Menjaga Esensi Tradisi Munggahan di Era Media Sosial
- Sosiolog IPB menyebut munggahan sebagai strategi sosial untuk memperkuat solidaritas, merekonsiliasi relasi, dan menjaga identitas budaya di tengah modernisasi.

Ananda Astri Dianka
Author


JAKARTA – Menjelang Ramadan, masyarakat Indonesia kembali menjalankan tradisi munggahan sebagai penanda sosial memasuki bulan suci. Namun, di balik kebiasaan yang kerap diisi dengan makan bersama dan silaturahmi ini, tersimpan makna sosial yang lebih dalam.
Sosiolog sekaligus Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) IPB University, Dr. Ivanovich Agusta, menegaskan munggahan bukan sekadar kebiasaan turun-temurun, melainkan strategi sosial untuk memperkuat solidaritas dan menjaga identitas budaya.
Menurutnya, dalam perspektif sosiologi, munggahan merupakan ritus sosial yang menandai peralihan menuju fase religius yang lebih intens.
“Tradisi ini berfungsi sebagai penanda waktu sosial (social marker) yang membantu masyarakat menyusun ritme kolektif: kapan memperbaiki diri, memulai disiplin ibadah, serta menguatkan komitmen moral bersama,” jelas Dr. Ivanovich dikutip dari laman IPB, Minggu 15 Februari 2026.
Mekanisme Rekonsiliasi Sosial
Tak hanya sebagai penanda waktu, munggahan juga berperan sebagai mekanisme rekonsiliasi sosial. Melalui tradisi saling memaafkan, masyarakat diberi ruang untuk memperbaiki relasi yang renggang dan memulihkan harmoni dalam komunitas.
Dr. Ivanovich menilai, praktik pertemuan tatap muka, makan bersama, hingga aktivitas berbagi dalam munggahan mampu menumbuhkan rasa kebersamaan atau sense of belonging.
“Interaksi semacam ini mempertebal modal sosial, yaitu kepercayaan, jaringan pertolongan, dan norma timbal balik,” ujarnya.
Dalam konteks keluarga, munggahan menjadi ruang memperbarui ikatan lintas generasi antara anak, orang tua, hingga kerabat jauh yang dalam kehidupan modern kerap terfragmentasi oleh kesibukan. Tradisi ini juga memperluas solidaritas ke lingkup tetangga dan komunitas sekitar.
Pergeseran Makna di Era Modern
Meski demikian, Dr. Ivanovich mengakui adanya pergeseran makna munggahan seiring modernisasi. Di sejumlah tempat, tradisi ini mulai mengalami komodifikasi dan menjadi ajang konsumsi atau simbol status.
“Media sosial mendorong orientasi tampil, sehingga makna kebersamaan bergeser menjadi representasi citra,” katanya.
Namun, sejumlah komunitas tetap berupaya menjaga esensi munggahan dengan menambahkan kegiatan sedekah, santunan, atau gotong royong. Tantangan utamanya adalah mempertahankan nilai kesederhanaan, ketulusan, serta pemulihan relasi sosial agar tidak hilang.
Integrasi Budaya dan Agama
Lebih jauh, munggahan menunjukkan bagaimana masyarakat memadukan identitas budaya lokal dengan nilai keagamaan. Tradisi ini menegaskan bahwa agama tidak hanya dipraktikkan secara individual, tetapi juga dilembagakan melalui simbol, kebiasaan, dan pertemuan komunitas.
“Munggahan memperkuat keterikatan pada warisan budaya dan sejarah lokal, sekaligus menegaskan etika keagamaan seperti silaturahmi, saling memaafkan, dan kepedulian sosial,” terang Dr. Ivanovich.
Pentingnya Pelestarian Nilai
Dr. Ivanovich menekankan pentingnya menjaga otentisitas munggahan agar tidak kehilangan ruhnya. Silaturahmi, saling memaafkan, dan berbagi harus tetap menjadi prioritas. Praktik yang inklusif—melibatkan tetangga, kelompok rentan, hingga warga yang terpinggirkan—dinilai penting agar munggahan tidak menjadi tradisi eksklusif.
“Bagi generasi muda, munggahan perlu dipahami sebagai sarana meningkatkan kualitas hubungan antarmanusia, bukan sekadar pengulangan kegiatan. Adaptasi boleh dilakukan pada tempat atau format, tetapi prinsip kesederhanaan, kepedulian, dan kebersamaan harus tetap dijaga,” pesannya.
Dengan pemahaman tersebut, munggahan diharapkan terus hidup sebagai tradisi yang relevan, bermartabat, dan mampu memperkuat solidaritas sosial, kekeluargaan, serta identitas budaya masyarakat Indonesia menjelang Ramadan.

Ananda Astri Dianka
Editor
