Tren Leisure

Setelah Era Messi, Bisakah Brand Argentina Tetap Bernilai?

  • Lionel Messi bukan hanya bintang Argentina, tapi juga aset ekonomi timnas. Saat era Messi berakhir, mampukah brand Argentina tetap menarik sponsor dan penggemar global?
Argentina-Kalah.jpg
Lionel Messi di final Piala Dunia 2026. (IG AFA Seleccion)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Kekalahan Argentina dari Spanyol pada final Piala Dunia 2026 mungkin menjadi akhir dari sebuah turnamen. 

Namun bagi Federasi Sepak Bola Argentina (AFA), pertandingan tersebut bisa menjadi awal dari tantangan yang jauh lebih besar. Hal itu yakni membangun kembali nilai komersial tim nasional ketika Lionel Messi benar-benar meninggalkan panggung internasional.

Selama hampir dua dekade, Messi bukan hanya kapten atau pencetak gol. Ia telah menjadi wajah utama sepak bola Argentina di mata dunia. 

Nama Messi melekat pada hampir seluruh ekosistem bisnis yang mengelilingi tim nasional, mulai dari sponsor, hak siar, penjualan merchandise, hingga daya tarik komersial turnamen yang melibatkan Albiceleste.

Kini, ketika usia Messi telah menginjak 39 tahun dan sinyal pensiun dari tim nasional semakin menguat usai Piala Dunia 2026, pertanyaan besarnya bukan lagi siapa yang mengenakan nomor 10 berikutnya. 

Pertanyaannya adalah, bisakah Argentina tetap menjadi "produk" global yang sama kuatnya tanpa Lionel Messi?

Messi Bukan Sekadar Pemain, tapi Aset Ekonomi

Dalam industri olahraga modern, atlet elite tidak lagi sekadar berfungsi sebagai pemain. Mereka merupakan aset intelektual (intellectual asset) sekaligus brand ambassador yang menciptakan nilai ekonomi jauh melampaui lapangan pertandingan. Messi adalah contoh paling nyata.

Majalah Forbes memperkirakan kekayaan bersih Messi telah melampaui US$1,1 miliar, menjadikannya salah satu dari sedikit atlet aktif yang menyandang status miliarder. Pendapatannya tidak hanya berasal dari gaji bermain, tetapi juga jaringan sponsor global seperti Adidas, Apple, Pepsi, Hard Rock, hingga berbagai investasi bisnis pribadi.

Daya tarik tersebut ikut menular ke setiap entitas yang berasosiasi dengannya. Saat Messi bergabung dengan Inter Miami pada 2023, klub Major League Soccer (MLS) itu mengalami lonjakan luar biasa. 

Menurut Forbes, pendapatan Inter Miami meningkat hampir empat kali lipat, dari sekitar US$56 juta pada 2022 menjadi sekitar US$200 juta, sementara valuasi klub melonjak menjadi sekitar US$1,4 miliar. 

Penjualan jersey juga langsung menempati jajaran merchandise olahraga paling laris di dunia. Fenomena itu menunjukkan satu hal: kehadiran Messi mampu menciptakan nilai ekonomi baru, bahkan sebelum bola mulai bergulir.

Argentina Menjual Lebih dari Sekadar Pertandingan

Efek serupa juga terlihat pada tim nasional Argentina. Sejak menjuarai Piala Dunia 2022, AFA berhasil memperluas jaringan sponsor internasional, termasuk menggandeng perusahaan teknologi, fintech, hingga berbagai mitra global. 

Di Piala Dunia 2026, Messi bahkan muncul dalam 18 dari 80 kampanye pemasaran utama yang dipantau di Amerika Serikat, Inggris, dan Argentina. 

Data System1 yang dikutip Sports Business Journal menunjukkan Messi tampil dalam sekitar 22% kampanye iklan terbesar selama turnamen, menjadikannya salah satu wajah komersial paling dominan di ajang tersebut.

Tak hanya itu, keberhasilan Argentina melaju hingga final Piala Dunia 2026 juga memberikan keuntungan bagi Adidas sebagai pemasok apparel resmi. 

Reuters melaporkan keberhasilan Argentina dan Spanyol mencapai final memperkuat eksposur global Adidas dalam salah satu panggung olahraga terbesar di dunia, sekaligus mendorong penjualan produk bertema Piala Dunia.

Dengan kata lain, ketika sponsor membeli hak untuk berasosiasi dengan Argentina, yang mereka beli bukan hanya logo AFA atau hak menampilkan warna biru-putih. Mereka juga membeli akses terhadap magnet global bernama Lionel Messi.

Tantangan Setelah Ikon Pergi

Di dunia korporasi, kondisi seperti ini dikenal sebagai key person risk, yakni risiko ketika nilai sebuah organisasi terlalu bertumpu pada satu individu. Fenomena tersebut pernah menjadi perhatian investor ketika Steve Jobs meninggal pada 2011. 

Saham Apple sempat melemah setelah kabar tersebut diumumkan karena pasar mempertanyakan apakah perusahaan mampu mempertahankan inovasi tanpa pendirinya. Namun dalam jangka panjang, Apple mampu membuktikan bahwa sistem, tata kelola, dan pipeline produk tetap berjalan sehingga perusahaan kembali tumbuh.

Pelajaran itu juga berlaku di sepak bola. Tantangan terbesar Argentina bukan semata menemukan pemain sekelas Messi—sesuatu yang hampir mustahil dilakukan—melainkan memastikan bahwa kekuatan brand tim nasional tidak ikut memudar ketika ikon utamanya pensiun.

Dalam perspektif manajemen olahraga, profesor pemasaran olahraga dari University of Michigan, Stefan Szymanski, dalam berbagai kajiannya mengenai ekonomi sepak bola, menekankan nilai sebuah klub maupun tim nasional yang berkelanjutan bergantung pada kemampuan membangun institusi dan ekosistem, bukan hanya mengandalkan figur bintang. 

Pendekatan serupa juga menjadi fondasi banyak organisasi olahraga modern dalam mengelola regenerasi pemain sekaligus nilai komersialnya.

Membangun "Brand Argentina" Setelah Messi

Sebenarnya AFA mulai mengantisipasi fase tersebut. Dalam beberapa tahun terakhir, federasi aktif memperluas pasar internasional melalui kantor komersial di luar negeri, kerja sama lisensi, pengembangan platform digital, serta penambahan sponsor global.

Langkah ini menunjukkan bahwa Argentina berupaya membangun nilai merek yang lebih luas daripada sekadar bergantung pada satu pemain. Namun pekerjaan rumahnya tetap besar.

Di lapangan, Argentina perlu melahirkan generasi baru yang mampu menjaga daya saing. Di luar lapangan, federasi juga harus memastikan bahwa sponsor, penyiar, dan penggemar internasional tetap memiliki alasan kuat untuk mengikuti perjalanan Albiceleste meski era Messi telah berakhir.

Kisah Argentina sesungguhnya bukan hanya cerita sepak bola. Ia menggambarkan tantangan yang juga dihadapi banyak perusahaan keluarga, startup teknologi, hingga korporasi besar ketika terlalu bergantung pada satu tokoh.

Organisasi memang dapat tumbuh sangat cepat berkat sosok luar biasa. Namun keberlanjutan baru tercipta ketika institusi mampu membangun sistem yang tetap bekerja setelah tokoh tersebut pergi.