Anggaran JKN Naik, Saham Rumah Sakit Ini Mulai Dilirik
- Dengan cakupan JKN hampir menyentuh seluruh populasi dan ekspansi agresif hingga 2030, saham HEAL dinilai masih menyimpan potensi kenaikan menarik.

Ananda Astri Dianka
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID — PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL) kian mengukuhkan posisinya sebagai pemain utama rumah sakit berbasis volume di Indonesia. Dengan cakupan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang kini telah menjangkau sekitar 99% penduduk, Hermina berada di jalur strategis untuk menyerap permintaan layanan kesehatan mass market, terutama segmen ibu, anak, dan persalinan.
Riset Ciptadana Sekuritas Asia per 30 Desember 2025 mencatat, kekuatan utama Hermina terletak pada rekam jejak panjang di layanan obstetri, ginekologi, dan pediatri. Fokus ini membuat volume pasien relatif stabil dan tahan terhadap fluktuasi ekonomi, sebuah karakteristik yang penting bagi investor pemula yang mencari bisnis defensif.
Tak berhenti pada layanan dasar, Hermina juga mulai meningkatkan kualitas pendapatannya. Perusahaan secara bertahap memperluas layanan bernilai tambah tinggi, seperti onkologi dan kardiologi, yang memiliki margin lebih baik. Langkah ini ditopang oleh jaringan rumah sakit yang luas dan rencana ekspansi agresif, dengan target kapasitas 12.000 hingga 15.000 tempat tidur pada 2030.
Ekspansi tersebut diperkuat oleh sejumlah kemitraan strategis, mulai dari Astra dan Grup Djarum, kolaborasi dengan perusahaan farmasi domestik, hingga kerja sama dengan BPJS Ketenagakerjaan untuk rujukan kasus kecelakaan kerja secara nasional. Di sisi operasional, model kemitraan dengan dokter menjadi salah satu keunggulan Hermina dalam menjaga kualitas layanan sekaligus mempertahankan tenaga medis.
Dukungan Kebijakan Jadi Katalis
Industri rumah sakit nasional dinilai memasuki fase yang lebih kondusif seiring bergulirnya pemerintahan baru. Hal ini tercermin dari proyeksi kenaikan anggaran kesehatan pada 2026, peningkatan subsidi premi JKN, serta upaya memperbaiki kondisi keuangan BPJS agar cakupan layanan universal tetap berkelanjutan.
Selain itu, program skrining kesehatan nasional dan peningkatan kapasitas dokter spesialis diperkirakan akan mendorong pertumbuhan trafik pasien, sekaligus mengurangi kendala kekurangan tenaga medis yang selama ini menjadi tantangan sektor kesehatan.
Namun, dengan tingkat kepesertaan JKN yang sudah mendekati titik jenuh, pertumbuhan volume pasien ke depan diperkirakan akan melambat ke level yang lebih normal. Dalam konteks ini, kebijakan tarif menjadi faktor kunci. Rencana peralihan dari sistem tarif INA-CBG ke iDRG, yang dinilai lebih mencerminkan biaya riil layanan medis, berpotensi menjadi pengubah permainan bagi industri.
Bagi operator dengan basis pasien JKN besar seperti Hermina, perubahan ini berpeluang menghadirkan margin yang lebih stabil, visibilitas laba yang lebih baik, serta insentif untuk mengembangkan layanan medis berkompleksitas tinggi.
- Baca Juga: Borong 30 Juta Saham Hermina (HEAL), Astra Internasional (ASII) Terjun ke Bisnis Rumah Sakit
Implikasi bagi Investor
Ciptadana Sekuritas Asia menginisiasi cakupan saham HEAL dengan rekomendasi BUY dan target harga Rp1.600 per saham. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan sekitar 16% dari harga terakhir. Valuasi didasarkan pada metode discounted cash flow (DCF) dengan proyeksi lima tahun, asumsi pertumbuhan terminal 4%, serta WACC 8%.
Pada level tersebut, valuasi HEAL setara dengan 13,6 kali EV/EBITDA 2026F. Angka ini masih sejalan dengan rerata historis Hermina, meski berada sedikit di atas rata-rata emiten rumah sakit domestik lainnya.
Dengan permintaan layanan kesehatan yang bersifat struktural, skala operasional besar, serta posisi kuat di segmen mass market, saham Hermina dinilai masih menawarkan margin of safety yang wajar. Meski begitu, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko, seperti perlambatan trafik pasien, tekanan berkelanjutan pada keuangan BPJS, potensi penundaan reformasi tarif, proses ramp-up rumah sakit baru yang tidak sesuai target, pelemahan ekonomi, hingga meningkatnya tren wisata medis ke luar negeri.

Ananda Astri Dianka
Editor
