang agresif, hingga berbagai penghargaan internasional menjadi faktor yang meningkatkan optimisme investor terhadap prospek BNI ke depan.

Berdasarkan data perdagangan hingga pukul 09.58 WIB, saham BBNI naik 210 poin atau 5,90% ke level Rp3.770 per saham. Volume transaksi mencapai 29 juta saham dengan nilai perdagangan sekitar Rp107,8 miliar.

Kenaikan tersebut sejalan dengan penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melonjak lebih dari 3%, serta reli saham perbankan besar lainnya seperti BBCA, BBRI, dan BMRI.

Baca juga : IHSG Melesat, Akankah Reli Berlanjut atau Hanya Euforia Sesaat?

Laba Kuartal I Tumbuh, Kredit Naik 20%

Optimisme investor terhadap BNI tidak muncul tanpa alasan. Pada kuartal pertama 2026, perseroan berhasil membukukan laba bersih konsolidasi sebesar Rp5,68 triliun.

Angka tersebut meningkat sekitar 5,04% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp5,41 triliun. Kinerja positif ini ditopang oleh pertumbuhan kredit yang mencapai 20,1% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp919,3 triliun.

Selain itu, pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII) tumbuh 12,1% menjadi Rp11,02 triliun, sementara pendapatan non-bunga meningkat 12,6% berkat kontribusi transaksi digital yang semakin besar.

BNI juga mencatat Pendapatan Operasional Sebelum Pencadangan (PPOP) sebesar Rp9,3 triliun, menjadi salah satu yang tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.

Dari sisi kualitas aset, kinerja perseroan juga menunjukkan perbaikan. Rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) Gross turun menjadi 1,9%, sementara Loan at Risk (LAR) membaik ke level 8,6%, bahkan lebih baik dibandingkan posisi sebelum pandemi.

Fondasi Kuat dari Kinerja 2025

Pertumbuhan pada awal 2026 juga didukung oleh fondasi bisnis yang kuat sepanjang tahun 2025. BNI membukukan laba bersih sebesar Rp20 triliun sepanjang tahun lalu. Meski menghadapi tekanan ekonomi global, perseroan tetap mampu menjaga pertumbuhan bisnis secara konsisten.

Kredit tumbuh 15,9% menjadi Rp899,53 triliun, didorong oleh pembiayaan sektor-sektor produktif yang menjadi fokus utama perusahaan.

Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) meningkat 29,2% menjadi Rp1.040,83 triliun, mencerminkan tingginya kepercayaan masyarakat terhadap BNI.

Di saat yang sama, dana murah atau Current Account Saving Account (CASA) tumbuh 28,9% menjadi Rp725,96 triliun. Pertumbuhan CASA yang tinggi membantu BNI menjaga biaya dana tetap kompetitif dan memperkuat margin keuntungan.

Dari sisi permodalan, Capital Adequacy Ratio (CAR) BNI berada di level 20,7%, jauh di atas ketentuan minimum regulator. Kondisi tersebut memberikan ruang yang luas bagi perusahaan untuk melanjutkan ekspansi kredit secara sehat.

Baca juga : Indeks LQ45 Hari Ini 15 Juni 2026 Dibuka Naik 20,11 ke 617,56 Poin

Digitalisasi Jadi Mesin Pertumbuhan Baru

Selain bisnis perbankan konvensional, BNI juga semakin agresif memperkuat transformasi digital. Aplikasi wondr by BNI telah memiliki lebih dari 12 juta pengguna hingga akhir 2025. Pertumbuhan pengguna tersebut menjadi indikasi meningkatnya penetrasi layanan digital BNI di berbagai segmen nasabah.

Di segmen korporasi, platform BNIdirect juga mencatat pertumbuhan pengguna dan nilai transaksi lebih dari 25% sepanjang 2025. Total transaksi yang diproses melalui platform tersebut mencapai Rp8.080 triliun, menunjukkan peran penting digitalisasi dalam menopang pertumbuhan bisnis perusahaan.

Transformasi digital ini dinilai menjadi salah satu faktor yang dapat menjaga pertumbuhan pendapatan berbasis komisi (fee based income) sekaligus meningkatkan efisiensi operasional di masa depan.

BNI juga terus memperkuat posisinya sebagai bank Indonesia dengan jaringan internasional terluas. Perseroan saat ini memiliki jaringan di berbagai pusat keuangan dunia seperti Singapura, Tokyo, Hong Kong, London, hingga New York.

Melalui program BNI Xpora, perusahaan membantu pelaku usaha Indonesia memperluas pasar ke luar negeri dan meningkatkan daya saing global.

Langkah ini menjadi strategi penting untuk menangkap peluang pertumbuhan bisnis lintas negara sekaligus memperluas sumber pendapatan perusahaan.

Selain itu, BNI juga aktif mendorong pembiayaan berkelanjutan atau ESG (Environmental, Social, and Governance). Hingga akhir 2025, portofolio pembiayaan berkelanjutan perusahaan mencapai Rp197 triliun atau sekitar 22% dari total kredit.

Baca juga : IHSG Hari Ini 15 Juni 2026 Dibuka Naik ke 6.118,73 Poin

Deretan Penghargaan Internasional

Kinerja dan transformasi yang dilakukan BNI turut mendapatkan pengakuan dari berbagai lembaga internasional. Pada Juni 2026, BNI meraih tujuh penghargaan internasional dari ajang The Asset Triple A Treasury Awards 2026 dan The Asian Banker Awards 2026.

Beberapa penghargaan yang diraih antara lain Best Cash Management Bank in Indonesia 2026 dan Best Digital KYC/Onboarding Initiative. Perseroan juga memperoleh penghargaan dari JCB Indonesia Awards 2026, termasuk kategori Best New Card Acquisition in Indonesia 2025.

Pengakuan tersebut memperkuat reputasi BNI sebagai salah satu institusi keuangan yang berhasil menjalankan transformasi bisnis dan digital secara konsisten.

Analis Masih Melihat Potensi Kenaikan

Prospek saham BBNI juga masih mendapat dukungan kuat dari para analis pasar modal. Berdasarkan polling terhadap 22 analis, mayoritas memberikan rekomendasi "Sangat Beli" (Strong Buy), dengan rincian 19 analis merekomendasikan beli dan 4 analis memberikan rekomendasi hold.

Beberapa target harga yang diberikan lembaga riset dan sekuritas antara lain:

  • Citi: Rekomendasi Beli, target harga Rp5.600 per saham.
  • CLSA: Rekomendasi Beli, target harga Rp5.250 per saham.
  • Maybank Sekuritas: Rekomendasi Buy, target harga Rp5.000 per saham.
  • BRI Danareksa Sekuritas: Rekomendasi Beli, target harga Rp4.700 per saham.
  • Goldman Sachs: Rekomendasi Beli, target harga Rp4.850 per saham.
  • JPMorgan: Rekomendasi Hold, target harga Rp4.000 per saham.
  • Macquarie: Rekomendasi Hold, target harga Rp4.420 per saham.

Baca juga : Damai AS-Iran Hari Ini, Bisakah Harga BBM dan Barang Impor Turun?

Secara keseluruhan, rata-rata target harga dari 22 analis mencapai Rp4.788 per saham, atau mencerminkan potensi kenaikan (upside) sekitar 49% dibandingkan harga saham BBNI di level Rp3.770 per saham pada 15 Juni 2026.

Konsensus tersebut menunjukkan bahwa banyak analis masih menilai saham BBNI berada di bawah nilai wajarnya (undervalued) dan memiliki ruang penguatan yang cukup besar, didukung oleh pertumbuhan kredit yang solid, kualitas aset yang membaik, transformasi digital yang terus berkembang, serta posisi permodalan yang kuat.