Tragedi Ekologis : Amerika Bantai 60 Juta Bison era 1800-an
- Menjelang tahun 1880-an, jumlah bison liar menyusut drastis hingga kurang dari 1.000 ekor akibat pembantaian dan eksploitasi berlebihan

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Pada awal abad ke-19, hamparan padang rumput Amerika Utara dipenuhi jutaan bison yang bermigrasi dalam kawanan besar sejauh mata memandang.
Hewan raksasa berbulu tebal ini bukan hanya simbol alam liar Amerika, tetapi juga tulang punggung kehidupan masyarakat adat di Great Plains. Namun dalam kurun waktu kurang dari satu abad, populasi yang diperkirakan mencapai 30 hingga 60 juta ekor itu nyaris lenyap dari muka bumi.
Dilansir laman Ensiklopedia Britanica, Kamis, 12 Februari 2026, menjelang tahun 1880-an, jumlah bison liar menyusut drastis hingga kurang dari 1.000 ekor.
Peristiwa ini kini dikenang sebagai salah satu pembantaian satwa terbesar dalam sejarah modern, tragedi ekologis yang dipicu kombinasi eksploitasi industri, ekspansi ekonomi, dan kebijakan politik.
Baca juga : Transformasi Industri Asuransi Fokus Pada SDM dan Inovasi
Amerika Bantai Bison
Percepatan pembantaian bison terjadi setelah Perang Saudara Amerika (1861–1865). Permintaan kulit bison melonjak tajam karena industri di Pantai Timur membutuhkan bahan kulit tebal untuk sabuk mesin pabrik dan perlengkapan militer. Kulit bison yang kuat dan tahan lama menjadi komoditas bernilai tinggi.
Para pemburu profesional, yang dikenal sebagai “buffalo hunters”, memasuki wilayah Great Plains dalam jumlah besar. Dengan senapan jarak jauh dan dukungan jalur kereta api yang terus berkembang, mereka mampu membunuh ratusan ekor dalam sehari.
Banyak laporan sejarah menyebutkan bahwa daging bison sering dibiarkan membusuk di padang rumput; hanya kulit dan terkadang lidahnya yang diambil. Tulang-belulang yang menggunung kemudian dikumpulkan untuk dijual sebagai pupuk dan bahan baku industri.
Ekspansi jaringan kereta api mempercepat kehancuran itu. Selain mempermudah distribusi kulit ke pasar, perusahaan kereta bahkan mempromosikan perburuan bison sebagai hiburan bagi penumpang. Wisatawan dapat menembak bison langsung dari gerbong kereta, menjadikan pembunuhan massal sebagai tontonan.

Senjata Politik terhadap Suku Asli
Di balik motif ekonomi, terdapat dimensi politik yang tak kalah penting. Bagi suku-suku Native American seperti Lakota, Cheyenne, dan Comanche, bison adalah sumber utama pangan, pakaian, tempat tinggal, serta bagian penting dari spiritualitas dan budaya mereka. Menghancurkan populasi bison berarti menghancurkan fondasi kehidupan masyarakat adat.
Sejumlah catatan sejarah menunjukkan pemerintah Amerika Serikat pada masa itu tidak berupaya menghentikan pembantaian, bahkan dalam beberapa kasus mendukungnya secara implisit.
Beberapa pejabat militer meyakini bahwa memusnahkan bison akan memaksa suku-suku Plains menyerah dan pindah ke reservasi. Strategi ini terbukti efektif secara brutal, kelaparan dan runtuhnya sistem ekonomi tradisional melemahkan perlawanan masyarakat adat terhadap ekspansi pemerintah federal.
Hilangnya jutaan bison tidak hanya berdampak sosial, tetapi juga ekologis. Bison merupakan spesies kunci (keystone species) di ekosistem padang rumput.
Baca juga : Transformasi Industri Asuransi Fokus Pada SDM dan Inovasi
Pola migrasi dan kebiasaan merumput mereka membantu menjaga keseimbangan vegetasi, menyuburkan tanah melalui kotoran, dan menciptakan habitat bagi spesies lain.
Ketika populasi bison runtuh, struktur ekosistem ikut berubah. Beberapa wilayah mengalami degradasi tanah dan perubahan komposisi tanaman. Hilangnya predator dan pemangsa bangkai yang bergantung pada bison juga mengganggu rantai makanan.
Tragedi ini menjadi salah satu contoh awal bagaimana eksploitasi sumber daya alam secara masif dapat memicu kerusakan lingkungan jangka panjang.
Kesadaran akan ancaman kepunahan baru muncul ketika populasi bison benar-benar kritis. Pada awal abad ke-20, sejumlah peternak, konservasionis, dan pemerintah mulai melakukan program penangkaran. Taman Nasional Yellowstone menjadi salah satu benteng terakhir bison liar.
Berkat upaya konservasi tersebut, populasi bison perlahan pulih. Saat ini diperkirakan terdapat sekitar 400.000 hingga 500.000 bison di Amerika Utara. Namun, hanya sebagian kecil yang hidup liar dan memiliki kemurnian genetik tinggi tanpa persilangan dengan sapi domestik.
Baca juga : Transformasi Industri Asuransi Fokus Pada SDM dan Inovasi
Tragedi jutaan bison mati menjadi pengingat keras tentang konsekuensi eksploitasi tanpa batas dan kebijakan yang mengabaikan keseimbangan ekologi. Peristiwa ini juga memperlihatkan bagaimana kepentingan ekonomi dan politik dapat mempercepat kehancuran lingkungan dalam skala besar.
Kini, bison telah menjadi simbol konservasi dan pemulihan alam. Pada 2016, Amerika Serikat menetapkan bison sebagai mamalia nasional, mengakui peran historis dan ekologisnya.
Namun sejarah kelam pembantaiannya tetap menjadi catatan penting, bukan hanya tentang satwa yang hampir punah, tetapi juga tentang dampak keputusan manusia terhadap alam dan peradaban.

Muhammad Imam Hatami
Editor
