Menilik Laju Pertumbuhan Homeless Media di Indonesia
- Fenomena homeless media di Indonesia semakin besar dengan jutaan pengikut dan miliaran views setiap bulan. Simak perkembangan dan dampaknya bagi publik.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Dalam dua pekan terakhir tahun 2026, istilah "homeless media" tiba-tiba menjadi pusat perhatian publik Indonesia. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari mengumumkan jika pemerintah menggandeng forum homeless media sebagai mitra untuk memperluas jangkauan komunikasi publik.
"Pada kesempatan ini, sebelum masuk kepada materi, kami juga menyambut hangat kehadiran teman-teman dari New Media Forum, mitra baru dari Badan Komunikasi Pemerintah dalam ekosistem media digital di Indonesia," Jelas Qodari dalam konferensi pers di kantor Bakom, Jakarta, Rabu 6 Mei 2026
Puluhan nama besar, mulai dari Folkative, Narasi, USS Feeds, Indozone, hingga Kok Bisa? disebut sebagai anggota New Media Forum, sebuah wadah yang mempertemukan para pelaku media baru yang sebelumnya kerap dijuluki sebagai "homeless media".
Pengumuman itu memicu gelombang reaksi. Ada yang mendukung langkah strategis menjangkau publik yang telah lama berpaling dari media konvensional, ada pula yang mengkritik karena dikhawatirkan mengaburkan batas antara pers profesional dan konten digital yang tidak memiliki tanggung jawab redaksional.
Namun di balik pro-kontra itu, fakta janggalnya adalah sebuah fenomena yang selama ini mungkin luput dari radar banyak orang kini muncul ke permukaan jika homeless media telah lama menjadi bagian tak terpisahkan dari ekosistem informasi sehari-hari masyarakat Indonesia.
Mereka adalah suara-suara yang selama ini dengan tenang mengisi ruang yang mungkin tidak terisi oleh media arus utama.
Baca juga : Beragam Respons Homeless Media Soal Klaim Jadi Mitra Pemerintah
Lantas, apa sebenarnya homeless media itu? Bagaimana perkembangannya di Indonesia, seberapa besar jangkauannya, dan apa dampaknya terhadap cara kita mengonsumsi informasi?
TrenAsia mencoba merangkai potongan-potongan jawaban dari berbagai temuan riset, laporan, dan peristiwa terkini.
Apa Itu Homeless Media?
Istilah "homeless media" pertama kali diperkenalkan oleh Eddward Samadyo Kennedy pada 2017 untuk menggambarkan media yang beroperasi tanpa situs web resmi dan lebih mengandalkan platform media sosial sebagai sarana utama penyebaran kontennya.
Secara lebih sederhana, homeless media adalah praktik produksi dan distribusi informasi yang sepenuhnya bertumpu pada media sosial, Instagram, TikTok, X, YouTube tanpa memiliki "rumah" berupa situs web atau aplikasi sendiri, serta tanpa didukung struktur kelembagaan pers yang mapan seperti media konvensional.
Geger Riyanto dalam penelitian Memahami Homeless Media: Kajian atas Berita Lokal Informal Berbasis Media Sosial di Lima Kota di Indonesia (2024) menegaskan bahwa salah satu karakteristik utama homeless media adalah ketidakjelasan identitas dan struktur pengelolaan. Model ini berbeda dengan media siber arus utama yang memiliki infrastruktur digital sendiri dan terikat regulasi pers.
Fenomena ini tidak muncul dalam ruang hampa. Sejak 2021, pertumbuhan akun informasi berbasis media sosial di Indonesia mengalami peningkatan signifikan, terutama didorong oleh perubahan perilaku konsumsi media Generasi Z yang lebih aktif menggunakan media sosial.
Gaya penyampaian informasi yang singkat, menggunakan bahasa sederhana, serta visual yang relevan menjadi ciri khas yang menarik perhatian kelompok ini.
Perkembangan Homeless Media di Indonesia
Di Indonesia, fenomena homeless media berkembang dalam dua arus besar yang berbeda secara fundamental.
Arus Pertama: Jurnalisme Akar Rumput Berbasis Komunitas
Di tingkat lokal dan hiperlokal, homeless media tumbuh sebagai mata dan telinga warga yang merespons kebutuhan informasi sehari-hari yang luput dari liputan media besar.
Penelitian yang dilakukan di Bengkulu menemukan bahwa audiens sangat bergantung pada akun-akun Instagram lokal seperti Bengkulu Info dan Info Bengkulu Raya untuk mendapatkan informasi cepat yang relevan secara lokal.
Salah satu contoh paling gamblang datang dari Bandung. Hey Bandung, sebuah homeless media yang mulai berjalan sejak Agustus 2025, dikelola oleh tiga mantan pekerja agensi yang pulang ke kampung halaman.
Mereka menyebut diri sebagai homeless media, bergerak tanpa keredaksian, namun tetap terstruktur.
Namun, di balik peran positif itu, penelitian di Jambi dalam jurnal berjudul “Tantangan Kualitas Jurnalisme Warga dalam Pemberitaan Homeless Media di Jambi” mengungkap sisi lain.
Sebuah studi terhadap Homeless Media Jambi menemukan, meskipun media tersebut berperan signifikan dalam mengangkat isu-isu sosial yang jarang mendapat perhatian publik, kualitas jurnalismenya masih perlu ditingkatkan secara serius.
Kelemahan yang ditemukan mencakup proses verifikasi informasi yang belum optimal, penulisan berita yang belum sesuai kaidah profesional, serta kurangnya penerapan prinsip etika dan keberimbangan dalam pemberitaan. Keterbatasan sumber daya manusia, fasilitas teknologi, dan kemampuan literasi jurnalistik menjadi faktor penghambat utama.
Baca juga : Apa Itu Homeless Media? Kenapa Pemerintah Merangkul Mereka?
Arus Kedua: Fenomena Viral dan Kreativitas Tanpa Struktur
Arus lain dari homeless media datang dari kreator konten generasi muda yang memanfaatkan algoritma media sosial untuk menyebarkan informasi secara masif.
Banyak homeless media muncul dari Gen Z yang kreatif, namun rentan terhadap budaya "kejar viral" dan cenderung mengabaikan proses verifikasi.
Fenomena ini memunculkan kekhawatiran tersendiri. Sekretaris Jenderal Jaringan Pemred Promedia (JPP), Arvendo Mahardika, menilai era digital saat ini ditandai dengan kemunculan berbagai media, termasuk homeless media yang beroperasi tanpa kantor, struktur, maupun sistem yang jelas, namun tetap mampu menjangkau ruang publik secara luas.
Jangkauan: Seberapa Besar Pengaruh Mereka?
Data dari berbagai sumber menunjukkan jika jangkauan homeless media tidak bisa lagi dianggap remeh. Kepala Bakom RI Muhammad Qodari menyebut bahwa new media (sebutan untuk homeless media yang bertransformasi) telah memiliki pengikut yang cukup besar mencapai 100 juta dengan views yang bisa menyentuh 4 hingga 5 miliar dalam sebulan.
Laporan We Are Social (2025) mengungkapkan bahwa media sosial seperti YouTube, TikTok, dan WhatsApp telah menggeser peran media konvensional sebagai sumber informasi utama bagi mayoritas masyarakat.
Riset Universitas Multimedia Nusantara (UMW) bahkan mencatat bahwa 77% audiens kini mengakses berita harian lewat media sosial, angka yang jauh melampaui pembaca portal berita yang tinggal 39%. Secara lebih rinci, 85,4% publik menjadikan media sosial sebagai sumber informasi utama, dibandingkan situs web (49,6%) dan aplikasi berita (19,7%).
Jangkauan Homeless Media di Indonesia
- Pengikut homeless media (estimasi gabungan): mencapai 100 juta pengikut
- Total views bulanan: 4–5 miliar per bulan
- Audiens yang mengakses berita via media sosial: 77%
- Media sosial sebagai sumber informasi utama: 85,4%
- Situs web sebagai sumber informasi: 49,6%
- Aplikasi berita sebagai sumber informasi: 19,7%
Sumber: Bakom RI, UMW, We Are Social (2025)
Dengan dominasi ini, beberapa Dinas Kominfo di daerah telah mulai menggandeng homeless media sebagai upaya menjaga "gawang informasi" agar disinformasi tidak merebak.
Beberapa homeless media, seperti yang terungkap dalam riset Remotivi, bahkan telah mulai berinisiatif melakukan verifikasi data secara mandiri selayaknya media resmi yang terdaftar di Dewan Pers.

Muhammad Imam Hatami
Editor
