Benarkah Anak-anak yang Pernah Dirawat karena COVID-19 Berisiko Terkena Long COVID? Ini Penjelasannya
Inilah penjelasan mengenai anak-anak yang pernah dirawat karena COVID-19 berisiko terkena long covid

Justina Nur Landhiani
Author


Ilustrasi anak yang sakit karena COVID-19/freepik.com
(Istimewa)JAKARTA – Anak-anak yang dirawat di rumah sakit karena virus corona dapat berisiko mengalami gejala COVID yang berkepanjangan atau long COVID seperti kelelahan dan kehilangan penciuman selama berbulan-bulan setelahnya, menurut sebuah penelitian.
Seperti yang dikutip dari The Independent, para peneliti yang melakukan riset kepada 518 anak yang dirawat atas konfirmasi COVID-19 diMoskow Rusia antara April dan Agustus 2020.
- 11 Bank Biayai Proyek Tol Serang-Panimbang Rp6 Triliun
- PTPP Hingga Mei 2021 Raih Kontrak Baru Rp6,7 Triliun
- Rilis Rapid Fire, MNC Studios Milik Hary Tanoe Gandeng Pengembang Game Korea
Para peneliti menemukan bahwa seperempat dari anak-anak tersebut mengalami gejala persisten selama beberapa bulan setelah kembali ke rumah, dengan 1 dari 10 anak mengalami “multi-system involvement”.
Pada saat wawancara tindak lanjut, mulai dari sekitar tujuh hingga sembilan bulan setelah keluar dari rumah sakit, 24,3 persen peserta memiliki gejala yang menetap, di antaranya kelelahan (10,7 persen), gangguan tidur (6,9 persen) dan masalah sensorik. (5,6 persen) adalah yang paling umum.
Orangtua dari beberapa anak-anak tersebut juga melaporkan perubahan emosi dan perilaku pada anak-anak mereka setelah COVID-19.
Menurut tim ilmuwan, termasuk peneliti dari Inggris, Irlandia, Italia, Jerman, Rusia, dan AS, anak-anak di atas usia enam tahun tampaknya berisiko lebih besar mengalami gejala yang terus-menerus, seperti halnya mereka yang memiliki riwayat alergi.
- Cara Menghilangkan Kecemasan Saat Rapat Online
- Tips Bekerja dari Rumah atau WFH Ketika Kasus COVID-19 Kembali Naik
- Tandatangani Kontrak, David Guetta Resmi Bergabung dengan Warner Music
Sebuah tinjauan oleh National Institute for Health Research (NIHR) pada bulan Maret juga menemukan efek jangka panjang dari infeksi virus corona lebih sering terjadi pada wanita dan anak-anak daripada yang diperkirakan.
