KapaL Induk AS Tidak Berguna untuk Membela Taiwan?
- WASHINGTON-Kapal induk seperti USS Gerald R. Ford seharga $13 miliar adalah simbol mengambang dari kekuatan militer Amerika Serikat. Mereka dibangun untuk mence

Amirudin Zuhri
Author


WASHINGTON-Kapal induk seperti USS Gerald R. Ford seharga $13 miliar adalah simbol mengambang dari kekuatan militer Amerika Serikat. Mereka dibangun untuk mencegah musuh menyerang kepentingan Amerika, meyakinkan sekutu di saat krisis, dan memberikan dukungan udara jarak dekat dalam pertempuran.
Namun kapal ini juga merupakan target besar dan menggoda untuk rudal anti-kapal. Kini China, yang memiliki rudal yang dapat menyerang kapal hingga 2.500 mil jauhnya dilaporkan telah menemukan cara untuk melacak kapal induk Amerika secara real-time.
Bulan Juni The South China Morning Post melaporkan sebuah satelit China yang dilengkapi dengan kecerdasan buatan dilaporkan mendeteksi kapal induk USS Harry S. Truman selama latihan di lepas pantai Long Island, New York.
- Dijadwalkan Beroperasi 2 Tahun Lagi, Bagaimana Kesiapan Ibu Kota Nusantara?
- ICW Minta KPK Tinjau Putusan MA yang Vonis Bebas Samin Tan
- 9 Tips Turunkan Berat Badan Tanpa Diet Ketat
Timothy Heath, peneliti pertahanan internasional senior di RAND Corporation mengatakan jika laporan ini akurat, itu bisa mengindikasikan Angkatan Laut Amerika tidak akan dapat mengirim kapal induk ke Taiwan sebagai tanggapan atas invasi China.
“Mengingat rudal balistik anti-kapal jarak jauh China, maka satu-satunya harapan yang dimiliki kapal induk Amerika untuk selamat dari pertempuran di dekat Taiwan adalah bersembunyi dari sensor China,” katanya kepada Task & Purpose Jumat 17 Juni 2022.
Jika tidak maka kapal induk dapat ditemukan, diidentifikasi, dan dilacak. Data itu tidak diragukan lagi akan diteruskan ke platform China yang kemudian dapat menargetkan kapal perang.
Di masa lalu, analis China harus meneliti sejumlah besar citra satelit untuk menemukan kapal induk Amerika. Dengan menggunakan kecerdasan buatan, militer China dapat mempercepat proses itu.
Bahkan jika laporan tentang bagaimana China melacak Harry S. Truman ternyata tidak benar, sejumlah ahli militer telah lama memperkirakan kecerdasan buatan akan mempermudah China dan musuh lainnya untuk menyaring citra satelit dan mengidentifikasi target.
Heat mengatakan medan perang masa depan akan sangat transparan. Ini karena satelit dan kecerdasan buatan akan membuat semakin sulit bagi kapal kombatan besar seperti kapal induk untuk bersembunyi. “Dengan fakta ini hampir dapat dipastikan hari-hari kapal induk di medan perang modern memang semakin memudar.”
China telah memiliki berbagai radar berbasis darat, sensor udara, dan satelit. Semua ini telah membuat para perencana militer Amerika khawatir tentang pengiriman kapal induk ke mana pun di dekat Taiwan.
Menurut Heat Angkatan laut Amerika selama bertahun-tahun merencanakan untuk menyebarkan kapal induk jauh dari Taiwan sehingga mereka berada di luar jangkauan rudal China. Tetapu cara ini juga tidak relevan dengan pertempuran. “Intinya jika Amerika mengandalkan kapal induk untuk menyelamatkan Taiwan, itu sia-sia. Itu tidak layak,” katanya.
Sementara pensiunan Kapten Angkatan Laut Amerika Jerry Hendrix mengatakan dia khawatir tentang bagaimana kapal induk Amerika S dapat dideteksi dari luar angkasa. Hendrix adalah seorang ahli Angkatan Laut yang menghabiskan 26 tahun bertugas di kapal induk dan sebagai ahli strategi.
Hendrix kepada Task & Purpose menceritakan bagaimana dia membaca berita tahun lalu tentang seorang astronot yang melihat bekas kapal induknya saat dia bertugas di stasiun luar angkasa. Dari jauh di atas Bumi, astronot masih bisa melihat nomor lambung kapal melalui salah satu teleskop stasiun.
Dia berpikir bahwa jika seorang astronot manusia di stasiun luar angkasa saja dapat melakukan ini, mungkin tidak terlalu sulit untuk mencari kapal induk.
Memang tidak banyak kapal di dunia yang sebesar, secepat, atau yang menggusur air sebanyak kapal induk Amerika. Ini menjadikan satelit China memiliki banyak petunjuk untuk dicari.
Butuh pesawat baru
Hendrix menyebut untuk menjaga agar kapal induk tetap relevan dalam perang di masa depan, US Navy perlu berinvestasi dalam pesawat berbasis kapal induk yang dapat terbang lebih jauh tanpa pengisian bahan bakar daripada F-35C.
Hendrix mengatakan dia memperkirakan F-35C dapat terbang hingga 650 mil laut sebelum perlu diisi bahan bakar. Meski Angkatan Laut Amerika sedang mengembangkan drone MQ-25 untuk tanker berbasis kapal induk, tetap tidak akan cukup jumlah drone di sebuah kapal induk individu untuk mengisi bahan bakar banyak F-35C dalam serangan besar.
Angkatan Laut sangat membutuhkan pesawat tempur tak berawak. US Navy telah mengembangkan drone semacam itu yakni X-47B.. Tetpi program itu dihentikan dan Angkatan Laut Amerika beralih ke MQ-25.
- Bosan, Karyawan Netflix Resign Meski Dapat Gaji Rp549 Juta per Bulan
- Keren! Bandara Banyuwangi Masuk Daftar 20 Arsitektur Terbaik di Dunia
- Negara Tujuan Ekspor Kendaraan Bermotor RI Paling Jumbo
Tidak ada keraguan bahwa ancaman terhadap kapal induk semakin meningkat. Tetapi juga perlu dicatat bahwa para ahli telah menulis obituari kapal induk selama satu abad. Pada 1922 U.S. Naval Institute bahkan telah membuat artikel yang memperdebatkan nilai kapal induk.
Seorang ahli berpendapat pada tahun 1925 bahwa Angkatan Laut harus menggunakan balon besar daripada kapal untuk membawa pesawat. Hal ini karena kapal udara dapat terbang di atas laut dan darat.
Sebuah komentar tahun 1959 juga menilai Angkatan Laut Amerika akan lebih mendapat manfaat jika menggunakan uangnya untuk membangun lebih banyak kapal selam daripada kapal induk.
Target sulit
Pensiunan Kapten Angkatan Laut Amerika Brent Sadler mengatakan dia tidak percaya kapal induk Amerika begitu rentan terhadap deteksi sehingga mereka tidak dapat mengambil bagian dalam tanggapan militer terhadap invasi China ke Taiwan.
Menurutnya rantai pembunuh China ini panjang dan kelompok tempur kapal induk adalah target keras. Sadler yang kini bekerja di think tank Heritage Foundation menyebebut mereka dapat dan akan beroperasi dalam rentang ancaman.
“Hanya karena satelitnya mendeteksi kapal induk Amerika, tidak berarti militer China bisa mendapatkan lokasi kapal tepat waktu untuk berhasil menghantam dengan rudal,” ujarnya.
Pada tahun 1981, latihan Angkatan Laut Amerika Ocean Venture menunjukkan bahwa kapal induk Amerika dapat menghindari deteksi oleh satelit Soviet. Ini menyangkal bahwa kapal induk harus berada jauh dari wilayah Soviet untuk bertahan hidup. Menurut Sadler hal yang sama berlaku hari ini.
Intinya menurut Sadler kelompok tempur kapal induk, pesawat jarak jauh, dan kapal selam semuanya akan aktif jika perang seperti itu terjadi.
