Selain NewJeans, Ini Perselisihan Gugatan Hukum di Dunia K-Pop
- Kasus NewJeans sebenarnya merupakan bagian terbaru dari rangkaian panjang sengketa kontrak di industri K-pop yang telah berlangsung selama sekitar 15 tahun.

Distika Safara Setianda
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – ADOR, label musik asal Korea Selatan yang menaungi girl group K-pop NewJeans, mengumumkan pada Senin, 29 Desember 2025 bahwa pihaknya telah mengakhiri kontrak dengan salah satu anggotanya, Danielle Marsh.
Beberapa jam setelah pengumuman tersebut, ADOR menyatakan akan mengajukan gugatan hukum terhadap Danielle atas dugaan pelanggaran kontrak dan tindakan yang dinilai merugikan reputasi. Langkah ini diambil setelah konflik hukum antara para anggota NewJeans dan ADOR yang telah berlangsung selama sekitar satu tahun, sejak November 2024.
Dalam pernyataan resminya, ADOR menyebutkan dalam kasus Danielle, perusahaan menilai akan sulit baginya untuk melanjutkan aktivitas sebagai anggota NewJeans maupun sebagai artis di bawah naungan ADOR. Penyanyi berdarah Korea-Australia tersebut pun resmi dikeluarkan dari agensi.
Meski kasus ini menjadi sorotan media internasional, peristiwa tersebut sebenarnya merupakan bagian terbaru dari rangkaian panjang sengketa kontrak di industri K-pop yang telah berlangsung selama sekitar 15 tahun.
Deretan Perselisihan Gugatan Hukum di Dunia K-Pop
Dilansir dari Forbes, berikut deretan perselisihan gugatan hukum di dunia K-pop:
1. The Landmark: TVXQ/JYJ vs SM Entertainment (2009-2012)
Pada Juli 2009, tiga anggota TVXQ yaitu Kim Jaejoong, Park Yoochun, dan Kim Junsu mengajukan gugatan terhadap SM Entertainment untuk mengakhiri kontrak mereka yang berdurasi 13 tahun.
Pengadilan Distrik Pusat Seoul pada Oktober 2009 mengabulkan sebagian permohonan tersebut dengan menjatuhkan putusan sela yang menangguhkan kontrak, sekaligus menyebut isinya sangat tidak sejalan dengan hukum ketenagakerjaan dan kontrak di Korea.
Namun, setelah dokumen pengadilan dibuka ke publik pada 2017, hasil penyelesaian akhir menunjukkan gambaran yang lebih kompleks. Berdasarkan catatan pengadilan, kontrak eksklusif tersebut dinyatakan sah hingga tanggal gugatan diajukan, tidak ditemukan bukti yang mendukung tudingan kontrak perbudakan, serta pembagian pendapatan oleh SM dinilai adil.
Kasus ini akhirnya berakhir pada November 2012 dengan kedua belah pihak mencabut gugatan dan sepakat untuk tidak saling mengganggu aktivitas masing-masing, sebagaimana dilaporkan The Korea Herald.
Kasus tersebut mendorong lahirnya reformasi di industri hiburan. Sekitar 10 agensi memangkas durasi kontrak dari 13 tahun menjadi tujuh tahun, sementara Komisi Perdagangan yang Adil (Fair Trade Commission) menetapkan berbagai aturan perlindungan bagi para pelaku industri hiburan.
2. Member China EXO vs SM Entertainment (2014-2016)
Tiga anggota EXO asal China mengajukan gugatan terpisah dengan tuduhan kontrak yang tidak adil, pengabaian kesehatan, dan perlakuan diskriminatif. Kris Wu melayangkan gugatan pada Mei 2014, disusul Luhan pada Oktober 2014, dan Huang Zitao pada Agustus 2015.
Pada Juli 2016, Kris dan Luhan mencapai kesepakatan dengan SM Entertainment. Kontrak keduanya tetap berlaku hingga 2022, namun mereka diperbolehkan menjalankan aktivitas di luar Korea dan Jepang melalui agensi lain, dengan ketentuan pembagian pendapatan bersama SM.
Sementara itu, pada Januari 2016, SM memenangkan gugatan terhadap Tao setelah pengadilan menyatakan ia gagal mengembalikan uang muka yang diterimanya. Kontrak Tao juga dinyatakan tetap berlaku hingga 2022.
Kasus-kasus ini menegaskan bahwa penyelesaian sengketa sering kali berujung pada kondisi di mana artis tetap terikat kontrak, meski memperoleh ruang terbatas untuk beraktivitas secara mandiri di pasar tertentu.
3. Daisy MOMOLAND vs MLD Entertainment (2019-2021)

Mantan anggota MOMOLAND, Daisy, mengajukan gugatan terkait upah yang tidak dibayarkan setelah MLD Entertainment memotong 66 juta won dari penghasilannya untuk menutup biaya produksi program Finding Momoland yang tayang pada Juli 2016.
Meski sempat tersingkir dalam acara tersebut, Daisy kemudian direkrut kembali, menandatangani kontrak pada September 2016, dan resmi bergabung dengan MOMOLAND pada April 2017. MLD membebankan kepadanya sepersepuluh dari total biaya produksi sebesar 660 juta won, dengan alasan praktik tersebut merupakan standar industri.
Pada 10 Oktober 2021, Pengadilan Distrik Pusat Seoul memutuskan memenangkan Daisy dan memerintahkan MLD membayar 79,26 juta won. Pengadilan menegaskan kontrak baru berlaku sejak tanggal penandatanganan dan tidak ditemukan bukti jelas bahwa pemotongan biaya tersebut merupakan praktik umum di industri hiburan.
Selain itu, MLD juga diwajibkan membayar gaji yang belum dibayarkan sebesar 13 juta won. Saat Daisy meminta pemutusan kontrak pada 2019, MLD justru menuntut denda sebesar 1,1 miliar won. MLD kemudian mengajukan banding pada November 2021.
Sementara itu, pada Januari 2023, enam anggota MOMOLAND yang tersisa resmi meninggalkan MLD setelah kontrak mereka berakhir.
4. VCHA vs JYP Entertainment (2024-2025)
Pada Desember 2024, KG Crown yang saat itu berusia 17 tahun dan merupakan anggota girl group Amerika VCHA di bawah JYP Entertainment, mengajukan gugatan ke Pengadilan Tinggi Los Angeles dengan tuntutan pemutusan kontrak. Dalam gugatannya, ia menuding adanya eksploitasi pekerja anak, kelalaian, kekerasan, serta praktik bisnis yang tidak adil.
Berdasarkan dokumen pengadilan yang ditelaah penulis serta pernyataan KG melalui Instagram, ia mengklaim pihak staf menciptakan lingkungan kerja yang merugikan kesehatan mental. Salah satu tudingan serius menyebutkan adanya percobaan bunuh diri oleh anggota lain pada Februari 2024.
KG juga menyatakan insiden tersebut diduga ditutupi, dengan para anggota diarahkan untuk berbohong kepada petugas perlindungan anak. Selain itu, ia menuduh perusahaan mengabaikan gangguan makan, membiarkan praktik menyakiti diri sendiri, serta memberlakukan jam kerja ekstrem dengan bayaran minim, sementara para anggota justru dibebani utang kepada perusahaan.
JYP USA menanggapi tuduhan tersebut pada 9 Desember 2024 dengan menyebut klaim KG tidak benar dan dibesar-besarkan, serta menyatakan bahwa proses negosiasi telah berlangsung sejak Mei 2024.
Pada 8 Agustus 2025, kedua belah pihak mengumumkan telah mencapai kesepakatan setelah melalui mediasi di Pengadilan Tinggi California. JYP USA dan KG sepakat untuk mengakhiri kontrak secara mutual, sementara KG menarik gugatannya. VCHA kemudian melakukan rebranding menjadi Girlset dengan empat anggota tersisa dan merilis lagu “Commas” pada 29 Agustus 2025.
Kasus ini dinilai sebagai preseden berbeda dari sengketa kontrak di Korea Selatan, karena diajukan berdasarkan hukum ketenagakerjaan California yang mengatur perlindungan bagi pekerja di bawah umur.
5. FIFTY FIFTY vs Attrakt (2023-2024)
Pada Juni 2023, keempat anggota FIFTY FIFTY mengajukan permohonan penetapan sementara (injunction) dengan alasan laporan keuangan yang tidak transparan, aktivitas yang dipaksakan, serta dugaan adanya pendapatan yang tidak dicantumkan dalam laporan pembagian hasil.
Namun, pada 28 Agustus 2023, Pengadilan Distrik Pusat Seoul menolak permohonan tersebut dengan menyatakan bahwa “tidak cukup bukti untuk menyimpulkan bahwa Attrakt melanggar kewajiban penyelesaian atau penyediaan data pembagian hasil.”
Anggota Keena kemudian kembali bergabung dengan Attrakt. Sementara itu, agensi memutus kontrak Saena, Aran, dan Sio, lalu mengajukan gugatan senilai 13 miliar won terhadap ketiga mantan anggota tersebut, orang tua mereka, serta para eksekutif The Givers.
Pada Agustus 2024, ketiganya mengajukan gugatan balik dengan tuntutan ganti rugi sebesar 300 juta won. Hingga kini, kedua perkara tersebut masih dalam proses hukum. Pada Mei 2025, pengadilan memutuskan bahwa hak cipta lagu “Cupid” dimiliki oleh The Givers, bukan Attrakt.
6. EXO-CBX vs SM Entertainment (2023-2025)

Pada Juni 2023, anggota EXO yakni Chen, Baekhyun, dan Xiumin (EXO-CBX) menuntut pemutusan kontrak dengan alasan kurangnya transparansi dalam pembagian keuntungan serta keberatan terhadap kontrak jangka panjang yang dinilai tidak adil.
Mereka menempuh berbagai jalur hukum, mulai dari laporan pidana, gugatan perdata, hingga pengaduan administratif ke Komisi Perdagangan yang Adil Korea dan Kementerian Kebudayaan.
Seperti dilaporkan The Korea Times, kedua belah pihak sempat mencapai kesepakatan awal pada 18 Juni 2023. Dalam kesepakatan tersebut, para anggota sepakat mempertahankan kontrak dan menyerahkan 10 persen pendapatan dari aktivitas individu kepada SM Entertainment.
Meski demikian, perselisihan berlanjut dengan diajukannya sejumlah gugatan baru oleh para anggota untuk meminta akses laporan keuangan serta perubahan ketentuan kontrak.
Seluruh upaya hukum tersebut akhirnya ditolak. Pengadilan Distrik Timur Seoul, Pengadilan Tinggi, hingga Mahkamah Agung memutuskan tidak berpihak pada EXO-CBX. Laporan pidana juga tidak berujung pada penetapan tersangka, sementara Komisi Perdagangan yang Adil dan Kementerian Kebudayaan menyatakan tidak ditemukan pelanggaran.
Mengutip The Korea Herald, pengadilan menegaskan bahwa “kontrak eksklusif harus dihormati” dan menilai sebagian tuntutan sebagai “upaya memberikan tekanan psikologis terhadap SM.”
Pada Oktober 2025, SM Entertainment mengumumkan bahwa fan meeting EXO pada Desember 2025 serta rencana comeback tahun 2026 akan digelar tanpa kehadiran Chen, Baekhyun, dan Xiumin, dengan alasan kewajiban pembayaran yang belum dipenuhi.
7. NewJeans v. ADOR (2024-2025)
Pada November 2024, NewJeans menyatakan kontrak mereka telah berakhir dengan alasan pencopotan CEO sebelumnya, Min Heejin, yang dianggap sebagai pelanggaran kepercayaan. Menanggapi hal tersebut, ADOR mengajukan gugatan ke pengadilan untuk memastikan keabsahan kontrak.
Pada 30 Oktober 2025, Pengadilan Distrik Pusat Seoul memutuskan perkara tersebut dengan memenangkan ADOR. Pengadilan menyatakan bahwa tidak dapat disimpulkan ADOR melanggar kontrak eksklusif hanya berdasarkan pemberhentian Min Heejin.
Putusan itu juga menegaskan bahwa pencopotan Min Heejin tidak serta-merta menciptakan kekosongan manajemen. Selain itu, pengadilan menolak klaim tambahan NewJeans terkait kebocoran video trainee dan dugaan perundungan di tempat kerja, serta memutuskan bahwa kelima anggota tetap terikat kontrak dengan ADOR hingga 2029.
Pasca putusan tersebut, Haerin, Hyein, dan Hanni kembali bergabung dengan ADOR, sementara proses negosiasi dengan Minji masih berlangsung. Sementara itu, pada 29 Desember 2025, ADOR mengakhiri kontrak Danielle.

Distika Safara Setianda
Editor
