Tren Leisure

Kenapa Kita Mudah 'Khilaf' Saat Belanja Online?

  • Perilaku belanja impulsif bukan semata soal karakter atau kedisiplinan. Kondisi itu merupakan respons yang dapat diprediksi dan direkayasa oleh platform hingga algoritma.
Berbelanja online.
Berbelanja online. (pexels.com/Andrea Piacquadio)

JAKARTA, TRENASIA.ID - Pernah tiba-tiba tersadar sudah menekan tombol checkout untuk barang yang bahkan tidak ada di daftar belanjaan kamu? Atau membuka aplikasi e-commerce hanya untuk "lihat-lihat", lalu 20 menit kemudian mendapat notifikasi pembayaran berhasil? Kamu tidak sendirian.

Penelitian lintas disiplin dari neurosains, psikologi perilaku, dan ilmu pemasaran digital mengungkap bahwa perilaku belanja impulsif bukan semata soal karakter atau kedisiplinan. 

Kondisi tersebut merupakan respons yang dapat diprediksi dan direkayasa oleh desain platform, algoritma rekomendasi, dan teknik pemasaran yang bersandar pada cara kerja otak manusia.

"Pengeluaran dari pembelian tak terencana menyumbang sekitar 40% dari total belanja online konsumen." tulis laporan PMC Meta-Analysis tahun 2021.

Baca juga : Jual Beli Rekening di Marketplace Dinilai Berisiko Tinggi

Bagaimana Dopamin Bekerja?

Ketika kita menelusuri produk secara online, otak tidak hanya bereaksi terhadap barang itu sendiri, ia merespons antisipasi memilikinya. 

Menurut riset yang dipublikasikan oleh Advances in Consumer Research (Jain & Mishra, 2025), ada korelasi kuat antara stimulus pemicu dopamin, seperti iklan yang dipersonalisasi dan indikator kelangkaan stok dengan peningkatan frekuensi pembelian yang tidak direncanakan.

Dopamin, neurotransmiter yang selama ini dikenal sebagai "hormon kesenangan", sesungguhnya bekerja paling kuat pada fase anticipation bukan saat barang sudah di tangan. Otak melepaskan dopamin bahkan sebelum transaksi selesai, menciptakan siklus motivasi yang sulit diputus.

Dikutip dari Archives of Clinical Psychiatry peningkatan aktivitas jalur dopaminergik sebagai respons terhadap stimulus belanja menjelaskan mengapa perilaku ini terasa menyenangkan sekaligus kompulsif mirip dengan mekanisme kecanduan perilaku lainnya.

Lima Faktor Psikologis Pemicu Checkout

1. Kondisi Emosi

Sebuah ulasan komprehensif dalam Journal of Marketing & Social Research (2025) menemukan bahwa perasaan bosan, cemas, atau sekadar excited dapat meningkatkan kerentanan seseorang terhadap stimulus platform e-commerce termasuk UX yang mulus, taktik urgensi, dan mekanisme social proof.

2. Self-Control Rendah dan Paparan Iklan Digital

Berdasarkan survei terhadap 2.318 responden muda di Finlandia, riset yang diterbitkan oleh ScienceDirect tahun 2023 mengonfirmasi, self-control yang rendah tidak hanya secara langsung mendorong pembelian impulsif, tetapi juga memperkuat sikap positif terhadap iklan bertarget dan pengaruh konten media sosial.

Baca juga : 15 Tools Gratis & Berbayar yang Wajib Dicoba UMKM untuk Jualan Online

3. FOMO (Fear of Missing Out)

Menurut European Journal of Business and Management Research (2025), strategi pemasaran berbasis FOMO, flash sale, countdown timer, dan notifikasi "hanya tersisa 3 item" menciptakan rasa kelangkaan buatan. Konsumen merasa bahwa melewatkan penawaran setara dengan kerugian personal, sehingga rasionalitas terdiskon habis.

4. Desain Platform

Sebuah meta-analisis yang diterbitkan di PubMed Central (2021) menyimpulkan bahwa belanja online menawarkan kondisi yang lebih kondusif untuk pembelian impulsif dibanding toko fisik, mulai dari proses pencarian produk yang disederhanakan hingga fitur one-click ordering yang menghapus jeda berpikir.

5. Social Presence di Live Shopping

Penelitian dari Computational Intelligence and Neuroscience (PMC, 2022) menunjukkan bahwa faktor interaktivitas, kualitas visual, dan kekayaan media semuanya berpengaruh positif terhadap social presence yang kemudian secara langsung mendorong perilaku beli impulsif, terutama di platform live commerce seperti Shopee dan TikTok Shop.