7 Saham yang Terus Diakumulasi Asing Juni-Juli 2026, Ada ENRG dan PTRO
- Ini daftar 7 emiten yang jarang dibahas tetapi konsisten diborong investor asing, dari sektor emas, migas, digital hingga pertambangan.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Di tengah dominasi saham-saham perbankan besar seperti PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) sebagai tujuan utama dana asing, terdapat sejumlah emiten lain yang mulai menunjukkan pola akumulasi menarik sepanjang Juni hingga pertengahan Juli 2026.
Sebagian besar saham tersebut berasal dari sektor komoditas, energi, pertambangan, jasa keuangan non-bank, hingga media digital. Meski tidak sepopuler saham-saham berkapitalisasi besar, data perdagangan menunjukkan investor asing secara konsisten menambah kepemilikan pada emiten-emiten ini.
Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, Senin, 20 Juli 2026, berikut tujuh saham yang relatif jarang menjadi sorotan, namun mencatatkan aksi beli bersih (net buy) asing yang cukup signifikan.
1. PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS)
PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) menjadi emiten dengan akumulasi dana asing terbesar sepanjang periode Juni 2026. Dalam sepekan perdagangan pada 15–19 Juni, saham ini mencatat net buy sekitar Rp3,47 triliun hingga Rp3,55 triliun, jauh melampaui sebagian besar emiten lainnya di Bursa Efek Indonesia.
Nilai pembelian tersebut tergolong luar biasa karena jarang terjadi pada emiten yang relatif belum menjadi perhatian utama investor ritel. Selama ini perhatian pasar lebih banyak tertuju kepada induk usahanya, PT Merdeka Copper Gold Tbk. (MDKA), sehingga pergerakan EMAS kerap luput dari sorotan.
Minat investor asing terhadap EMAS tidak terlepas dari prospek industri emas global. Ketidakpastian geopolitik di berbagai kawasan, arah kebijakan suku bunga bank sentral dunia yang masih berubah-ubah, serta tingginya permintaan aset safe haven membuat harga emas bertahan di level tinggi. Kondisi tersebut meningkatkan daya tarik perusahaan-perusahaan yang memiliki eksposur terhadap komoditas emas.
Baca juga : Pohon Bisnis Arsjad Rasjid: Dari Batu Bara, Properti sampai EV
2. PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG)
Saham PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) juga menjadi salah satu emiten yang mulai menarik perhatian investor asing.
Pada periode 29 Juni hingga 3 Juli 2026, ENRG membukukan net buy Rp104,4 miliar. Akumulasi tersebut berlanjut pada pekan pertama Juli dengan tambahan pembelian bersih sekitar Rp120,9 miliar.
Konsistensi pembelian tersebut menunjukkan investor asing mulai meningkatkan eksposur terhadap sektor minyak dan gas bumi. Berbeda dengan perusahaan energi berbasis batu bara, ENRG memiliki bisnis yang berfokus pada eksplorasi dan produksi minyak serta gas alam, sehingga menawarkan diversifikasi di sektor energi.
Momentum tersebut terjadi ketika valuasi pasar saham Indonesia semakin menarik. Dalam enam bulan terakhir, rasio price earnings ratio (PER) IHSG disebut turun dari sekitar 17 kali menjadi 12 kali, membuat banyak saham energi dipandang lebih murah dibandingkan periode sebelumnya.
Selain itu, harga minyak dunia yang masih bergerak fluktuatif turut menciptakan peluang bagi emiten migas seperti ENRG untuk meningkatkan kinerja apabila harga energi kembali menguat.
3. PT Capital Financial Indonesia Tbk. (CASA)
Investor asing juga mulai melirik sektor jasa keuangan non-bank melalui PT Capital Financial Indonesia Tbk. (CASA).
Emiten ini mencatat net buy sekitar Rp57,2 miliar pada periode 29 Juni hingga 3 Juli 2026. Meskipun nilainya tidak sebesar saham-saham perbankan utama, pembelian tersebut cukup signifikan mengingat kapitalisasi pasar CASA relatif lebih kecil.
Fenomena ini memperlihatkan adanya perubahan strategi investor asing. Jika sebelumnya dana asing lebih banyak mengalir ke bank-bank besar seperti BBCA, BMRI, atau BBRI, kini sebagian mulai dialihkan ke perusahaan jasa keuangan yang memiliki potensi pertumbuhan lebih tinggi.
CASA juga termasuk saham yang relatif jarang dibahas di media arus utama sehingga pergerakan akumulasi asing menjadi salah satu indikator yang layak diperhatikan pelaku pasar.
4. PT Pacific Strategic Financial Tbk. (APIC)
Selain CASA, saham PT Pacific Strategic Financial Tbk. (APIC) juga menunjukkan pola serupa. Perusahaan ini membukukan net buy sekitar Rp44,9 miliar selama periode 29 Juni hingga 3 Juli 2026.
Sebagai perusahaan yang bergerak di sektor jasa keuangan dan investasi, APIC selama ini tidak banyak menjadi perhatian investor ritel. Namun, masuknya dana asing secara konsisten mengindikasikan adanya strategi akumulasi terhadap emiten finansial berkapitalisasi menengah.
Baca juga : IHSG Turun 0,36 Persen di Pembukaan Hari Ini 17 Juli 2026
5. PT MNC Digital Entertainment Tbk. (MSIN)
Sektor ekonomi digital juga mulai masuk dalam radar investor asing melalui PT MNC Digital Entertainment Tbk. (MSIN). Saham ini mencatat net buy sekitar Rp40,8 miliar pada periode 29 Juni–3 Juli dan kembali memperoleh tambahan sekitar Rp40,82 miliar pada pekan pertama Juli.
MSIN merupakan bagian dari ekosistem media dan digital MNC Group yang memiliki bisnis di bidang konten digital, hiburan, media streaming, hingga platform digital.
Masuknya investor asing menunjukkan bahwa sektor digital Indonesia masih dipandang memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang, terutama seiring meningkatnya konsumsi konten digital dan transformasi perilaku masyarakat menuju layanan berbasis internet.
Akumulasi asing pada MSIN juga menjadi sinyal bahwa minat investor tidak hanya terfokus pada sektor komoditas, tetapi mulai meluas ke sektor teknologi dan media.
6. PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA)
PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA) menjadi salah satu emiten yang mencatat pola akumulasi asing paling konsisten. Dalam beberapa periode perdagangan sepanjang Juni hingga awal Juli 2026, DSSA membukukan net buy sekitar Rp115,5 miliar hingga Rp164,2 miliar.
Sebagai bagian dari Grup Sinar Mas, DSSA memiliki portofolio bisnis yang cukup beragam, mulai dari energi, pertambangan, infrastruktur, hingga investasi digital. Diversifikasi tersebut membuat perusahaan tidak terlalu bergantung pada satu sumber pendapatan.
Meski memiliki kapitalisasi pasar besar, DSSA relatif lebih jarang menjadi topik utama dibandingkan saham-saham Grup Barito seperti PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) maupun PT Barito Pacific Tbk. (BRPT).
Masuknya dana asing secara konsisten mengindikasikan bahwa investor global melihat potensi pertumbuhan jangka panjang dari model bisnis perusahaan yang terdiversifikasi.
7. PT Petrosea Tbk. (PTRO)
Emiten terakhir yang menarik perhatian investor asing adalah PT Petrosea Tbk. (PTRO). Pada perdagangan 16 Juli 2026, saham ini mencatat net buy sekitar Rp34,8 miliar.
Meski nilai pembeliannya lebih kecil dibanding beberapa emiten lain, angka tersebut cukup signifikan bagi PTRO yang selama ini relatif jarang masuk dalam daftar saham dengan transaksi asing terbesar.
Petrosea dikenal sebagai perusahaan jasa pertambangan, rekayasa konstruksi, dan logistik yang telah beroperasi selama puluhan tahun di Indonesia.
Minat asing terhadap PTRO sejalan dengan meningkatnya pembelian pada saham-saham pertambangan lain seperti PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM), PT Vale Indonesia Tbk. (INCO), PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN), dan PT Timah Tbk. (TINS).
Baca juga : Hanya 5 Saham yang Naik di Pembukaan LQ45 Hari Ini, Ada BBTN
Pola perdagangan sepanjang Juni hingga pertengahan Juli 2026 memperlihatkan bahwa investor asing tidak lagi hanya berfokus pada saham-saham berkapitalisasi besar. Mereka mulai melakukan akumulasi pada emiten-emiten yang selama ini relatif kurang mendapat perhatian, namun memiliki prospek pertumbuhan yang dinilai menarik.
Sektor komoditas, energi, pertambangan, jasa keuangan non-bank, hingga ekonomi digital menjadi tema investasi yang paling banyak menarik minat investor asing.
Meski demikian, pelaku pasar tetap perlu mencermati bahwa secara kumulatif sepanjang 2026 investor asing masih mencatat net sell sekitar Rp92 triliun di pasar saham Indonesia.
Oleh karena itu, data net buy asing sebaiknya dijadikan sebagai salah satu indikator untuk membaca minat pasar, bukan sebagai satu-satunya dasar dalam mengambil keputusan investasi.

Chrisna Chanis Cara
Editor
