Tren Leisure

Job Hopping Enggak Selamanya Buruk, Ini 5 Alasannya

  • Job hopping atau sering berpindah pekerjaan adalah tren yang berkembang pesat di pasar tenaga kerja. Gen Z jadi aktor utama. Simak ulasannya.
Ilustrasi Gen Z di tempat kerja.
Ilustrasi Gen Z di tempat kerja. (Freepik)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Jika kamu merasa hanya menjalankan rutinitas di peran kamu saat ini tanpa kepuasan kerja yang memadai, mungkin sudah saatnya untuk perubahan dengan tantangan yang ditawarkan oleh peran baru.

Job hopping atau sering berpindah pekerjaan adalah tren yang berkembang pesat di pasar tenaga kerja dan merujuk pada seseorang yang sering dan sukarela berganti pekerjaan. Meski orang berganti pekerjaan lebih sering daripada di masa lalu, mereka yang sering berpindah pekerjaan melakukannya lebih sering.

Dilansir dari Redline Group, sering berpindah pekerjaan adalah pola berganti perusahaan setiap satu atau dua tahun atas kemauan sendiri, bukan karena pemutusan hubungan kerja atau penutupan perusahaan. Generasi Z sering dikenal sering berpindah pekerjaan.

Meskipun benar bahwa beberapa pemberi kerja akan menolak calon kandidat karena memiliki daftar panjang perusahaan tempat bekerja sebelumnya, dengan alasan termasuk masalah loyalitas, kurangnya pengalaman yang diperoleh, dan hasil yang tidak terpenuhi dari pekerjaan tersebut.

Ada juga perusahaan lain yang akan melihat CV dan melihat lebih dari sekadar sering berpindah pekerjaan, mereka akan melihat perkembangan atau luasnya pengalaman yang diperoleh dari berbagai peran. Dan berikut beberapa alasan mengapa job hopping tak selamanya buruk.

Alasan Mengapa Job Hopping Gak Selalu Buruk untuk Kariermu

Berikut alasan job hopping tak selamanya buruk untuk kariermu:

1. Berpeluang Mendapat Penghasilan Lebih Besar

Siapa pun yang bilang uang tidak penting dalam pekerjaan sebenarnya tidak jujur. Di setiap pekerjaan pastikan saya lebih tinggi dari sebelumnya. Penghasilan harus naik. Kalau tidak, untuk apa menghabiskan sebagian besar waktu dan energi pada perusahaan yang bahkan bukan milik kita?

Apalagi jika kamu tinggal di kota dengan biaya hidup tinggi, hal ini jadi semakin penting. Yang sebenarnya tidak terlalu berpengaruh adalah jabatan atau titel. Sebaliknya, penghasilanlah yang menentukan. Saat berpindah kerja, peluang untuk mendapatkan gaji lebih besar biasanya jauh lebih terbuka.

Kalau perusahaan lama tiba-tiba mengajukan penawaran balasan, sebaiknya jangan diterima. Pada dasarnya tidak akan ada perubahan nyata dalam peranmu, mereka hanya menaikkan tawaran karena kamu sudah memutuskan untuk pergi, dikutip dari Builtin.

2. Jadi Lebih Fleksibel

Ilustrasi Gen Z di tempat kerja. (Freepik)

Saat sering berpindah kerja, kamu dituntut untuk terus mempelajari keterampilan baru, berkenalan dan bekerja dengan orang-orang berbeda, dan menyesuaikan diri dengan berbagai cara kerja. Hal ini membuatmu lebih luwes dibandingkan mereka yang bertahun-tahun bertahan di satu perusahaan, sekaligus melatih kemampuan untuk menghadapi hampir semua tantangan di dunia kerja.

Pengalaman ini juga mengajarkan agar tidak terlalu merasa aman atau nyaman di satu posisi, karena kenyataannya pekerjaan bisa hilang kapan saja. Fleksibilitas dan kemampuan beradaptasi ini sangat penting agar kamu siap menghadapi segala perubahan dan kekacauan yang mungkin muncul di lingkungan kerja.

3. Keterampilanmu Akan Semakin Berkembang

Saat bekerja di perusahaan korporat, ketakutan terbesar adalah tidak punya ruang untuk mengembangkan kemampuan baru karena terlalu banyak waktu habis untuk urusan birokrasi. Ditambah lagi, bekerja di bawah manajer yang kurang percaya diri membuat potensi dan keterampilan sulit terlihat.

Hal inilah yang akhirnya menjadi alasan utama sering berpindah pekerjaan. Selain itu, job hopping juga memberi wawasan tentang bagaimana para kompetitor bekerja dan menjalankan bisnisnya, yang pada akhirnya membuat kemampuan kita menjadi lebih luas dan serbaguna.

Bertahan di pekerjaan yang sama dapat menyebabkan perasaan terjebak dan memikirkan ide-ide baru menjadi lebih sulit. Berganti pekerjaan akan memberikan perspektif baru yang dapat membangkitkan energi kreatif dan keterbukaan untuk mencoba hal-hal baru, sekaligus menyoroti kemampuan adaptasi individu.

4. Menemukan Lingkungan Kerja yang Paling Cocok

Tidak semua orang langsung menemukan kecocokan dengan budaya kerja di pekerjaan pertamanya. Berpindah kerja memberi kesempatan untuk memahami lingkungan seperti apa yang benar-benar membuatmu nyaman dan berkembang.

Dari situ, kamu belajar membedakan tempat yang memberi ruang untuk bertumbuh dan mana yang justru menguras tenaga serta emosi. Proses ini berperan penting dalam menjaga kesehatan mental.

Melalui pengalaman tersebut, kamu menjadi lebih selektif dan sadar dalam memilih tempat kerja. Kamu memahami batasan diri, kebutuhan, serta nilai-nilai yang ingin dijaga. Alhasil, keputusan karier terasa lebih bermakna dan terarah,bukan sekadar mengikuti arus atau tuntutan dari sekitar.

5. Meningkatkan Posisi Tawar di Dunia Kerja

Riwayat pekerjaan yang beragam kerap mencerminkan kemampuan beradaptasi yang baik. Selama setiap perpindahan memiliki alasan yang jelas, perekrut justru melihatnya sebagai nilai tambah. Kamu dinilai memiliki wawasan yang luas serta kemampuan belajar yang cepat, sehingga posisi tawarmu di pasar kerja pun semakin kuat.