Tren Pasar

BBNI Makin Hijau di 2025! Kredit ESG Tembus Rp197 T

  • PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) mencatatkan portofolio pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp197 triliun, setara 22% dari total kredit tahun 2025.
BNI Bidik Milenial Investasi Digital .jpg
Karyawati melayani nasabah di salah satu kantor cabang Bank Negara Indonesia (BNI) di kawasan SCBD, Jakarta, Jum'at, 11 Maret 2022. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk atau BBNI membuktikan komitmen seriusnya terhadap lingkungan dengan mencatatkan kinerja keberlanjutan yang impresif. Sepanjang tahun buku 2025 perseroan berhasil menyalurkan portofolio pembiayaan berkelanjutan sebesar Rp197 triliun atau setara 22% dari total kredit bank.

Capaian pembiayaan hijau yang masif tersebut disalurkan ke berbagai sektor prioritas seperti energi terbarukan dan pengelolaan sumber daya alam. Selain itu segmen pengelolaan air limbah hingga transportasi ramah lingkungan juga menjadi fokus utama penyaluran kredit berwawasan lingkungan BBNI.

Direktur Risk Management BBNI David Pirzada menegaskan bahwa inisiatif ini adalah strategi jangka panjang perseroan. "Keberlanjutan bukan sekadar kepatuhan terhadap regulasi, tetapi telah menjadi fondasi strategi bisnis BNI dalam menciptakan nilai jangka panjang bagi seluruh pemangku kepentingan," ujarnya pada Selasa, 3 Februari 2026. 

1. Obligasi Hijau dan Peringkat

Komitmen BBNI diperkuat melalui penerbitan instrumen keuangan strategis yakni Sustainability Bond senilai Rp5 triliun pada tahun 2025. Surat utang ini mendapatkan peringkat idAAA serta Second Party Opinion dari Sustainalytics dengan hasil credible and impactful yang menegaskan kualitasnya.

Selain itu perseroan juga menerbitkan Green Bond senilai Rp5 triliun sebagai dukungan terhadap target Net Zero Emission pemerintah tahun 2060. Dana ini dialokasikan khusus untuk membiayai proyek berwawasan lingkungan serta penyaluran Sustainability Linked Loan (SLL) kepada debitur.

Langkah strategis ini menempatkan BBNI sebagai agent of development yang aktif mendorong transisi hijau nasional. Pemanfaatan Taksonomi Keuangan Berkelanjutan Indonesia atau TKBI menjadi acuan utama bank dalam mengintegrasikan prinsip keuangan berkelanjutan ke dalam kebijakan operasional perusahaan sehari hari.

2. Inovasi Palm Oil Playbook

Sebagai pionir green banking di Indonesia BBNI meluncurkan inovasi ESG Advisory Playbook khusus untuk subsektor kelapa sawit. Inisiatif ini menjadikan BBNI sebagai bank pertama di tanah air yang menyusun dan memperkenalkan panduan transisi komprehensif bagi debitur sektor tersebut.

Langkah ini diambil untuk membantu debitur melakukan transisi menuju praktik bisnis yang lebih berkelanjutan sesuai standar global. "Ke depan, BNI akan terus memperluas pembiayaan pada sektor-sektor prioritas hijau," ujar David Pirzada menekankan fokus ekspansi pembiayaan perseroan ke depannya.

Dukungan ini tidak hanya berupa pembiayaan tetapi juga pendampingan teknis agar debitur dapat memenuhi kriteria keberlanjutan yang ketat. Hal ini sejalan dengan upaya mitigasi risiko iklim dan memastikan portofolio kredit bank tetap sehat dan relevan di masa depan.

3. Dampak Sosial dan UMKM

Aspek sosial dalam ESG tercermin dari pertumbuhan kredit sebesar 15,9% secara tahunan yang fokus pada sektor produktif. Penyaluran kredit ini termasuk kepada segmen Usaha Mikro Kecil dan Menengah atau UMKM yang menjadi tulang punggung perekonomian masyarakat di Indonesia.

Transformasi organisasi juga dilakukan untuk meningkatkan produktivitas sumber daya manusia sebagai aset utama perusahaan dalam melayani nasabah. "Transformasi BNI tidak hanya berfokus pada penguatan teknologi, tetapi juga mencakup penguatan organisasi dan peningkatan produktivitas secara menyeluruh," ujar Direktur Utama Putrama.

Peningkatan kapabilitas pegawai dan optimalisasi jaringan kantor dilakukan untuk memberikan layanan terbaik dan inklusif. "Penguatan platform digital guna meningkatkan kualitas layanan dan customer experience," menjadi prioritas BBNI dalam menjalankan tanggung jawab sosial perusahaan kepada seluruh lapisan nasabah.

4. Tata Kelola dan Kualitas Aset

Penerapan tata kelola atau Governance yang baik tercermin dari perbaikan kualitas aset yang signifikan sepanjang tahun 2025. Rasio NPL bruto berhasil ditekan ke level 1,9% atau membaik 10bps secara tahunan berkat proses underwriting dan pemantauan risiko yang ketat.

Indikator risiko lainnya yakni Loan at Risk (LaR) juga turun menjadi 8,5% atau membaik 1,8% kembali ke level prapandemi. "Pemanfaatan data analytics dan early warning system menjadi kunci untuk menjaga kualitas aset tetap terkendali," jelas Direktur Finance Paolo.

BBNI juga menyiapkan bantalan risiko yang sangat kuat sebagai bentuk prinsip kehati-hatian atau prudence. NPL coverage ratio tercatat mencapai 205,5% sementara LaR coverage ratio berada di level 46,9% menunjukkan kesiapan bank menghadapi potensi ketidakpastian ekonomi global ke depan.

5. Fundamental Berkelanjutan

Integrasi prinsip ESG terbukti berdampak positif terhadap kinerja fundamental dengan laba bersih mencapai Rp20 triliun. Direktur Utama BBNI Putrama Wahju Setyawan menyebut, "Capaian tersebut mencerminkan ketahanan model bisnis BNI yang dibangun melalui penguatan fundamental, produktivitas, dan transformasi berkelanjutan."

Rasio kecukupan modal atau CAR yang mencapai 20,7% memberikan ruang luas bagi BBNI untuk terus berekspansi secara berkelanjutan. Modal yang kuat ini menjadi fondasi bagi bank untuk menyalurkan lebih banyak pembiayaan hijau dan mendukung proyek strategis nasional.

Dengan fundamental yang kokoh dan strategi ESG yang terukur BBNI siap menghadapi tantangan masa depan. Fokus pada keseimbangan antara profitabilitas dan keberlanjutan memastikan bahwa pertumbuhan bisnis bank selaras dengan kelestarian lingkungan dan kesejahteraan sosial masyarakat Indonesia jangka panjang.