Antara Efisiensi dan Ekspansi: Membedah Rapor Biru GOTO
- Membedah rapor biru GOTO dengan EBITDA Rp2 triliun di 2025. Menilik potensi target harga Rp110 serta tantangan daya beli yang membayangi operasional tahun 2026.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Emiten teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) mencatatkan EBITDA yang disesuaikan sebesar Rp2 triliun sepanjang tahun 2025. Pencapaian tingkat profitabilitas operasional ini tercatat berada di atas pedoman kinerja awal perusahaan yang sebelumnya dipatok pada rentang Rp1,8 triliun hingga Rp1,9 triliun.
Berdasarkan laporan keuangannya, kinerja tersebut turut didorong oleh peningkatan pendapatan bersih Grup GOTO yang tumbuh menjadi Rp18,3 triliun secara proforma. Pertumbuhan ini berjalan selaras dengan kenaikan jumlah pengguna bertransaksi tahunan yang bertambah sebesar 24% menjadi 66 juta di seluruh ekosistem perseroan.
Selain itu, GOTO juga terampil memangkas rugi periode berjalan hingga 73% menjadi Rp1,5 triliun pada tahun lalu. Di sisi likuiditas, GOTO turut melaporkan arus kas bebas yang disesuaikan bernilai positif sebesar Rp966 miliar untuk periode tahun penuh 2025.
Kinerja Kuartal Keempat
"GOTO melaporkan adjusted EBITDA grup positif Rp2 triliun pada FY25 atau 106-111% dari panduan, sebuah pencapaian yang mengalahkan perkiraan kami dan ekspektasi pasar secara keseluruhan," tulis analis Indo Premier Sekuritas, Ryan Winipta dan Reggie Parengkuan dalam risetnya pada Kamis, 12 Maret 2026.
Pada periode kuartal keempat tahun 2025, angka EBITDA yang disesuaikan grup mencapai Rp672 miliar, didorong kenaikan segmen teknologi finansial sebesar 66% dan layanan on-demand naik 24%. Total nilai transaksi bruto grup tumbuh 6% secara kuartalan menjadi Rp211 triliun.
Nilai pendapatan bersih grup tercatat naik 19% secara tahunan yang didorong oleh faktor musiman. Perusahaan turut mencatat arus kas bebas positif Rp748 miliar, meskipun biaya layanan e-commerce mengalami sedikit penurunan sebesar 10% secara kuartalan menjadi senilai Rp189 miliar.
Rincian Kinerja Segmental
Total nilai transaksi bruto mobilitas tercatat naik 4%, sedangkan layanan pesan-antar tumbuh 7% secara kuartalan. Margin EBITDA yang disesuaikan pada layanan ODS meluas menjadi 2,3% berkat perbaikan sektor mobilitas yang menutupi penurunan pada lini pesan-antar di kuartal tersebut.
Segmen teknologi finansial juga turut mencatatkan pertumbuhan nilai transaksi inti sebesar 22% secara kuartalan. Peningkatan ini berjalan sejalan dengan jumlah pinjaman beredar yang naik 15% menjadi Rp8,7 triliun, sehingga pendapatan bersih dari segmen ini melonjak tinggi menjadi Rp1,6 triliun.
Sementara itu, entitas PT Tokopedia tercatat menyumbang laba bersih sekitar Rp600 miliar yang utamanya berasal dari item non-operasional bersifat non-tunai. GOTO juga mencatat penyesuaian penurunan nilai pada portofolio investasi yang sebelumnya dilakukan di perusahaan tercatat maupun perusahaan tertutup.
Target Bisnis dan Rekomendasi Saham
Manajemen memberikan panduan EBITDA yang disesuaikan untuk tahun penuh 2026 sebesar Rp3,2 triliun hingga Rp3,4 triliun. Target tersebut telah mencakup beban biaya insentif kesejahteraan mitra pengemudi beserta Bonus Hari Raya yang akan dikeluarkan pada kuartal pertama 2026 mendatang.
"Pada segmen ODS, GOTO memperkirakan pertumbuhan satu digit tingkat atas secara tahunan di FY26F, dengan perusahaan berfokus pada segmen pasar massal tanpa mengorbankan margin. Bisnis pinjaman juga diproyeksikan meluas karena penggunanya baru mencapai satu digit persentase," jelas analis.
Margin EBITDA yang disesuaikan pada layanan on-demand tersebut diproyeksikan akan terus bertumbuh pada periode tahun depan. Namun, analis memperkirakan peningkatan margin ini tidak akan sebesar capaian perluasan margin pada tahun sebelumnya yang sempat menyentuh level seratus basis poin.
"Kami telah menyesuaikan perkiraan adjusted EBITDA FY26F/27F kami masing-masing sebesar -14%/+4%, dengan secara cermat memperhitungkan tingginya harga energi di FY26F, yang dapat memengaruhi tingkat daya beli masyarakat secara luas di Indonesia," tandas analis riset Indo Premier Sekuritas tersebut.
Analis Indo Premier Sekuritas mempertahankan peringkat Beli dengan target harga saham sebesar Rp110 per lembar. Keputusan ini didukung oleh perbaikan berkelanjutan dalam adjusted EBITDA yang didorong oleh operating leverage, meskipun terdapat risiko penurunan akibat persaingan ketat di segmen ODS.

Alvin Bagaskara
Editor
