Mengapa Indonesia Kerap Dilanda Bencana? Ini Penjelasan Ilmiahnya
- Mengapa Indonesia rawan gempa, tsunami, erupsi, banjir hingga longsor? Simak penjelasan ilmiah tentang posisi geografis dan tektonik Indonesia.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Indonesia merupakan salah satu negara dengan tingkat risiko bencana yang tinggi. Kondisi tersebut tidak terlepas dari posisi geografis dan geologis Indonesia yang berada di kawasan pertemuan lempeng tektonik aktif serta jalur Cincin Api Pasifik atau Ring of Fire.
Indonesia juga berada di antara Benua Asia dan Australia serta Samudra Hindia dan Pasifik. Kombinasi kondisi tersebut membuat Indonesia menghadapi beragam ancaman, mulai dari gempa bumi, tsunami, letusan gunung api, tanah longsor, banjir, cuaca ekstrem, kebakaran hutan dan lahan hingga kekeringan.
Karena keragaman ancaman tersebut, Indonesia kerap disebut sebagai “supermarket bencana”. Istilah ini menggambarkan banyaknya jenis ancaman bencana yang dapat terjadi di Indonesia, bukan berarti seluruh bencana tersebut terjadi secara bersamaan.
Baca juga : Masuk Fase Transisi, Integrasi Data Lintas Kementerian Kunci Keberhasilan DSI
Mengapa Indonesia Rawan Gempa?
Faktor utama tingginya ancaman bencana geologi Indonesia adalah kondisi tektoniknya. Wilayah Indonesia berada di kawasan interaksi beberapa lempeng tektonik besar, terutama Lempeng Indo-Australia, Eurasia, Pasifik, serta Lempeng Laut Filipina.
Pergerakan lempeng menyebabkan terbentuknya zona subduksi, sesar aktif dan aktivitas vulkanik. Pada zona subduksi, satu lempeng bergerak menunjam ke bawah lempeng lainnya. Proses tersebut dapat menyebabkan akumulasi energi yang kemudian dilepaskan dalam bentuk gempa bumi.
Ancaman gempa menjadi semakin besar karena Indonesia memiliki banyak zona subduksi, termasuk kawasan megathrust di sepanjang sisi barat Sumatra hingga selatan Jawa dan sejumlah wilayah Indonesia bagian timur.
Gempa bumi sendiri tidak dapat diprediksi secara pasti kapan dan di mana akan terjadi. Karena itu, keberadaan zona megathrust harus dipahami sebagai potensi sumber gempa, bukan prediksi bahwa gempa besar akan segera terjadi.
Tsunami Jadi Ancaman Berikutnya
Gempa bawah laut dengan mekanisme tertentu dapat memicu tsunami. Ketika dasar laut mengalami perubahan posisi secara vertikal secara tiba-tiba, kolom air di atasnya ikut terdorong dan menghasilkan gelombang tsunami.
Indonesia memiliki risiko tsunami karena banyak zona subduksi berada di sekitar wilayah kepulauan dan pesisir.
Selain gempa bumi, tsunami juga dapat dipicu oleh aktivitas gunung api maupun longsoran bawah laut. Peristiwa tsunami akibat runtuhnya sebagian tubuh Gunung Anak Krakatau pada 2018 menjadi salah satu contoh bahwa tsunami di Indonesia tidak selalu berkaitan dengan gempa tektonik.
Risiko tsunami juga dipengaruhi jarak sumber gempa dari pantai, kedalaman laut, bentuk dasar laut dan morfologi wilayah pesisir.
Baca juga : Sisi Gelap Bisnis Data Center
Indonesia Punya 127 Gunung Api Aktif
Posisi Indonesia di Cincin Api Pasifik membuat aktivitas gunung api menjadi bagian dari karakter geologi Indonesia.
Badan Geologi Kementerian ESDM mencatat Indonesia memiliki 127 gunung api aktif, yang terdiri dari 77 gunung api Tipe A, 29 Tipe B dan 21 Tipe C. Sebanyak 69 gunung api dipantau secara efektif melalui pos pengamatan, sementara sebagian lainnya berada di bawah laut sehingga membutuhkan metode pemantauan berbeda.
Gunung api Indonesia terbentuk terutama akibat proses tektonik dan subduksi. Ketika lempeng menunjam, proses tersebut dapat memicu pelelehan sebagian material di dalam bumi. Magma yang terbentuk kemudian dapat bergerak menuju permukaan dan membangun sistem gunung api.
Aktivitas vulkanik dapat menghasilkan berbagai ancaman, seperti awan panas, lava, abu vulkanik, lontaran material dan lahar.
Tanah Longsor Dipengaruhi Hujan dan Kondisi Lereng
Selain gempa dan gunung api, Indonesia juga memiliki risiko tanah longsor yang tinggi.
Indonesia memiliki banyak wilayah pegunungan dengan lereng curam. Ketika hujan dengan intensitas tinggi berlangsung dalam waktu tertentu, air dapat meningkatkan beban tanah sekaligus menurunkan kekuatan material penyusun lereng.
Risiko semakin tinggi apabila tutupan vegetasi berkurang akibat deforestasi dan alih fungsi lahan. Getaran gempa juga dapat menjadi pemicu longsor, terutama di daerah dengan kondisi lereng yang sudah tidak stabil.
Karena itu, longsor merupakan bencana yang tidak hanya dipengaruhi faktor alam, tetapi juga tata guna lahan dan aktivitas manusia.
Banjir Mendominasi Bencana Hidrometeorologi
Berbeda dengan gempa dan erupsi yang berkaitan dengan proses geologi, sebagian besar kejadian bencana di Indonesia merupakan bencana hidrometeorologi.
Banjir menjadi salah satu ancaman yang paling sering terjadi. Hujan ekstrem dapat menghasilkan limpasan air dalam jumlah besar dalam waktu singkat. Ketika kapasitas sungai, drainase dan kawasan resapan tidak mampu menampung air, banjir terjadi.
Faktor manusia dapat memperbesar dampaknya. Alih fungsi lahan, berkurangnya kawasan resapan, kerusakan daerah aliran sungai dan pembangunan di kawasan rawan banjir dapat meningkatkan limpasan permukaan. Dengan demikian, banjir tidak semata-mata persoalan curah hujan. Kondisi lingkungan dan tata ruang juga menentukan tingkat risikonya.
Baca juga : iPhone Duo Jadi Ponsel Lipat Pertama Apple Sepanjang Sejarah
Cuaca Ekstrem dan Perubahan Iklim
Indonesia juga menghadapi ancaman cuaca ekstrem berupa hujan lebat, angin kencang dan fenomena atmosfer lainnya. Pola cuaca Indonesia dipengaruhi berbagai sistem atmosfer dan fenomena iklim, termasuk El Niño, La Niña, Indian Ocean Dipole atau IOD, gelombang ekuatorial dan sistem siklon tropis di sekitar wilayah Indonesia.
Fenomena tersebut dapat mengubah distribusi curah hujan sehingga pada periode tertentu Indonesia dapat mengalami hujan sangat lebat, sementara pada periode lain menghadapi kondisi yang lebih kering.
Karhutla dan Kekeringan
Kebakaran hutan dan lahan menjadi ancaman yang berkaitan erat dengan kondisi cuaca, tutupan lahan dan aktivitas manusia. Saat periode kering berlangsung lebih panjang, vegetasi dan lahan menjadi lebih mudah terbakar. Fenomena seperti El Niño dapat memperbesar risiko kekeringan di sejumlah wilayah Indonesia.
Aktivitas pembukaan lahan dengan pembakaran juga dapat memperbesar risiko karhutla.
Kondisi kering sekaligus dapat meningkatkan ancaman kekeringan. Dampaknya tidak hanya terhadap masyarakat, tetapi juga pertanian, perkebunan, ketersediaan air dan produksi pangan.
Abrasi dan Gelombang Pasang
Sebagai negara kepulauan, Indonesia juga menghadapi risiko bencana di wilayah pesisir. Abrasi terjadi ketika material pantai terkikis oleh gelombang dan arus laut. Kondisi tersebut dapat semakin parah ketika ekosistem pelindung pantai, seperti mangrove, mengalami kerusakan.
Kenaikan muka laut akibat perubahan iklim juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan dalam jangka panjang. Aktivitas manusia seperti penebangan mangrove, penambangan pasir dan pembangunan pesisir yang tidak memperhatikan daya dukung lingkungan dapat meningkatkan kerentanan wilayah pantai.

Muhammad Imam Hatami
Editor
