BBCA dan ARTO jadi Incaran Kala AS - Eropa Berebut Greenland
- Rekomendasi ini muncul di tengah ketidakpastian pasar global akibat memanasnya perang dagang AS dan Eropa, meski IHSG masih mencetak rekor penutupan tertinggi.

Ananda Astri Dianka
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Tim Analis Bareksa merekomendasikan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Jago Tbk (ARTO) sebagai pilihan trading pada perdagangan Selasa, 20 Januari 2026. Rekomendasi ini muncul di tengah pasar saham global yang masih dibayangi ketegangan perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Eropa, serta meningkatnya tensi geopolitik akibat kebijakan luar negeri Presiden AS Donald Trump.
Untuk saham BBCA, Bareksa menilai pergerakan harga masih menarik untuk strategi beli bertahap. Pada perdagangan Senin (19/1), saham bank swasta terbesar di Indonesia ini ditutup menguat 0,62% ke level Rp8.125 per saham. Bareksa merekomendasikan beli akumulatif di kisaran Rp8.000–Rp8.100, dengan target ambil untung di Rp8.400 dan Rp8.600. Adapun batas kerugian (stop loss) disarankan di level Rp7.850.
Sementara itu, saham PT Bank Jago Tbk (ARTO) direkomendasikan untuk strategi trading jangka pendek. Harga saham ARTO tercatat naik tipis 0,26% ke level Rp1.910 pada penutupan perdagangan Senin. Bareksa menyarankan beli di rentang Rp1.890–Rp1.910, dengan target harga di Rp1.940 dan Rp1.960, serta stop loss di Rp1.870.
Tabel Rekomendasi Saham Hari Ini (20/1/2026)
| Stock Pick (Rp) | BBCA | ARTO |
|---|---|---|
| Last Price | 8.125 | 1.910 |
| Recommendation | Accumulative Buy | Trading Buy |
| Entry Range | 8.000 | 1.890 |
| 8.100 | 1.910 | |
| Target Price (TP) 1 | 8.400 | 1.940 |
| Target Price (TP) 2 | 8.600 | 1.960 |
| Stop Loss | 7.850 | 1.870 |
Sumber: Tim Analis Bareksa, last price per 19/1/2026
Dari sisi global, tekanan pasar masih datang dari memanasnya hubungan dagang AS dan Eropa. Reuters melaporkan, pasar saham global melemah dan dolar AS turun terhadap yen Jepang dan franc Swiss setelah Presiden Trump mengancam akan mengenakan tarif tambahan terhadap produk Eropa. Ancaman tersebut muncul setelah Uni Eropa menentang rencana Trump terkait Greenland.
Meski bursa saham AS tutup pada Senin karena libur, kontrak berjangka S&P 500 dan Nasdaq tercatat turun lebih dari 1% pada akhir pekan lalu. Tekanan juga terjadi di pasar saham Eropa dan Jepang. Di sisi lain, harga emas dan perak mencetak rekor tertinggi sebagai aset lindung nilai, sementara harga minyak melemah seiring kekhawatiran meluasnya perang dagang.
Uni Eropa sendiri mengecam ancaman tarif tersebut dan menyebutnya sebagai bentuk pemerasan. Prancis menyatakan siap menyiapkan langkah balasan, termasuk pengenaan tarif terhadap barang AS senilai hingga 93 miliar euro serta penggunaan instrumen Anti-Coercion. Ketegangan ini diperkirakan masih akan membayangi pasar menjelang pertemuan Forum Ekonomi Dunia di Davos, yang dihadiri delegasi besar dari AS dengan Trump sebagai pimpinan rombongan.
Di dalam negeri, sentimen pasar masih relatif positif. Mengutip riset teknikal Ciptadana Sekuritas Asia, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Senin (19/1) ditutup naik 58 poin atau 0,64% ke level 9.134. Capaian tersebut menjadi rekor penutupan tertinggi sepanjang masa (all time high).
IHSG bergerak di rentang 9.026–9.134, dengan saham ASII, DSSA, dan VKTR menjadi kontributor utama penguatan indeks. Secara teknikal, tren menengah hingga panjang IHSG masih berada dalam fase bullish, ditandai dengan pola higher high dan higher low yang konsisten.
Namun, Ciptadana mencatat IHSG kini berada di area atas kanal kenaikan dan mendekati level resistance, sehingga potensi penguatan lanjutan bisa mulai melambat. Indikator stochastic juga bergerak mendekati area jenuh beli, membuka peluang terjadinya koreksi jangka pendek atau pergerakan sideways.
Adapun level teknikal penting IHSG saat ini berada pada area support di 8.715 dan 8.525, sementara resistance terdekat berada di 9.134 dan 9.200.

Ananda Astri Dianka
Editor
