Ahli Feng Shui: Reli IHSG Didukung Energi Kayu, 2026 Jadi Masa Transisi
- Menurut pakar feng shui Vincent Goh, keseimbangan elemen kayu dan air menjadi kunci agar pasar tetap stabil di tengah perubahan energi global.

Alvin Bagaskara
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mencetak sejarah. Pada perdagangan Jumat, 24 Oktober 2025, indeks komposit sempat menembus level intraday tertinggi 8.351 sebelum ditutup menguat 0,46% ke posisi 8.312,57 di akhir sesi perdangangan pertama.
Reli indeks ini didorong oleh kebangkitan saham blue chip. Saham PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) melesat 10,62%, disusul PT Astra International Tbk (ASII) naik 4,7%, dan PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) yang melonjak 9,41%.
Sektor perbankan juga memberi dorongan signifikan. Saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) naik 2,26%, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 1,57%, serta PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI) yang terapresiasi 3,3%.
Setali tiga uang, saham-saham konglomerasi energi seperti TPIA, BREN, dan PTRO dari Grup Barito turut menopang kenaikan, bersama RAJA yang menanjak 4,13%. Secara sektoral, laju IHSG ditopang oleh properti (+3,65%) dan barang konsumsi non-primer (+2,07%).
Energi Kayu Pendorong Reli Saham
Menariknya, kenaikan tajam IHSG ini juga mendapat sorotan dari sudut pandang feng shui. Vincent Goh, pakar feng shui asal Malaysia yang menjadi pembicara dalam OCBC Business Forum 2025 di Jakarta.
Vincent menilai bahwa pasar saham sedang berada di bawah pengaruh kuat elemen kayu. “Pasar saham tergantung pada elemen kayu. Saat ini, energi kayu sedang aktif, dan itu mendorong pertumbuhan serta optimisme investor,” ujar Vincent.
Menurut teori lima elemen (Wu Xing), kata Vincent, kayu melambangkan pertumbuhan, ekspansi, dan kreativitas, karakteristik yang identik dengan kebangkitan sektor keuangan dan pasar modal. Elemen ini biasanya mencapai puncaknya pada pertengahan tahun, terutama sekitar bulan Juni.
“Tapi elemen kayu hanya bisa tumbuh jika didukung air. Air adalah elemen penggerak bagi kayu. Tanpa keseimbangan, energi pasar bisa kehilangan arah,” ujar Vincent.
Untuk itu, kata dia, reli sebuah saham atau indeks, menggambarkan fase pertumbuhan yang sehat. Namun, ia menekankan terhadap investor untuk tetap perlu diwaspadai karena energi kayu juga membawa potensi volatilitas tinggi bila tidak ditopang elemen penyeimbang.
Waspadai Tekanan 2026: Air Surut, Kayu Kering
Vincent memperingatkan bahwa meski fase akhir 2025 membawa energi positif bagi pasar, tahun 2026 akan memasuki siklus tekanan baru. Ia memprediksi bulan Juni 2026 sebagai periode yang paling rentan terhadap pelemahan pasar dan gejolak keuangan global.
“Seluruh sektor keuangan dunia pada 2026 akan menghadapi tekanan. Energi kayu mencapai titik tertinggi pada pertengahan tahun, lalu menurun cepat. Saat air surut, kayu kehilangan daya dorong,” jelasnya.
Menurutnya, investor perlu berhati-hati menghadapi masa transisi ini. “Jika Anda berada di pasar, perhatikan waktu. Jangan hanya fokus pada reli sekarang, tapi siapkan strategi untuk mengantisipasi perubahan energi di tahun depan,” katanya.
Meski begitu, Vincent tetap menekankan sisi positif dari siklus tersebut. “Ketika energi berubah, selalu ada peluang baru. Waktu berbahaya justru bisa menjadi saat terbaik untuk memulai sesuatu yang baru, asal dilakukan dengan kesadaran dan kesiapan,” tandasnya. .

Alvin Bagaskara
Editor
