Usai Reli 4 Persen, Mampukah IHSG Tembus 7.000 hingga Akhir Tahun?
- IHSG ditutup melonjak 4,12% ke level 6.254. Simak prediksi analis, saham rekomendasi, target akhir 2026, serta risiko MSCI yang membayangi pasar.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Senin, 15 Juni 2026, menjadi perhatian pelaku pasar setelah sentimen global berbalik positif menyusul meredanya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.
Optimisme tersebut langsung tercermin pada pembukaan perdagangan pada hari Senin, 15 Januari 2026, di mana IHSG sempat melonjak ke level 6.118 dan ditutup di angka 6254 atau melesat 4,12% pada sesi perdagangan II.
Capaian diatas menjadikan IHSG salah satu bursa dengan performa terbaik di kawasan Asia. Meski demikian, para analis mengingatkan bahwa reli pasar belum sepenuhnya bebas dari risiko.
Sejumlah faktor eksternal dan domestik masih berpotensi memengaruhi arah pergerakan IHSG dalam jangka pendek hingga akhir tahun, termasuk keputusan penting MSCI terkait status pasar modal Indonesia yang akan diumumkan pada akhir Juni.
Baca juga : Penutupan LQ45 Hari Ini 15 Juni 2026 Ditutup Naik 27,23 ke 624,68 Poin
IHSG Berpotensi Menguat, Namun Tetap Waspadai Koreksi
Mayoritas analis memandang sentimen pasar saat ini masih cenderung positif. Namun mereka berbeda pendapat mengenai seberapa jauh penguatan IHSG dapat berlanjut.
Dilansir TrenAsia dari berbagai sumber, Selasa, 15 Juni 2026, berikut sederet pandangan analis terhadap IHSG,
- MNC Sekuritas: IHSG masih berpotensi mengalami koreksi terbatas meskipun tren penguatan jangka pendek dinilai tetap terjaga. Support berada di level 5.988, sementara resistance di 6.060.
- BNI Sekuritas: Memproyeksikan IHSG melanjutkan penguatan menuju 6.060–6.150. Area support penting berada pada kisaran 5.900–5.960.
- Mirae Asset Sekuritas: Menempatkan support di level 5.917 dan 5.803, dengan resistance pada area 6.058–6.178.
- Kiwoom Sekuritas: Memperkirakan pergerakan IHSG masih cenderung mixed dengan peluang penguatan terbatas. Support berada di 5.858, sedangkan resistance di 6.165.
- Phintraco Sekuritas: Menilai ruang kenaikan masih terbuka dengan support pada kisaran 5.900–6.000 dan resistance di 6.150–6.220.
- Hans Kwee (Praktisi Pasar Modal): Memproyeksikan IHSG bergerak dalam fase konsolidasi menguat dengan support pada area 5.677–5.900 dan resistance di 6.100–6.264.
- Panin Sekuritas (Skenario Konservatif): Memperkirakan IHSG bergerak terbatas pada rentang 5.950–6.050.
- Panin Sekuritas (Skenario Moderat): Melihat peluang pergerakan indeks menuju kisaran 6.000–6.150.
Baca juga : IHSG Hari Ini 15 Juni 2026 Ditutup Naik ke 6.254,97 Poin
Saham Pilihan Analis Hari Ini
Selain memproyeksikan arah indeks, sejumlah analis juga merilis rekomendasi saham yang dinilai menarik untuk dicermati investor. MNC Sekuritas memberikan rekomendasi trading buy pada saham HMSP, INDY, NCKL, dan UNVR.
Target harga yang dipasang antara lain:
- HMSP menuju area Rp650-Rp670 per saham.
- INDY berpotensi bergerak ke kisaran Rp2.560-Rp2.810.
- NCKL memiliki target Rp930-Rp990.
- UNVR diproyeksikan bergerak ke area Rp1.780-Rp2.020.
Binaartha Sekuritas merekomendasikan MBMA, UNTR, dan UNVR sebagai saham pilihan untuk perdagangan jangka pendek.
Sementara tim riset WH-Project memberikan rekomendasi beli pada saham BUMI dengan target Rp162-Rp166 serta FORE dengan target Rp760-Rp800 per saham.
Bagaimana Outlook IHSG Hingga Akhir 2026?
Selain proyeksi harian, pelaku pasar juga mulai memperhatikan target IHSG hingga akhir tahun.
Ciptadana Sekuritas masih mempertahankan pandangan overweight terhadap pasar saham Indonesia dengan target IHSG mencapai 7.780 pada akhir 2026. Meski demikian, proyeksi tersebut telah direvisi turun dari target sebelumnya sebesar 8.960 seiring meningkatnya ketidakpastian global.
HSBC memperkirakan IHSG dapat mencapai level 7.500 hingga akhir tahun meskipun masih dibayangi tekanan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian terkait MSCI.
Korea Investment and Sekuritas Indonesia (KISI) memproyeksikan IHSG bergerak pada rentang 6.800 hingga 7.200. Skenario ini berlaku apabila Indonesia tetap mempertahankan statusnya dalam indeks MSCI Emerging Market dan stabilitas rupiah dapat terjaga.
Sucor Sekuritas menilai IHSG berpotensi mencapai level 6.700 dalam beberapa bulan ke depan selama area support penting di 5.512 tidak ditembus.
Sementara konsensus sejumlah analis yang dihimpun CNBC Indonesia menunjukkan bahwa dalam skenario pesimistis sekalipun, IHSG masih memiliki peluang bertahan di atas level psikologis 7.000 hingga akhir tahun.
Baca juga : Indeks LQ45 Hari Ini 15 Juni 2026 Dibuka Naik 20,11 ke 617,56 Poin
Empat Sentimen Positif yang Mendorong Pasar
Ada beberapa faktor yang saat ini menjadi bahan bakar utama penguatan pasar saham Indonesia.
Pertama, meredanya ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran. Harapan tercapainya perdamaian membuat investor global kembali masuk ke aset berisiko dan mengurangi kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi dunia.
Kedua, penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mulai meningkatkan kepercayaan investor asing untuk kembali masuk ke pasar domestik.
Ketiga, komitmen pemerintah menjaga disiplin fiskal dengan mempertahankan defisit anggaran di bawah 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), termasuk efisiensi pelaksanaan berbagai program strategis nasional.
Keempat, fundamental emiten yang relatif solid, terutama perusahaan-perusahaan BUMN yang berhasil mencatatkan pertumbuhan kinerja sepanjang kuartal pertama 2026.
Risiko Terbesar: Keputusan MSCI Akhir Juni
Meski sentimen positif mendominasi pasar, investor masih menghadapi sejumlah risiko yang tidak bisa diabaikan. Faktor paling krusial adalah keputusan MSCI terkait status pasar modal Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada 23 Juni 2026.
Pasar khawatir terhadap kemungkinan Indonesia diturunkan dari kategori Emerging Market menjadi Frontier Market. Jika skenario tersebut terjadi, sejumlah analis memperkirakan potensi arus keluar dana asing dapat mencapai sekitar US$13 miliar.
Selain MSCI, kebijakan suku bunga The Fed dan Bank Indonesia juga menjadi perhatian utama karena berpotensi memengaruhi arus modal global dan daya tarik investasi di pasar saham.
Investor juga perlu mencermati perlambatan ekonomi global, khususnya China yang merupakan mitra dagang utama Indonesia. Melambatnya aktivitas ekonomi China berpotensi menekan harga komoditas dan berdampak pada kinerja emiten berbasis sumber daya alam.
Di sisi lain, fluktuasi rupiah yang masih berada di atas asumsi pemerintah sebesar Rp17.200 per dolar AS dapat menjadi tantangan tambahan karena berpotensi meningkatkan biaya impor dan menekan margin keuntungan perusahaan.

Muhammad Imam Hatami
Editor
