Jelang Lebaran, Pahami Bedanya Pinjaman Bijak vs Utang Menjebak
Bijakkah berutang untuk memenuhi tingginya kebutuhan Lebaran? Untuk menjawab hal itu, perlu diketahui tentang perbedaan antara utang positif dan utang negatif. Pinjaman bijak vs utang buruk. ”Mengetahui perbedaan antara pinjaman bijak dengan utang buruk merupakan hal penting. Meskipun semua sepakat bahwa tidak punya utang merupakan cara paling benar untuk memiliki keuangan yang sehat,” Head of […]

trenasia
Author


ilustrasi: finmas.co.id
(Istimewa)Bijakkah berutang untuk memenuhi tingginya kebutuhan Lebaran? Untuk menjawab hal itu, perlu diketahui tentang perbedaan antara utang positif dan utang negatif. Pinjaman bijak vs utang buruk.
”Mengetahui perbedaan antara pinjaman bijak dengan utang buruk merupakan hal penting. Meskipun semua sepakat bahwa tidak punya utang merupakan cara paling benar untuk memiliki keuangan yang sehat,” Head of PR and Corporate Communication Finmas, Rainer Michael Emanuel.
Faktanya, melakukan pinjaman seringkali sulit dihindari. Rainer menyebut, ada banyak argumen yang mengemuka berkaitan dengan utang. ”Butuh analisa mendalam untuk mengatakan apakah itu pinjaman bijak atau utang buruk karena satu sama lain bisa berbeda tergantung keadaan masing-masing,” terusnya.
Meski begitu, secara umum Rainer menyimpulkan bahwa perbedaan pinjaman bijak dengan utang buruk terletak pada penggunaannya.
Untuk pinjaman bijak, menurutnya, pada umumnya untuk membantu mengatur keuangan. Bagian dari upaya membangun kekayaan dalam jangka panjang dan masuk akal secara finansial.
”Contoh pinjaman bijak termasuk pinjaman rumah dimana Anda mampu untuk membayar pinjaman tersebut dan juga pinjaman pendidikan bagi mahasiswa yang termasuk investasi jangka panjang dan dapat menyelesaikan masalah utama bagi para orangtua,” Rainer menjelaskan.
Sedangkan utang buruk, disebutkan Rainer, antara lain uang yang dipinjam melalui kartu kredit dan pinjaman pribadi untuk membayar pengeluaran sehari-hari. Termasuk juga untuk liburan atau aset seperti mobil yang cenderung mengalami penurunan nilai.
”Mungkin beberapa orang berpendapat bahwa sebuah pinjaman bahkan untuk pinjaman rumah pun dapat dianggap sebagai hutang buruk jika dibandingkan dengan pinjaman untuk properti investasi,” ungkapnya.
Hal tersebut terjadi karena harga aset properti trennya memang meningkat tetapi pada saat yang sama rumah dimaksud tidak menghasilkan pendapatan. ”Sedangkan biaya bunga pinjaman tidak dapat dikurangkan dari pajak,” tegasnya.
Perencana keuangan Tatadana Consulting, Tejasari Assad, sependapat bahwa mengetahui perbedaan pinjaman bijak dengan utang buruk sangat penting. Supaya tidak menyesal kemudian karena bisa menjerumuskan dalam utang yang menjebak.
Pinjaman bijak, menurutnya, cenderung lebih terukur. Nilai pinjaman berbanding potensi keuntungan. Bisa diperkirakan periode (tenor) dan jumlah utangnya.
Alat ukur yang jadi pembanding biasanya adalah penghasilan bulanan dari si peminjam. ”Biasanya kalau untuk investasi lebih baik 30 persen (jumlah pinjaman) dari penghasilan.”
Investasi dalam hal ini tidak selalu berkaitan dengan instrumen efek seperti saham atau emas dan deposito. Membeli rumah pun, menurut Tejasari, bagian dari investasi.
”Kalau mau beli rumah, lebih cepat lebih baik. Karena kita dipaksa untuk membayar cicilan KPR-nya. Untuk yang pekerja atau baru kerja, lebih baik cepat membeli rumah karena rumah semakin lama harganya semakin meningkat,” tuturnya.
Sebaliknya utang buruk cenderung sulit diukur. Tidak bisa diprediksi karena uang yang digunakan bukan untuk kepentingan produktif. Alhasil, terjebak utang. Utang yang menjebak.
Tejasari memberi contoh, membeli produk ponsel menggunakan kartu kredit. Kartu kredit adalah bagian dari cara berutang. Pada saat yang sama utang secara bertahap dilunasi, nilai dari ponsel tersebut terus tergerus.
Berkaitan dengan menghadapi momen Lebaran, Tejasari memahami kebutuhan keuangan pada momen tersebut memang meningkat. Rata-rata untuk sesuatu yang bersifat konsumtif.
Kebutuhan itu sebenarnya bisa dipenuhi karena bersifat terencana. Selain itu juga ada tambahan uang lebih dari Tunjangan Hari Raya (THR). Lalu bagaimana jika semua itu masih belum cukup dan memutuskan untuk berutang?
Konsumtif menjadi kunci untuk membedakan utang buruk vs pinjaman bijak. Tejasari memaparkan, apapun alasannya, kepentingan konsumtif itu tidak bijak jika dipenuhi dengan cara berutang. (*)
