Kera Punch Viral, Kenapa Manusia Mudah Simpati dengan Hewan?
- Apa alasan psikologis yang bikin manusia mudah simpati pada hewan? Beberapa faktor dapat menjelaskan mengapa orang lebih peduli pada hewan daripada manusia.

Distika Safara Setianda
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Baru-baru ini, seekor bayi monyet di kebun binatang Jepang menjadi viral di media sosial setelah terlihat sangat dekat dengan boneka binatang.
Monyet muda yang dikenal sebagai Punch-kun ini telah memikat hati publik setelah terlihat membawa boneka orangutan ke mana pun ia pergi di Kebun Binatang Kota Ichikawa di Ichikawa, Jepang, dalam klip yang diunggah secara online.
Beberapa orang membagikan reaksi mereka terhadap keterikatan yang tak terduga itu di media sosial. “Lucu melihat monyet kecil itu menyeret boneka binatang itu, tetapi sekaligus juga menyedihkan,” tulis seseorang di X, dilansir dari People.
Melihat kisah Punch, mengapa manusia begitu simpati terhadap hewan? Sebelumnya, seekor anjing bernama Pudding, yang kehilangan tempat tinggal usai keluarganya meninggal akibat kecelakaan Jeju Air, menarik perhatian orang.
Pudding terlihat terlihat berkeliaran di sekitar rumah keluarganya dan pusat desa. Warga melihat anjing itu sering menunggu di dekat kendaraan, seakan mencari keluarganya yang hilang. Tersentuh melihat kondisinya, warga setempat memberikan makan untuk anjing itu saat pemiliknya tidak ada.
Care menceritakan pengalaman emosional mereka saat bertemu dengan anjing tersebut. “Kami menemukan Pudding sedang duduk dengan tenang di luar balai desa. Ketika kami mendekat, ia berlari ke arah kami dengan penuh semangat, seolah-olah masih menunggu keluarganya.”
Lantas, apa alasan psikologis yang membuat manusia mudah simpati terhadap hewan?
Kenapa Manusia Mudah Simpati dengan Hewan?

Beberapa faktor dapat menjelaskan mengapa sebagian orang lebih peduli pada hewan daripada manusia. Hewan sering dianggap tidak bersalah dan rentan, sehingga membangkitkan emosi yang kuat. Beberapa individu merasa sangat terhubung dengan hewan karena keyakinan atau pengalaman pribadi.
Hewan, yang dipandang sebagai makhluk rentan tanpa kendali atas nasib mereka, membangkitkan rasa welas asih dengan cara yang mungkin tidak dirasakan oleh manusia, yang dianggap memiliki kendali atas nasib mereka.
Bagi sebagian individu, empati dan rasa hormat terhadap hewan terasa lebih kuat dibandingkan hubungan emosional yang mereka alami dengan manusia. Karena itu, tidak mengherankan jika hewan sering kali membalas kasih sayang tersebut dengan kedekatan yang sama mendalamnya.
Banyak orang merasakan bahwa mereka memiliki ketertarikan yang kuat terhadap hewan, dan pada saat yang sama juga mudah didekati oleh hewan. Sejumlah ahli psikologi dan perilaku hewan berpendapat bahwa orang-orang yang sangat peka secara emosional mungkin memiliki ikatan khusus dengan hewan.
Dilansir dari Better Help, dugaan ini didukung oleh berbagai fenomena alami misalnya, ada bukti bahwa hewan dapat merespons dan berkomunikasi terhadap emosi manusia.
Empati, yakni kemampuan untuk memahami dan merasakan apa yang dirasakan orang lain, merupakan keterampilan yang cukup kompleks bagi manusia. Karena itu, penting untuk memahami bahwa empati adalah kemampuan menangkap emosi orang lain sekaligus membayangkan apa yang sedang mereka pikirkan atau rasakan.
Sementara itu, welas asih melampaui empati. Welas asih tidak hanya berarti memahami penderitaan seseorang, tetapi juga disertai keinginan dan dorongan untuk meringankannya. Perasaan ini sering kali mendorong seseorang mengambil tindakan nyata untuk membantu atau mendukung mereka yang membutuhkan.
Sering kali, hewan menunjukkan kasih sayang kepada manusia yang merawat mereka, memberi makan, serta memenuhi kebutuhan dan memberikan dukungan.
Bahkan jika seekor anjing, kucing, atau hewan peliharaan belum mengenal seseorang yang penuh empati, mereka bisa merasakan berdasarkan pengalaman naluriah mereka, bahwa orang tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan mereka.
Di sisi lain, orang-orang yang sangat peka secara emosional kerap berharap dapat menjalin kedekatan dengan hewan, dengan keinginan untuk memberikan dukungan, kasih sayang, dan perhatian. Perasaan empati dan rasa hormat terhadap hewan dapat menjelaskan mengapa sebagian orang merasa sangat tertarik pada hewan.
Namun, dapatkah psikologi menerangkan alasan mengapa ada orang yang tampak lebih terhubung dengan hewan dibandingkan dengan sesama manusia? Sebuah penelitian dari kriminolog Jack Levin memberikan kemungkinan jawabannya.
Dalam studi tersebut, para partisipan diminta menanggapi sebuah berita fiktif tentang korban yang diserang menggunakan tongkat baseball hingga tidak sadarkan diri dan mengalami beberapa patah tulang.
Meskipun isi ceritanya sama, ada satu perbedaan penting, yaitu identitas korbannya. Korban digambarkan sebagai bayi berusia satu tahun, manusia dewasa, anjing berusia enam tahun, atau seekor anak anjing. Hasilnya menunjukkan, responden memiliki tingkat empati yang sama terhadap bayi, anak anjing, dan anjing dewasa, tetapi menunjukkan empati yang jauh lebih rendah terhadap manusia dewasa.
Hal ini juga berkaitan dengan ikatan manusia dan hewan yang banyak kita rasakan, karena hewan membutuhkan perhatian, bantuan, dan kepedulian kita. Banyak hewan menyayangi manusia karena, dari pengalaman mereka, mereka belajar bahwa sebagian besar manusia dapat diandalkan untuk memberikan perawatan.
Dalam banyak kasus, merawat hewan peliharaan juga menjadi salah satu pengalaman awal dalam hidup yang menyerupai proses merawat anak manusia. Kasih sayang alami yang kita rasakan terhadap hewan dapat dibandingkan dengan perasaan kita terhadap anak-anak.
Kita secara naluriah ingin menjaga mereka dan menyediakan lingkungan yang tenang dan penuh dukungan karena mereka tidak mampu menolong diri sendiri dengan mudah. Sementara, manusia dewasa sering dipersepsikan sebagai individu yang mampu menyuarakan haknya atau melindungi diri dari bahaya.

Distika Safara Setianda
Editor
