Tren Leisure

Mengenal Tradisi Perang Api Jelang Nyepi di Lombok

  • Daerah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) punya tradisi khas dalam menyambut Hari Raya Nyepi.
20230314081013.e15d2e0e-9d23-4259-aea0-c8f81f3ff1da_169.jpeg
Tradisi perang api di Lombok, Nusa Tenggara Barat. (p3tb.pu.go.id)

JAKARTA—Daerah Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) punya tradisi khas dalam menyambut Hari Raya Nyepi. Tradisi itu bernama perang api atau juga dikenal sebagai perang bobok. Perang api biasanya digelar sehari sebelum perayaan Nyepi di persimpangan Tugu Tani, Jalan Serampang, Kecamatan Cakranegara, Kota Mataram.

Perang api lazim digelar sore hari atau setelah pawai ogoh-ogoh. Tradisi ini dilakukan dengan cara menghadapkan dua kelompok pemuda asal Negara Sakah dan Sweta, yang membawa bobok atau senjata dari daun kelapa.

Bobok kemudian dibakar dan kedua kubu saling menyerang. Bobok yang dibakar memang dapat menimbulkan luka. Namun hal ini tak mengurangi antusias peserta perang api maupun penonton dalam melaksanakan tradisi tersebut. 

Meskipun konteksnya berperang, dua kelompok pemuda tidak benar-benar bermusuhan satu sama lain. Kedua kubu tidaklah menyimpan dendam karena perang hanya dilakukan sebagai ritual turun-temurun.

Makna Perang Api

Dikutip dari ui.ac.id, perang api menjelang Nyepi memiliki makna khusus selain sebagai penolak bala. Saat Nyepi, umat Hindu biasanya melaksanakan Catur Brata Penyepian. Hal itu terdiri dari amati geni (tidak boleh menghidupkan api, lampu, dan semacamnya), amati karya (tidak boleh bekerja), amati lelungan (tidak boleh bepergian), dan amati lelanguan (tidak boleh bersenang-senang).

Catur Brata harus dilakukan dengan hati bersih, tulus, dan ikhlas. Nah, pelaksanaan perang api sehari sebelum Nyepi menjadi bentuk pembersihan diri dari unsur-unsur jahat dan malapetaka sebelum pelaksanaan tapa brata.

Oleh karena itu, perang api tidak boleh dilakukan sembarangan. Pemuda yang ingin berpartisipasi dalam perang api harus menyiapkan diri dengan baik secara fisik maupun mental. Pemuda dilarang memiliki niat buruk seperti menyerang lawan karena memiliki dendam dengan orang tersebut.

Sikap durjana tersebut harus dijauhi karena simbolisasi perang api adalah mengusir hal-hal buruk yang dapat menjadi malapetaka. Seluruh rangkaian acara harus dilaksanakan dengan niat baik dan hati yang bersih.

Tags: