Tren Pasar

Awas Terjebak Euforia Laba, Simak Kekuatan dan Risiko Saham GOTO

  • Laba GoTo akhirnya positif, tapi seberapa kuat fundamental dan struktur keuangannya? Simak analisis lengkapnya.
Mitra Juara Gojek - Panji 5.jpg
GoTo Group memberikan penghargaan kepada lebih dari 40.000 mitra Gojek dan GoPay di Indonesia Arena,Jakarta. Memasuki tahun keenam, acara Mitra Juara Gojek & GoPay hadir untuk memberikan penghargaan kepada mitra pengemudi dan mitra usaha termasuk UMKM yang produktif dan berkinerja terbaik. Predikat Mitra Juara Gojek & GoPay ini diharapkan akan menjadi motivasi bagi mitra untuk selalu memberikan yang terbaik dan memberi contoh bagi jutaan mitra lainnya di seluruh Indonesia. Foto : Panji Asmoro/TrenAsia (trenasia.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Rp171 miliar, angka itu kecil untuk ukuran perusahaan sebesar GoTo. Tapi maknanya besar. Untuk pertama kalinya sejak berdiri pada 2010, GoTo mencatatkan laba bersih.

Laba bersih Rp171 miliar di kuartal I-2026 itu ditopang pendapatan bersih yang naik 26% secara tahunan menjadi Rp5,3 triliun, sementara GTV inti melonjak 65% menjadi Rp138 triliun. Setelah 16 tahun membakar kas investor, GoTo akhirnya bisa bernapas.

Tapi ada pertanyaan yang lebih penting dari sekadar perayaan, keuntungan ini rapuh atau kokoh?

Laba Pertama dengan Catatan Besar

Sebelum euforia atas laba pertama, ada aspek teknis yang perlu dipahami agar gambaran kinerja GoTo tidak dibaca terlalu sederhana. Perusahaan menggunakan metrik keuangan non-PSAK seperti EBITDA yang disesuaikan dan laba sebelum pajak yang disesuaikan. 

Metrik ini lazim dipakai di industri teknologi untuk menunjukkan performa operasional inti, namun sifatnya sudah “dibersihkan” dari sejumlah komponen biaya tertentu dalam laporan keuangan resmi.

Artinya, angka-angka tersebut bukan cerminan penuh dari kondisi keuangan sebenarnya. Angka yang paling representatif tetap laba bersih berbasis PSAK, dalam hal ini Rp171 miliar. 

Meski positif, nilainya masih sangat tipis jika dibandingkan dengan skala bisnis GoTo dan akumulasi kerugian yang terjadi selama bertahun-tahun sebelumnya.

Di balik perubahan ini, ada satu faktor kunci yang sangat menentukan, yaitu masuknya TikTok melalui akuisisi sebagian saham Tokopedia oleh ByteDance. Sejak skema baru berjalan, struktur pendapatan GoTo, khususnya dari e-commerce berubah signifikan.

Penjelasan kunci

  • GoTo menggunakan metrik non-PSAK:
    • EBITDA disesuaikan
    • Laba sebelum pajak disesuaikan
  • Metrik ini:
    • Mengeluarkan biaya tertentu dari laporan
    • Memberi gambaran operasional, tapi bukan kondisi penuh

Laba bersih yang sebenarnya

  • Laba Rp171 miliar adalah:
    • Berbasis PSAK (standar akuntansi resmi)
    • Angka yang mencerminkan kondisi riil
  • Namun:
    • Masih tipis dibanding skala bisnis
    • Belum mencerminkan fondasi profit yang kuat

Peran TikTok dalam membalikkan kinerja

  • TikTok masuk melalui restrukturisasi Tokopedia
  • GoTo mulai menerima:
    • E-commerce service fee sejak 1 Februari 2024
  • Dampaknya:
    • Lini e-commerce yang sebelumnya rugi ± Rp2 triliun (9M 2023)
    • Berbalik menjadi positif

Dengan kondisi ini, laba GoTo bukan hanya soal efisiensi internal, tapi juga hasil dari perubahan struktur bisnis yang sangat bergantung pada kemitraan strategis.

Transformasi Cepat, dan Itulah Masalahnya

GoTo kini sangat bergantung pada satu mitra yang bukan entitas Indonesia, bukan perusahaan yang diatur oleh OJK, dan bukan perusahaan yang kebijakannya bisa dipengaruhi oleh GoTo sendiri. 

Kalau ByteDance mengubah struktur kesepakatan, memutuskan menarik diri dari Indonesia, atau menghadapi tekanan regulasi yang memaksanya keluar dari pasar, service fee yang menjadi tulang punggung profitabilitas GoTo bisa menguap dalam satu kuartal.

Fakta di atas bukan skenario hipotetis. Tekanan geopolitik terhadap TikTok di AS berpotensi memaksa pemerintah Indonesia mempertimbangkan ulang sikapnya terhadap platform digital asing, yang bisa mengarah pada regulasi yang lebih ketat. 

Indonesia sudah menunjukkan kemauannya untuk bertindak terhadap platform digital asing ketika dianggap tidak patuh. Bukti terbarunya ada di sini. TikTok saat ini masih berstatus "kooperatif sebagian" terhadap regulasi pemerintah Indonesia dan telah menyampaikan komitmen tertulis untuk melakukan penyesuaian sistem secara bertahap. 

Status "kooperatif sebagian" bukan status yang nyaman, artinya ada gesekan yang belum selesai antara TikTok dan pemerintah Indonesia.

Sejak Maret 2026, TikTok masuk dalam daftar delapan platform yang dinilai berisiko tinggi oleh Komdigi dalam penerapan PP Tunas, yang mengatur penonaktifan akun anak di bawah 16 tahun. 

Regulasi seperti ini bisa menekan basis pengguna TikTok Shop, yang langsung berdampak ke GMV Tokopedia, yang langsung berdampak ke service fee GoTo.

Model Bisnis yang Makin Mahal Bagi Seller

Ada ironi di balik kenaikan komisi GoTo dari ekosistem Tokopedia-TikTok Shop. Profitabilitas GoTo sebagian ditopang oleh kenaikan fee yang dibebankan ke seller.

Mulai Mei hingga Juni 2026, Tokopedia dan TikTok Shop mengumumkan serangkaian penyesuaian biaya signifikan, termasuk kenaikan cap komisi dinamis dari sebelumnya Rp40.000 per item menjadi Rp650.000 per item.

Untuk seller produk bernilai tinggi, kondisi ini bukan sekadar penyesuaian, tapi jadi lonjakan drastis. Laptop Rp20 juta yang sebelumnya kena komisi Rp40.000, sekarang bisa kena Rp650.000. Total potongan di TikTok Shop bisa mencapai 15-30% dari harga jual kalau seller menggunakan komisi afiliasi.

Kalau seller merasa tidak sebanding, mereka bisa pindah platform, membangun toko mandiri, atau mengurangi volume. GoTo mengambil lebih besar per transaksi, tapi risiko kehilangan seller dalam jangka panjang juga semakin nyata. Profitabilitas berbasis kenaikan fee adalah strategi jangka pendek yang punya batas toleransi.

GoTo bukan satu-satunya yang merayakan momen ini. Grab sudah membukukan laba bersih penuh sepanjang 2025 sebesar 268 juta dolar AS, berbalik dari rugi 105 juta dolar AS pada 2024, ditopang lonjakan laba kuartal IV-2025 yang naik lebih dari enam kali lipat dibandingkan setahun sebelumnya.

Grab profit duluan, dengan skala yang lebih besar, dan beroperasi di lebih banyak negara. Itu berarti dalam kompetisi merebut perhatian investor regional dan mitra teknologi global, GoTo masih berada satu langkah di belakang.

Baca juga : Indeks LQ45 Naik Tipis, UNVR dan MEDC Jadi Katalis

Prospek Saham GOTO

Pasar merespons cepat, pada perdagangan Rabu 29 April 2026, saham GOTO melompat 7,55% ke level Rp57 per unit di awal sesi, dengan nilai transaksi Rp235,8 miliar dan volume perdagangan 4,15 miliar saham. 

Capaian di atas jadi salah satu lonjakan harian terbesar GOTO dalam beberapa bulan terakhir. Tapi satu hari yang bagus tidak menghapus konteks yang lebih panjang. 

Dalam sebulan terakhir GOTO memang menguat 11,76%, namun secara year-to-date saham ini masih minus 10,94%. Artinya, investor yang masuk di awal tahun masih merugi meski hari ini harga melonjak.

Analis tetap optimistis untuk jangka menengah. Konsensus Bloomberg per 29 April 2026 menempatkan target harga GOTO di Rp84,76 untuk 12 bulan ke depan, atau sekitar 60% upside dari posisi terakhir Rp53. 

Indo Premier Sekuritas bahkan memasang target lebih agresif di Rp110 per saham, dengan potensi kenaikan lebih dari 100%.

Tapi target analis adalah proyeksi, bukan jaminan. Selama risiko ketergantungan pada TikTok dan tekanan regulasi belum terselesaikan, lonjakan hari ini lebih mencerminkan eforia berita laba perdana daripada perubahan fundamental yang sudah selesai.

Baca juga : IHSG 29 April 2026 Ditutup Naik 0,41 Persen, INOV dan TOOL Gaspol

Tiga Risiko Yang Harus Diwaspadai Investor

Kinerja laba GoTo sebesar Rp171 miliar memang menandai titik balik penting setelah periode panjang bakar uang. TApi, di balik capaian itu, struktur pendapatan perusahaan masih menunjukkan ketergantungan yang cukup besar pada satu mitra utama, yakni ekosistem ByteDance melalui integrasi Tokopedia-TikTok. 

Kondisi tersebut membuat fondasi keuntungan GoTo belum sepenuhnya independen. Dalam konteks bisnis, kondisi seperti ini rentan terhadap perubahan eksternal, baik dari sisi kebijakan, strategi mitra, maupun dinamika pasar. Dengan kata lain, profitabilitas sudah tercapai, tapi keberlanjutannya masih diuji.

Berikut beberapa risiko utama yang perlu diperhatikan investor,

Konsentrasi mitra

  • Pendapatan e-commerce masih sangat bergantung pada ekosistem Tokopedia–TikTok
  • Kendali strategis ada pada pihak mitra (ByteDance), bukan GoTo
  • Diversifikasi sumber pendapatan di luar kolaborasi ini belum terlihat kuat

Tekanan regulasi

  • Platform seperti TikTok menghadapi pengawasan ketat pemerintah Indonesia
  • Isu sensitif mencakup:
    • Kepatuhan data
    • Perlindungan anak
  • Perubahan regulasi bisa berdampak cepat dan signifikan ke operasional

Gesekan dengan seller

  • Kenaikan fee berpotensi memicu ketidakpuasan seller
  • Risiko migrasi ke kompetitor seperti:
    • Shopee
    • Lazada
  • Jika seller pindah:
    • Pembeli ikut berpindah
    • GMV turun
    • Service fee GoTo ikut tertekan

Insight

  • Profit Rp171 miliar adalah pencapaian nyata
  • Disiplin biaya sudah terbukti solid
  • Namun fondasi pendapatan masih bergantung pada faktor eksternal

Pada akhirnya, pertanyaan besarnya bukan lagi apakah GoTo bisa mencetak laba, melainkan apakah laba tersebut bisa bertahan ketika salah satu penopang utamanya dalam hal ini TikTok mengalami tekanan atau perubahan strategi.