Tren Pasar

Apa yang Dilihat Grup Bakrie Hingga Rela Memakan Porsi Saham BIPI?

  • Mengupas manuver Grup Bakrie berinvestasi Rp948 miliar di saham BIPI. Sinergi ekosistem energi, transisi hijau, dan prospek era kecerdasan buatan.
bb794b77-a5a3-46ba-8c46-5d039b674afe_169.jpeg

JAKARTA,TRENASIA.ID - Saham PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) mencatatkan reli signifikan hingga 126,1% sejak awal tahun 2026 ini. Lonjakan harga saham yang cukup atraktif tersebut memicu perhatian pelaku pasar modal terkait manuver strategis perusahaan energi di bursa saham Indonesia.

Lantas, apa sebenarnya faktor utama yang dilihat oleh Grup Bakrie hingga mereka memutuskan untuk mengambil porsi saham perusahaan tersebut? Aksi injeksi modal Bakrie Capital Indonesia senilai Rp948 miliar merupakan langkah awal integrasi rantai pasok infrastruktur energi secara nasional.

Kepemilikan minoritas sebesar 6% tersebut tentu tidak memberikan kendali operasional secara mutlak. Namun, porsi ini menjadi landasan strategis guna menyelaraskan visi bisnis perusahaan dengan rencana besar pembangunan ekosistem transisi energi hijau terpadu milik konglomerasi tersebut ke depannya.

"Bakrie Capital Indonesia telah memutuskan untuk berinvestasi dengan membeli saham BIPI di harga Rp248 pada tanggal 24 Februari 2026 senilai Rp948 miliar (USD 56,35 juta) atau setara dengan 6% porsi kepemilikan saham," tulis analis Samuel Sekuritas, Juan Harahap dan Ahnaf Yassar dalam risetnya dikutip pada Rabu, 25 Maret 2026. 

Sinergi Taktis Pemegang Saham 

Langkah strategis ini semakin solid dengan kehadiran PT Indotambang Perkasa yang memiliki porsi kepemilikan sebesar 19,39%. Entitas bisnis yang berafiliasi dengan Halim Jusuf tersebut turut memperkuat struktur permodalan perusahaan demi melancarkan seluruh agenda ekspansi bisnis tanpa hambatan pendanaan.

Konsolidasi dua kelompok bisnis besar tersebut bertujuan mengamankan berbagai kontrak logistik jangka panjang secara berkelanjutan. Melalui ketersediaan infrastruktur pelabuhan dan jaringan konveyor memadai, BIPI diarahkan menjadi fasilitas penyedia jasa aliran komoditas utama yang saling menguntungkan antar perusahaan afiliasi.

Laporan riset dari analis Samuel Sekuritas, Juan Harahap dan Ahnaf Yassar, secara objektif membedah potensi aksi korporasi tersebut. Mereka menilai masuknya investasi baru tersebut berpeluang memicu agenda penggalangan dana lanjutan guna mempercepat realisasi proyek infrastruktur hijau emiten tersebut.

"Melalui masuknya calon pemegang saham baru di BIPI, manajemen memposisikan diri untuk memonetisasi fase 'transisi' agresifnya dari inisiatif batu bara ke energi bersih. Kami melihat pengumuman suntikan modal yang akan datang dari BIPI menjadi potensi risiko upside (potensi kenaikan) seiring memudarnya masalah overhang investasi pada inisiatif ekspansi," paparnya. 

Batu Bara Sebagai Mesin Kas Transisi

Data perseroan menunjukkan bahwa dominasi sektor batubara menyumbang 90% porsi pendapatan, sedangkan penyewaan pelabuhan berkontribusi sebesar 8,9%. Sinergi strategis ini akan mengoptimalkan tingginya siklus harga komoditas global guna mencapai target volume produksi berkelanjutan hingga menyentuh level 8 juta ton kelak.

Kenaikan harga energi global akibat dinamika geopolitik memberikan dampak positif terhadap likuiditas keuangan perusahaan tersebut. Arus kas operasional yang mencukupi ini akan dialokasikan secara disiplin oleh pihak manajemen untuk mendanai pengembangan berbagai portofolio infrastruktur energi hijau ke depannya.

"Saat ini, BIPI tetap dominan sebagai pemain batu bara yang diuntungkan oleh harga energi yang lebih kuat di tengah perang Iran. Kami melihat narasi pertumbuhan yang kuat berbasis volume, di mana manajemen menargetkan peningkatan produksi sekitar 1 juta ton setiap tahunnya, dan akan diakselerasi menuju 8 juta ton dalam jangka menengah," ungkapnya. 

Agresivitas Ekspansi Gas Alam dan Panas Bumi

Ekspansi bisnis menuju sektor gas alam cair menjadi fokus rencana perusahaan. Rencana ini dimulai melalui target kapasitas awal sebesar 2,5 mmscfd pada paruh kedua tahun 2026. Kapasitas produksi ini kemudian akan ditingkatkan menuju 20 mmscfd pada tahun 2027 hingga 2028.

Perusahaan juga tengah mempersiapkan pembangunan dua fasilitas gas alam cair berskala besar. Pabrik berkapasitas 50 mmscfd tersebut akan beroperasi di Batam pada tahun 2029, disusul kemudian oleh fasilitas serupa di wilayah Aceh dengan target penyelesaian pada tahun 2030 hingga 2031.

Selain gas alam, perseroan mulai menargetkan keterlibatan aktif pada proyek tender infrastruktur negara. Melalui skema kemitraan bersama Danantara, emiten ini berpartisipasi pada tender tahap kedua proyek pengolahan sampah menjadi energi di wilayah Yogyakarta dengan target total kapasitas sebesar 1.500 ton.

Menangkap Peluang Era Kecerdasan Buatan

Peningkatan kebutuhan daya listrik nasional guna menunjang sektor pusat data komputasi memberikan kepastian prospek pasar menjanjikan. Konsolidasi Grup Bakrie dan Danatama diharapkan mampu memperlancar eksekusi pabrik energi panas bumi 150 MW di Ponorogo yang ditargetkan berproduksi pada tahun 2031 kelak.

"Manajemen berargumen bahwa dorongan energi terbarukan dalam jangka menengah akan didukung oleh perkembangan teknologi dan keterbatasan kapasitas, terutama ketika tambahan permintaan listrik terus berakselerasi seiring dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan pusat data," jelasnya. 

Integrasi modal antara para pemegang saham mayoritas dan minoritas ini memberikan sentimen positif bagi prospek jangka panjang perseroan. Pelaku pasar kini memantau secara ketat bagaimana emiten infrastruktur ini merealisasikan program transisi bisnis batubara menuju sektor energi ramah lingkungan.

Risiko terkait beban utang maupun fluktuasi harga komoditas global tetap menjadi faktor koreksi yang perlu diperhitungkan investor. Namun, dukungan permodalan strategis dari kelompok bisnis besar tersebut memberikan landasan cukup kuat bagi perusahaan dalam menjaga tingkat valuasi sahamnya kelak.