Anomali BBCA yang Terus Diburu Asing Saat Net Sell Rp76 T
- Meski investor asing mencatat net sell Rp76 triliun sepanjang 2026, saham BBCA justru menjadi incaran utama. Simak empat alasan yang mendukungnya.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Investor asing masih terus melakukan aksi jual (net sell) besar-besaran di pasar saham Indonesia sepanjang 2026. Hingga pertengahan Juli, dana asing yang keluar dari Bursa Efek Indonesia (BEI) telah mencapai sekitar Rp76,15 triliun, menjadikannya salah satu periode arus keluar modal terbesar dalam beberapa tahun terakhir.
Di tengah derasnya aksi jual tersebut, muncul satu anomali yang menarik perhatian pelaku pasar, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru menjadi saham yang paling banyak diborong investor asing.
Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa investor global sebenarnya tidak sepenuhnya meninggalkan pasar Indonesia. Sebaliknya, mereka menjadi jauh lebih selektif dalam memilih aset.
Di tengah tekanan terhadap Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), dana asing justru mengalir ke emiten yang dinilai memiliki fundamental kuat, tata kelola perusahaan (good corporate governance) yang baik, likuiditas tinggi, serta free float yang bersih. BBCA menjadi representasi paling jelas dari kecenderungan tersebut.
Baca juga : Kembali Tertekan, 1 Dolar AS Berapa Rupiah Hari Ini?
Asing Masih Keluar dari Bursa Indonesia
Tekanan jual asing terhadap pasar saham domestik belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Berdasarkan data pasar, hingga pertengahan Juli 2026 investor asing telah membukukan net sell sekitar Rp76,15 triliun secara year-to-date (YTD). Sementara itu, Samuel Sekuritas juga mencatat arus keluar modal asing telah mencapai sekitar Rp75 triliun hingga pertengahan tahun.
Besarnya aksi jual tersebut ikut membebani kinerja IHSG yang tercatat telah melemah sekitar 31,49% secara year-to-date, mencerminkan tekanan terhadap aset-aset berisiko di pasar domestik.
Tekanan juga masih berlanjut pada pekan kedua Juli. Sepanjang perdagangan 6–10 Juli 2026, investor asing kembali membukukan net sell Rp1,73 triliun. Bahkan pada Jumat, 10 Juli 2026 saja, asing masih mencatatkan net sell Rp421,5 miliar di seluruh pasar.
Baca juga : IHSG Dibuka Turun 0,35 Persen, Cek Data Lengkapnya
BBCA Jadi Saham Paling Banyak Dibeli Asing
Di tengah derasnya arus keluar modal asing, saham BBCA justru menjadi tujuan utama pembelian investor global.
Sepanjang periode 6–10 Juli 2026, BBCA mencatat net foreign buy sebesar Rp609 miliar hingga Rp638 miliar, tergantung metode perhitungan transaksi yang digunakan. Nilai tersebut menjadi yang terbesar dibandingkan seluruh emiten di Bursa Efek Indonesia.
Bahkan dalam satu bulan terakhir, total pembelian bersih investor asing pada saham BBCA telah mencapai sekitar Rp1,368 triliun.
Yang menarik, sepanjang periode 1–9 Juli 2026, saham BBCA tercatat selalu membukukan net foreign buy setiap hari, memperlihatkan konsistensi akumulasi oleh investor asing di tengah tekanan pasar yang masih berlangsung.
Pada perdagangan Jumat, 10 Juli 2026, saham BBCA ditutup di level Rp6.175 per saham. Memasuki perdagangan Senin, 13 Juli 2026, saham ini dibuka di Rp6.150 atau turun tipis sekitar 0,40%. Meski demikian, secara mingguan selama periode 6–10 Juli, BBCA masih mampu membukukan kenaikan sekitar 2,07%.
Besarnya pembelian asing terhadap BBCA terlihat semakin jelas jika dibandingkan dengan saham lain yang juga mencatat net foreign buy.
Sepanjang pekan 6–10 Juli 2026, daftar saham dengan pembelian asing terbesar adalah,
- BBCA – Rp609,0 miliar
- MBMA – Rp244,4 miliar
- BRPT – Rp74,1 miliar
- ADRO – Rp57,0 miliar
- ELSA – Rp41,2 miliar
- GOTO – Rp36,4 miliar
- INDF – Rp31,9 miliar
- BBTN – Rp29,9 miliar
- BUVA – Rp27,2 miliar
- TINS – Rp24,7 miliar
Dari daftar tersebut terlihat jelas bahwa nilai pembelian asing terhadap BBCA mencapai lebih dari dua kali lipat dibandingkan saham di posisi kedua, yakni MBMA. Selisih yang sangat lebar tersebut memperlihatkan JIKA BBCA memang menjadi pilihan utama investor global ketika melakukan penempatan dana di Indonesia.
Mengapa BBCA Tetap Diburu Investor Asing?
1. Efek Aliran Dana ETF Pasif BlackRock
Salah satu faktor yang menjelaskan derasnya pembelian asing adalah aliran dana melalui iShares MSCI Indonesia ETF (EIDO) yang diterbitkan oleh BlackRock Inc.
EIDO merupakan exchange traded fund (ETF) yang diperdagangkan di New York dan mengikuti pergerakan indeks MSCI Indonesia. Dalam indeks tersebut, BBCA merupakan konstituen dengan bobot terbesar, yakni sekitar 22%.
Artinya, setiap kali dana global masuk ke ETF EIDO, sebagian besar dana tersebut secara otomatis dialokasikan ke saham BBCA. Mekanisme investasi pasif ini membuat BBCA memperoleh porsi pembelian paling besar dibandingkan saham Indonesia lainnya.
Dengan kata lain, walaupun investor asing secara keseluruhan masih melakukan net sell di pasar Indonesia, aliran dana melalui ETF global tetap menjadi katalis positif bagi BBCA.
Baca juga : Hanya 8 Saham yang Naik di Pembukaan LQ45 Hari Ini
2. Fundamental Tetap Menjadi yang Terbaik
Selain faktor ETF, alasan utama lainnya adalah kualitas fundamental BBCA yang dinilai tetap sangat kuat. Per Maret 2026, BBCA mencatat sejumlah indikator keuangan yang menjadi salah satu yang terbaik di industri perbankan nasional.
Beberapa indikator tersebut antara lain:
- Return on Equity (ROE): 21,73%, sekitar 13% lebih tinggi dibandingkan median historis 10 tahun.
- Return on Assets (ROA): 3,9%.
- Non-Performing Loan (NPL): sekitar 2%.
- Capital Adequacy Ratio (CAR): 29,8%, tertinggi di antara bank-bank besar nasional.
- Current Account Saving Account (CASA): 84,6%, mencerminkan struktur dana murah yang sangat kuat.
ROE BBCA juga menjadi salah satu yang tertinggi di antara kelompok bank besar di Indonesia.
DBS dalam risetnya bahkan memperkirakan ROE BBCA akan tetap stabil di kisaran 21% hingga tahun buku 2028, menunjukkan ekspektasi bahwa profitabilitas perseroan masih akan terjaga dalam jangka panjang.
3. Valuasi Sudah Turun ke Level Historis
Dari sisi valuasi, BBCA juga dinilai semakin menarik setelah mengalami koreksi yang cukup dalam. Valuasi BBCA berdasarkan 12-month forward price to book value (P/B) telah turun dari sekitar 4,7 kali pada November 2024 menjadi hanya sekitar 2,6 kali.
Level tersebut disebut sebagai valuasi terendah sejak periode Global Financial Crisis (GFC). Di sisi lain, kepemilikan investor asing di BBCA juga turun menjadi sekitar 30,9% per Maret 2026, merupakan level terendah dalam sembilan tahun terakhir.
Padahal sebelumnya, Direktur BCA Hendra Lembong pernah menyebut kepemilikan asing di BBCA berada pada kisaran 70%–80%.
Penurunan kepemilikan asing tersebut justru menciptakan ruang bagi investor global untuk kembali melakukan akumulasi ketika valuasi dinilai sudah jauh lebih murah dibandingkan kondisi historis.
4. Target Harga Masih Jauh di Atas Harga Pasar
Sejumlah rumah riset juga masih memberikan rekomendasi positif terhadap saham BBCA.
Beberapa target harga yang diberikan analis antara lain,
- RHB Sekuritas
- Target harga: Rp9.700
- Potensi kenaikan: sekitar 57%
- DBS
- Target harga: Rp9.000
- Potensi kenaikan: sekitar 46%
- Samuel Sekuritas
- Target harga: Rp8.600
- Potensi kenaikan: sekitar 39%
Dengan harga perdagangan yang masih berada di kisaran Rp6.150–Rp6.175, seluruh target tersebut menunjukkan potensi kenaikan yang masih cukup besar. Mayoritas analis pun masih mempertahankan rekomendasi buy terhadap saham BBCA.
Pelajaran bagi Investor Ritel
Fenomena ini memberikan sejumlah pelajaran penting bagi investor domestik.
- Pertama, aksi jual asing secara agregat tidak selalu berarti seluruh saham memiliki prospek buruk. BBCA justru membuktikan bahwa saham dengan fundamental kuat tetap menjadi tujuan akumulasi investor global.
- Kedua, valuasi menjadi faktor yang sangat penting. Ketika harga saham turun hingga valuasi mencapai level terendah dalam beberapa tahun, sementara fundamental perusahaan tetap kuat, kondisi tersebut sering kali menjadi peluang bagi investor jangka panjang.
- Ketiga, kualitas perusahaan tetap menjadi faktor utama dalam keputusan investasi. Kinerja BBCA yang ditopang ROE di atas 20%, NPL yang rendah, CAR hampir 30%, serta CASA di atas 84% menjadi alasan utama mengapa saham ini tetap dipercaya.
- Keempat, investor juga perlu memahami mekanisme investasi pasif global. Masuknya dana melalui ETF seperti EIDO membuat saham-saham dengan bobot besar dalam indeks MSCI Indonesia memperoleh aliran dana otomatis, terlepas dari kondisi pasar secara keseluruhan.
Di saat banyak saham ditinggalkan, BBCA justru menjadi bukti bahwa kualitas tetap menjadi mata uang utama di pasar modal.

Chrisna Chanis Cara
Editor
