Pesan Perjuangan dan Perdamaian dari Ajang Miss Universe 2020
FLORIDA-Ajang Miss Universe 2020 digunakan oleh sejumlah peserta untuk menyampaikan sejumlah pesan perdamaian dan perjuangan. Salah satunya dilakukan finalis asal Myanmar, Ma Thuzar Wint Lwin. Tahun ini, Miss Universe ke-69 dilaksanakan di Seminole Hard Rock Hotel & Casino, Florida. Dalam babak National Costume yang dia memperagakan busana tradisionalnya sambil membawa sebuah pesan bertuliskan “Pray for […]

Amirudin Zuhri
Author


Finalis Miss Universe 2021 dari Myanmar Ma Thuzar Wint Lwin/Tangkapan layar Miss Universe 2021
(Istimewa)FLORIDA-Ajang Miss Universe 2020 digunakan oleh sejumlah peserta untuk menyampaikan sejumlah pesan perdamaian dan perjuangan. Salah satunya dilakukan finalis asal Myanmar, Ma Thuzar Wint Lwin.
Tahun ini, Miss Universe ke-69 dilaksanakan di Seminole Hard Rock Hotel & Casino, Florida. Dalam babak National Costume yang dia memperagakan busana tradisionalnya sambil membawa sebuah pesan bertuliskan “Pray for Myanmar”. Pesan ini terkait situasi di negaranya yang masih tidak stabil karena kudeta militer beberapa waktu silam.
Ma Thuzar Wint Lwin sebagaimana dikutip dengan The New York Times berharap bisa menggunakan platform internasionalnya sebagai kontestan untuk mengkritik kudeta militer negara yang terjadi di negaranya dan mendukung gerakan pro-demokrasi.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
“Para tentara berpatroli di kota setiap hari dan kadang-kadang mereka membuat penghalang jalan untuk mengganggu orang-orang yang datang,” kata Ma Thuzar Wint Lwin Minggu 16 Mei 2021.
“Dalam beberapa kasus, mereka menembak tanpa ragu-ragu. Kami takut pada tentara kami sendiri. Setiap kali kami melihatnya, yang kami rasakan hanyalah kemarahan dan ketakutan,” kata wanita yang juga dikenal dengan nama Candy tersebut.
Pada minggu-minggu awal gerakan protes, Ma Thuzar Wint Lwin bergabung dengan para demonstran, di mana ia memegang sebuah karton bertuliskan, “Kami tidak menginginkan pemerintahan militer,” dan menyerukan pembebasan pemimpin sipil negara itu, Daw Aung San Suu Kyi yang menjadi tahanan rumah sejak kudeta.
Pesan berbeda disampaikan kontestan Singapura Bernadette Belle Wu Ong. Dalam babak National Costume, Bernadette mengenakan jubah merah dan putih dengan tulisan, “Stop Asian Hate”

Kontestan Singapura Bernadette Belle Wu Ong/Instagram@bernadettebelle/
“Untuk apa platform ini jika saya tidak dapat menggunakannya untuk mengirimkan pesan perlawanan yang kuat terhadap prasangka dan kekerasan! Terima kasih #MissUniverse karena telah memberi saya kesempatan ini!,” kata Bernadette melalui laman Instagram pribadinya Minggu.
Bernadette mengenakan kostum monokini merah berpayet dengan lengan yang dramatis, satu merah dan sisi yang lainnya putih. Ia juga menggunakan sepatu boots setinggi lutut.
Kostum nasional Bernadette terinspirasi dari bendera nasional Singapura yang melambangkan persatuan untuk semua dan harmoni sosial di negara yang multi-rasial, multi-budaya, dan antar-agama.
Kostum yang dilukis dengan tangan oleh Paulo Espinosa dirancang oleh Arwin Meriales. Warna merah dan putih juga memiliki makna simbolis.
“Warna merah melambangkan kesetaraan untuk semua. Putih melambangkan kebajikan yang abadi. Singapura adalah tempat untuk semua ras dan mereka sangat bangga menjadi orang Asia,” ujar Bernadette. Bernadette mengatakan bahwa kostum tersebut dibuat hanya dalam dua hari.
Bernadette juga mengatakan pesan yang disampaikan melalui kostumnya diperuntukkan bagi semua orang. “Ini adalah kemenangan BESAR untuk semua orang! Kami menyampaikan pesan kami dengan lantang dan jelas! Terima kasih telah membalas kami dengan cinta dan pujian,” ujar Bernadette.
