Tren Pasar

Alasan Harus Serok Saham BBCA Cs Usai Terdampar Efek MSCI

  • Isu MSCI membuat saham BBCA, BBRI, dan BMRI terdiskon ke level bursa frontier meskipun fundamental tetap kuat. Kondisi ini menjadi peluang investasi strategis.
Menara BCA.jpeg
Menara BCA di Bundaran HI milik PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), bank swasta terbesar di Indonesia yang sahamnya digenggam oleh keluarga konglomerat Michael-Robert Hartono / Bca.co.id (Bca.co.id)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Sejumlah saham unggulan Indonesia kini terdiskon hingga menyentuh level valuasi bursa saham frontier akibat kekhawatiran penurunan status indeks MSCI. Isu investability menjadi pemicu utama yang menekan harga aset meskipun kondisi fundamental perusahaan domestik sebenarnya tetap sangatlah kokoh.

Analis Sucor Sekuritas Arief Putra mengungkapkan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) merupakan emiten paling terdampak oleh sentimen negatif tersebut. Tekanan jual masif ini membuat harga saham bank swasta terbesar nasional tersebut terkoreksi cukup tajam sepanjang pekan perdagangan yang sangat dinamis ini.

Menutup perdagangan Selasa, 25 Februari 2026, saham BBCA bertengger pada level Rp7.225 dengan koreksi mencapai angka 10% secara year-to-date. Fenomena diskon harga ini merupakan momentum akumulasi strategis bagi investor yang tetap meyakini ketangguhan ekonomi Indonesia di masa depan nanti.

1. Ketangguhan Fundamental Bank BCA

Asal tahu saja, fundamental BBCA terbukti tetap solid di tengah tekanan makro ekonomi yang sangat menantang. Perseroan berhasil mempertahankan pertumbuhan laba per saham atau (Earnings Per Share/EPS) sekitar 5% pada 2025 dengan Return on Equity/ROE terjaga.

Bank swasta terbesar ini juga mencatatkan pertumbuhan kredit dan total aset masing-masing sebesar 12% dan 6% dalam dua tahun terakhir. Di tengah ekspansi tersebut, manajemen mampu menjaga (Net Interest Margin/NIM) tetap stabil pada level 6% dengan (Return on Assets/ROA).

Rasio ekuitas terhadap aset yang konservatif pada kisaran 5 kali menunjukkan posisi permodalan bank yang sangat kuat. "Dengan modal berlebih, BBCA dinilai memiliki ruang peningkatan (Return on Equity/ROE) melalui normalisasi leverage secara prudent serta realokasi aset ke pinjaman," tulis Arief dalam risetnya pada Rabu, 25 Februari 2026.

2. Target Rebound dan Potensi Valuasi

Berbagai faktor fundamental tersebut mendorong Arief untuk tetap mempertahankan rekomendasi beli saham BBCA. Ia menetapkan target harga jangka panjang pada level Rp11.500 per saham seiring dengan adanya potensi pemulihan rasio nilai buku di pasar.

Apabila risiko makro mereda dan kinerja operasional tetap solid, rasio (Price to Book/PB) saham BBCA berpotensi kembali meningkat menuju level 4,8 kali. Peningkatan valuasi ini mencerminkan kepercayaan investor terhadap efisiensi manajemen bank dalam mengelola modal secara optimal setiap tahunnya secara berkelanjutan.

Penurunan harga saham sebesar 19% secara tahunan dipandang sebagai deviasi sementara yang tidak mencerminkan kualitas aset perseroan sebenarnya. Momentum ini menjadi waktu tepat bagi pengelola dana untuk menyusun ulang portofolio mereka dengan aset perbankan yang memiliki margin keamanan tinggi.

3. Akumulasi Saham Perbankan Negara

Bukan hanya BBCA, aksi jual akibat peringatan MSCI juga menyeret harga saham bank pelat merah ke level yang sangat atraktif. Kendati begitu, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) tetap direkomendasikan beli dengan target harga cukup tinggi mencapai level Rp5.200 per unit saham.

Kondisi serupa dialami oleh raksasa perbankan negara yakni PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang ditargetkan mampu menyentuh harga Rp6.300. Sementara itu, saham PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) juga mendapatkan rekomendasi beli dengan target harga menuju level psikologis Rp3.400 per saham.

Menurut Arief, penurunan harga sejumlah saham perbankan ini justru membuka peluang akumulasi karena didukung fundamental kuat. "Koreksi harga saat ini lebih mencerminkan sentimen pasar jangka pendek, dibanding adanya indikasi pelemahan kinerja struktural pada industri perbankan nasional," paparnya dalam laporan.

4. Pertahanan Sektor Konsumsi Domestik

Di luar sektor perbankan, sektor konsumsi menawarkan daya tarik pertahanan yang sangat kuat bagi para investor di tengah ketidakpastian bursa saham domestik. Emiten produsen makanan yakni PT Mayora Indah Tbk (MYOR) menjadi pilihan utama dengan target harga yang dipatok oleh Arief pada level angka Rp2.650.

Ketangguhan model bisnis perusahaan konsumsi yang berorientasi lokal menjadikannya sangat tahan banting terhadap ancaman resesi maupun pelemahan rupiah. Fundamental yang kuat didukung oleh potensi tambahan dukungan fiskal pemerintah akan menjadi katalis utama pendorong penguatan harga saham MYOR ke arah yang jauh lebih positif.

Arief menekankan bahwa perusahaan yang berorientasi domestik relatif lebih tangguh terhadap tekanan makroekonomi global yang sedang terjadi. Strategi akumulasi beli disarankan kepada investor ritel karena valuasi sektor konsumsi saat ini dinilai sudah semakin menarik secara perhitungan valuasi historis harian bursa.

5. Ekspansi Sektor Digital dan Telko

Peluang investasi strategis juga merambah ke sektor telekomunikasi serta infrastruktur digital nasional yang terus menunjukkan tren pertumbuhan positif. Emiten PT XL Axiata Tbk (EXCL) mendapatkan perhatian melalui rekomendasi beli dengan target harga yang ditetapkan Arief sebesar Rp7.550 per unit saham tersebut.

Selain itu, emiten infrastruktur teknologi PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) turut masuk dalam daftar belanja dengan target harga Rp9.500. Kedua emiten ini dinilai memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang sangat cerah seiring dengan akselerasi digitalisasi nasional yang sedang berlangsung secara masif.

Seluruh deretan saham pilihan tersebut kini memiliki valuasi yang semakin menarik bagi investor ritel maupun institusi setelah dihantam badai MSCI. Saat harga pasar sudah terdiskon jauh di bawah nilai intrinsiknya, inilah waktu terbaik bagi Anda segera melakukan aksi beli saham strategis di bursa.