Tren Leisure

Fast Fashion Rusak Bumi, Ini Tips Agar Gen Z Tetap Stylish

  • Fast fashion berdampak besar pada lingkungan. Simak cara Gen Z tetap tampil stylish tanpa menambah emisi, limbah, dan polusi air global.
Membuka toko pakaian bekas layak pakai untuk fashion berkelanjutan.
Membuka toko pakaian bekas layak pakai untuk fashion berkelanjutan. (freepik.com)

JAKARTA, TRENASIA.ID – Generasi Z dikenal sebagai generasi yang paling vokal soal krisis iklim. Namun dalam praktiknya, pilihan gaya hidup termasuk soal fashion masih menghadapi dilema antara idealisme dan realitas tren yang bergerak cepat.

Berbagai survei yang dipaparkan startup asal Inggris, Save Your Wardrobe, menunjukkan 62% Gen Z lebih memilih membeli dari merek berkelanjutan, dan 73% bersedia membayar lebih untuk produk yang sejalan dengan nilai lingkungan mereka. 

Di sisi lain, fenomena intention gap atau kesenjangan antara niat dan tindakan masih terjadi. Sebanyak 59% Gen Z mengaku lebih banyak membicarakan keberlanjutan dibanding mempraktikkannya, bahkan 40% mengaku sering membeli pakaian yang hanya dipakai sekali.

Pesatnya pertumbuhan Fast Fashion menjadi masalah tersendiri. Mengacu pada laporan Parlemen Uni Eropa bertajuk “Fast fashion: EU laws for sustainable textile consumption” , industri tekstil dan fashion tercatat mengonsumsi sekitar 215 triliun liter air setiap tahun. Tak hanya itu, proses pewarnaan dan pengolahan kain juga menyumbang sekitar 20% dari total polusi air global.

Baca juga : Gen Z, Fast Fashion, dan Bencana Lingkungan Hidup

Jika dilihat pada skala produk, dampaknya pun tak kalah besar. Untuk memproduksi satu kaos berbahan katun dibutuhkan sekitar 2.700 hingga 3.000 liter air. Sementara itu, pembuatan satu celana jins bisa menghabiskan antara 7.500 sampai 10.000 liter air.

Masalah lain muncul dari sisi limbah. Setiap tahun, industri ini menghasilkan sekitar 92 juta ton limbah tekstil. Bahkan, diperkirakan satu truk penuh pakaian dibakar atau berakhir di tempat pembuangan akhir (TPA) setiap detiknya di seluruh dunia.

Harga murah dan akses mudah dari tren ultra-fast fashion kerap menjadi godaan, terutama bagi anak muda dengan keterbatasan anggaran. Lalu, bagaimana agar tetap tampil modis tanpa memperparah krisis lingkungan? berikut langkah - langkahnya

Perbaiki, Jangan Beli

Gerakan repair culture atau budaya memperbaiki pakaian juga mulai tumbuh. Sekitar 65% konsumen berencana membeli pakaian yang lebih tahan lama, dan 57% bersedia memperbaiki pakaian dibanding langsung membuangnya.

Memperpanjang usia pakaian secara langsung mengurangi limbah tekstil yang saat ini mencapai sekitar 92 juta ton per tahun secara global. Beberapa merek bahkan mulai menyediakan layanan reparasi dan program take-back untuk mendorong ekonomi sirkular.

Baca juga : Emisi, Limbah, dan Upah Rendah, Wajah Kelam Fast Fashion

Investasi Kualitas, Bukan Kuantitas

Gen Z dapat mulai mempertimbangkan nilai jangka panjang saat membeli pakaian. Hampir 50% konsumen mempertimbangkan nilai jual kembali, dan angka ini meningkat menjadi 64% pada Milenial dan Gen Z.

Minat terhadap bahan alami dan tahan lama seperti wol, rami (hemp), serta katun berkualitas tinggi meningkat. Prinsip sederhana seperti “apakah ini akan dipakai lebih dari 30 kali?” mulai menjadi pertimbangan sebelum membeli.

Strategi ini tidak hanya mengurangi frekuensi belanja, tetapi juga menekan jejak karbon dan konsumsi air dari produksi massal.

Mengubah Cara Pandang

Meski kesadaran meningkat, tantangan tetap ada. Harga produk berkelanjutan sering kali lebih tinggi, sementara tekanan untuk tampil trendy di media sosial mendorong konsumsi cepat.

Hashtag seperti #SustainableFashion dan #SlowFashion memang semakin populer, tetapi konten haul dan diskon besar masih mendominasi timeline banyak pengguna.

Para pengamat menilai perubahan perilaku membutuhkan kombinasi edukasi, inovasi bisnis, dan kebijakan yang mendorong transparansi industri.

Pada akhirnya, fashion berkelanjutan bukan sekadar tren, melainkan perubahan pola pikir. Pakaian tidak lagi dipandang sebagai barang sekali pakai, melainkan investasi jangka panjang yang memiliki nilai guna dan cerita.

Di tengah tekanan industri fast fashion yang menyumbang 8–10% emisi karbon global, pilihan kecil yang konsisten dari konsumen muda dinilai dapat memberi dampak signifikan.

Bagi Gen Z, menjadi fashionable kini bukan hanya soal gaya, tetapi juga soal tanggung jawab terhadap bumi.