Hapus Persepsi untuk Gegayaan, Vape Ditujukan Bagi Perokok Dewasa
- Influencer vape Jessica Rima menegaskan produk tembakau alternatif seperti vape hanya ditujukan untuk perokok dewasa 21+, bukan non-perokok atau anak di bawah umur.

Chrisna Chanis Cara
Author


Pemilik toko yang juga Anggota APVI, Rhomedal (kanan) memasang stiker himbauan di toko Vapepackers, Jakarta, Rabu, 9 September 2020. Kegiatan ini merupakan sosialisasi mengenai bahaya penyalahgunaan narkoba pada produk tembakau alternatif atau rokok elektrik melalui gerakan sosial bertajuk “Gerakan Pencegahan Penyalahgunaan Rokok Elektrik (GEPPREK)” yang juga telah dilakukan di Denpasar, Bali, dan Bandung, Jawa Barat. Foto: Ismail Pohan/TrenAsia
(Istimewa)JAKARTA, TRENASIA.ID — Penggunaan produk tembakau alternatif seperti vape atau rokok elektronik, produk tembakau yang dipanaskan, hingga kantong nikotin terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Namun di tengah tren tersebut, muncul dorongan kuat agar publik memahami bahwa produk ini bukan ditujukan bagi non-perokok, apalagi anak di bawah umur. Influencer sekaligus konsumen produk tembakau alternatif, Jessica Rima Rahmayanti atau yang dikenal sebagai @jee_vanka, menilai persepsi publik terhadap vape perlu diluruskan.
Menurutnya, produk tembakau alternatif kerap keliru dipandang sebagai bagian dari gaya hidup anak muda, padahal fungsi utamanya adalah sebagai opsi bagi perokok dewasa yang ingin beralih dari rokok konvensional.
“Kalau produk tembakau alternatif dikaitkan khusus dengan anak muda, itu kurang tepat. Saya sama sekali tidak mentoleransi penggunaan produk ini oleh anak di bawah umur,” ujar Jessica, Jumat, 26 Juni 2026.
Edukasi Vape with Attitude
Jessica mengatakan edukasi menjadi elemen penting karena vape tergolong sebagai inovasi yang relatif baru. Ia rutin mengampanyekan penggunaan yang bertanggung jawab melalui konten digital, diskusi, hingga aktivitas komunitas lewat pendekatan yang ia sebut “Vape with Attitude.”
Menurutnya, edukasi tersebut tidak hanya membahas cara penggunaan produk, tetapi juga etika, tujuan konsumsi, dan segmentasi pengguna yang tepat. “Edukasi seperti ini penting karena masyarakat perlu memahami siapa pengguna yang tepat dan bagaimana produk ini digunakan secara bertanggung jawab,” katanya.

Jessica mengaku kerap menerima pertanyaan dari orang-orang yang penasaran ingin mencoba vape. Namun, ia selalu menanyakan latar belakang mereka terlebih dahulu. Jika orang tersebut bukan perokok, Jessica justru menyarankan untuk tidak mencoba.
“Kalau sebelumnya tidak merokok, saya selalu bilang tidak perlu mencoba. Produk ini memang bukan untuk orang yang sebelumnya tidak merokok,” tegasnya.
Ia juga menekankan pentingnya komunikasi yang tidak menargetkan kelompok usia remaja. Karena itu, berbagai kegiatan edukasi yang ia lakukan dibatasi untuk audiens berusia 21 tahun ke atas dan dikemas dalam format informatif, bukan promosi konsumsi.
“Kami berusaha memastikan edukasi soal produk tembakau alternatif tetap tepat sasaran, yakni untuk konsumen dewasa 21+ dan bukan sebagai ajakan bagi non-konsumen,” ujarnya.
Pentingnya Pilihan Bagi Perokok Dewasa
Bagi Jessica, keberadaan produk tembakau alternatif pada dasarnya memberi pilihan tambahan bagi perokok dewasa yang ingin mengurangi ketergantungan pada rokok konvensional.
Ia mengibaratkannya seperti seseorang yang mulai mengurangi konsumsi gula dengan beralih ke minuman rendah gula. “Intinya adalah pilihan. Yang penting, perokok dewasa punya opsi yang dianggap lebih sesuai dengan kebutuhan mereka,” kata Jessica.
Pandangan serupa datang dari Aji, konsumen produk tembakau alternatif yang mulai menggunakan vape pada 2016 setelah lama menjadi perokok berat. Ia mengaku merasakan perubahan setelah beralih.
“Setelah menggunakan vape, dada terasa lebih ringan. Saya juga merasa lebih nyaman saat beraktivitas karena tidak ada bau asap rokok yang menempel di pakaian atau ruangan,” ungkap Aji.
Pengalaman tersebut mendorong Aji untuk sepenuhnya meninggalkan kebiasaan merokok pada 2018. Meski begitu, ia menegaskan vape seharusnya tidak dipahami sebagai produk yang bisa dicoba sembarangan.
Menurutnya, edukasi publik tetap menjadi kunci agar masyarakat tidak salah memahami fungsi produk tembakau alternatif. “Produk ini sebaiknya dipahami sebagai opsi bagi perokok dewasa, bukan sesuatu yang dicoba tanpa pertimbangan,” tuturnya.

Chrisna Chanis Cara
Editor
