Terkesan Kuno dan Sederhana, Mortir Tetap Pegang Kunci di Perang Modern
- Mortir mungkin terlihat sebagai senjata kuno, tetapi perang Ukraina menunjukkan senjata ini sangat penting.

Amirudin Zuhri
Author


JAKARTA- Mortir mungkin terlihat sebagai senjata kuno, tetapi perang Ukraina menunjukkan senjata ini sangat penting. Bahkan dalam skenario perang Amerika melawan China atau Rusia mortir masih akan sangat diperlukan.
Invasi Rusia ke Ukraina telah menunjukkan bahwa perang akan terus menjadi pertempuran sengit antara pasukan darat. Tidak peduli seberapa canggih teknologi militer. Lebih dari sebelumnya, unit infanteri akan membutuhkan sistem mortir untuk pertempuran jarak dekat dengan pasukan musuh.
Mortir kaliber besar yang mendukung tim infanteri tank dalam wilayah pertempuran darat sering kali menjadi margin kemenangan atau kekalahan dalam pertempuran skala besar yang terus berkembang.
Pensiunan Mayor Jenderal Angkatan Darat Amerika Patrick Donahoe kepada Task and Purpose 1 Maret 2023 lalu mengatakan, mortir bahkan bisa lebih penting hari ini daripada sebelumnya dalam pertarungan jarak dekat.
- Stone of Scone, Sejarah Panjang dan Kontroversial Batu Penobatan Raja Inggris
- Lagi, IHSG Melemah Saat Sebagian Besar Bursa Asia Menguat
- Minat Beli Tinggi, Tesla Bakal Beri Potongan Harga Lagi
“Ketika jangkauan sistem artileri meningkat dan medan perang menjadi lebih dalam, tim infanteri tank dalam pertempuran mil terakhir dan dalam seratus yard terakhir akan lebih bergantung pada mortir untuk dukungan tembakan tidak langsung mereka,” katanya.
Sedangkan pensiunan Kolonel Marinir Amerika Mark Cancian menyebut untuk pasukan yang diturunkan, mortir berfungsi sebagai sistem artileri portabel yang penting untuk pertempuran jarak dekat.
“Senjata ini memungkinkan unit infanteri untuk memberikan tembakan tidak langsung tanpa harus memanggil serangan udara atau artileri,” katanya.
Cancian yang sekarang menjadi penasihat senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS) menambahkan infanteri sangat menyukai mortar.
Ini karena mereka tidak harus berkoordinasi dengan orang lain. “Mereka tidak perlu menghubungi pusat kendali udara. Mereka tidak perlu menghubungi pusat arah tembakan artileri. Intinya mereka bisa menjalankan misinya sendiri. Ketika segala sesuatunya bergerak cepat dan komunikasi terputus, itu sangat berharga,” katanya.
Karena mortir tidak memiliki sistem rekoil, mereka lebih ringan dari howitzer. Dengan demikian lebih mudah diangkut daripada bentuk artileri lainnya.
Semua ini membuatnya cocok untuk unit infanteri. Meskipun jangkauannya lebih pendek dari howitzer, mereka dapat menutupi area langsung di depan unit infanteri.
Militer Amerika
Militer Amerika merasakan efek penting dari mortar ketika terlibat dalam dua pertempuran Fallujah pada November dan Desember 2004. Pensiunan Kolonel Angkatan Darat Amerika Gian Gentile mengatakan pertempuran Fallujah menunjukkan betapa efektifnya mortir dalam perang kota.
Sejarawan senior di RAND Corporation ini mengatakan saat itu dua batalyon mekanis Angkatan Darat Amerika bertempur bersama dua resimen infanteri Marinir. Mereka masing-masing memiliki satu peleton mortir tracket 120mm. Mereka sangat diminati terutama oleh infanteri Marinir. Ini karena sudut tembakannya yang tinggi memberikan akurasi lebih baik di lingkungan perkotaan. Dan karena ukuran pelurunya 120mm, mereka memiliki banyak efek ledakan pada posisi musuh di dalam bangunan.
Eksperimen militer Amerika sejak saat pertempuran Falujjah berfokus pada perluasan jangkauan dan akurasi sistem mortar.
- Trik Rahasia Cara Menggunakan 2 Akun WhatsApp di Satu Ponsel Android
- Rekomendasi Film dan Series Netflix Terbaru Bulan Maret 2023
- Pemeliharaan Sistem Sebabkan Mobile Banking BCA Kerap Alami Gangguan
Namun tidak semua eksperimen militer Amerika dengan sistem mortir canggih berhasil. Pada tahun 2018, tentara menguji Automated Direct Indirect Mortar (ADIM). Senjata ini terdiri dari mortir 81mm yang dipasang pada pangkalan yang dapat berputar 360 derajat. Semuanya ditempatkan di belakang Humvee. Namun sejauh ini ADIM terbukti terlalu mahal di lapangan.
Terlepas dari apakah pasukan Amerika menghadapi pasukan Rusia atau China dalam perang di masa depan, tentara infanteri dan Marinir akan membutuhkan sistem mortar. Senjata yang memungkinkan mereka menembak secara akurat, dan mengubah posisi dengan cepat. Pertarungan darat akan selalu ketat dan kebutuhan akan daya tembak yang cepat dan andal akan semakin tumbuh di masa depan.
Saat ini, militer Amerika mengoperasikan sistem mortir self-propelled M1064. Tetapi ini terdiri dari tabung mortir di dalam sasis terbuka pengangkut personel lapis baja M113. Kondisi ini membuat kru rentan terhadap tembakan musuh.
Angkatan Darat Amerika sedang melihat kelayakan untuk memasang mortir turret pada pengangkut personel lapis baja Stryker. Mortir baru atau NEMO dibuat oleh Patria Land Oy. Sebuah perusahaan Finlandia. NEMO adalah mortar smoothbore 120 mm yang dapat menghasilkan tembakan langsung dan tidak langsung.
