UpScrolled, Medsos Alternatif Tumbuh dari Isu Palestina
- UpScrolled mencuri perhatian global sebagai media sosial alternatif yang menolak sensor politik, mengusung transparansi, dan tumbuh pesat pasca isu Palestina.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Kala kritik meningkat terhadap dominasi dan praktik moderasi platform media sosial besar, sebuah aplikasi baru bernama UpScrolled mencuri perhatian global.
Platform ini muncul sebagai alternatif media sosial yang mengusung transparansi, kebebasan berekspresi, dan etika data, dengan latar belakang kuat dari isu geopolitik Palestina.
Diluncurkan pada Juli 2025, UpScrolled lahir dari keresahan terhadap dugaan sensor dan shadowban konten pro-Palestina di platform raksasa seperti TikTok, Instagram, dan X. Dalam waktu singkat, aplikasi ini berkembang pesat dan menarik jutaan pengguna dari berbagai negara.
Latar Belakang Pendiri
UpScrolled didirikan oleh Issam Hijazi, seorang pengembang perangkat lunak berdarah Palestina-Yordania-Australia yang sebelumnya berkarier di sejumlah perusahaan teknologi besar.
Hijazi menyebut UpScrolled sebagai respons langsung atas ketimpangan kekuasaan di industri media sosial, terutama dalam hal moderasi konten politik.
Platform ini mendapat dukungan dari Tech for Palestine, sebuah inkubator teknologi nirlaba yang menyediakan bimbingan teknis, jaringan relawan global, serta hibah bulanan bagi proyek teknologi yang berpihak pada isu kemanusiaan Palestina.
Berbeda dari media sosial arus utama, UpScrolled memosisikan diri sebagai platform yang memberi kendali penuh kepada pengguna. Umpan kontennya bersifat kronologis, bukan algoritmik, sehingga apa yang muncul di layar ditentukan oleh pilihan pengguna, bukan sistem rekomendasi platform.
Dalam kebijakan moderasi, UpScrolled mengklaim hanya menghapus konten yang melanggar hukum, seperti perdagangan narkoba atau kekerasan ilegal.
Isu politik, termasuk Palestina, tidak dikenai pembatasan visibilitas atau shadowban, sebuah praktik yang selama ini banyak dituduhkan kepada platform besar.
Baca juga : Film Even If This Love Disappears Tonight Main di Netflix!
Selain itu, UpScrolled menegaskan komitmennya untuk tidak menjual data pengguna kepada pihak ketiga dan menghindari desain adiktif yang bertujuan memaksimalkan waktu penggunaan.
Popularitas UpScrolled melonjak tajam pada akhir Januari 2026. Sekitar 85 persen unduhan dari Amerika Serikat tercatat terjadi pada periode 21–27 Januari 2026, bertepatan dengan kabar akuisisi TikTok oleh investor AS yang dikenal pro-Israel.
Dampaknya signifikan. UpScrolled sempat menduduki peringkat pertama kategori jejaring sosial di Apple App Store AS, mengalahkan Threads, WhatsApp, hingga TikTok.
Dari sisi jumlah pengguna, pertumbuhannya tergolong eksplosif. Pada awal Januari 2026, UpScrolled memiliki sekitar 150.000 pengguna global. Angka ini melonjak menjadi lebih dari 1 juta di akhir Januari, dan per 3 Februari 2026 telah melampaui 2,5 juta pengguna di seluruh dunia.
Lonjakan pengguna yang masif membawa tantangan tersendiri. UpScrolled beberapa kali mengalami gangguan server dan crash aplikasi, menandakan tekanan besar pada infrastruktur teknologinya.
Pihak pengembang mengakui skalabilitas menjadi pekerjaan rumah utama, terutama untuk memastikan stabilitas layanan seiring pertumbuhan pengguna yang masih berlangsung cepat.
Kontroversi UpScrolled
Meski dipuji karena minim sensor politik, kebijakan moderasi UpScrolled juga menuai kritik. Sejumlah pengguna dan pengamat menilai platform ini terlalu longgar, sehingga memungkinkan beredarnya konten dewasa dan pornografi secara berlebihan.
Menanggapi hal tersebut, tim UpScrolled menyatakan pihaknya sedang menyusun pedoman komunitas yang lebih jelas, dengan tujuan menjaga kebebasan berekspresi tanpa mengorbankan kenyamanan dan keamanan pengguna.
UpScrolled tidak hanya menarik simpatisan isu Palestina. Sejumlah figur publik, seperti aktivis buruh Chris Smalls dan aktor Jacob Berger, tercatat bergabung dan aktif di platform ini.
Baca juga : Tekan Operasional, Ini 5 Manfaat PLTS Atap Bagi Pelaku Usaha
Seiring waktu, basis pengguna UpScrolled semakin beragam, mencakup aktivis hak asasi manusia, kreator konten independen, hingga pengguna umum yang mencari alternatif media sosial yang lebih etis dan tidak dikendalikan algoritma.
Lebih dari sekadar media sosial baru, UpScrolled berkembang sebagai gerakan teknologi yang menantang dominasi Big Tech. Keberhasilannya meraih jutaan pengguna dalam hitungan minggu menunjukkan adanya permintaan nyata terhadap platform yang mengedepankan transparansi, kebebasan berekspresi, dan perlindungan data.
Namun, masa depan UpScrolled akan sangat ditentukan oleh kemampuannya menyeimbangkan nilai idealisme dengan realitas teknis, terutama dalam hal moderasi konten dan infrastruktur digital.
UpScrolled menjadi simbol perlawanan digital terhadap praktik media sosial konvensional yang dianggap tidak netral secara politik. Lahir dari konflik geopolitik dan keresahan global, platform ini kini berdiri di persimpangan penting antara pertumbuhan pesat dan tantangan keberlanjutan.
Jika mampu mengatasi persoalan teknis dan moderasi tanpa mengkhianati nilai dasarnya, UpScrolled berpotensi menjadi pemain baru yang mengubah lanskap media sosial global.

Muhammad Imam Hatami
Editor
