Banjir Tegal Ungkap Masalah Lama, Hutan Gundul hingga Proyek PLTP Mangkrak
- Banjir bandang di kawasan wisata Guci, Tegal, kembali memicu sorotan terhadap kerusakan lingkungan lereng Gunung Slamet, mulai dari proyek geothermal mangkrak hingga alih fungsi hutan.

Muhammad Imam Hatami
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID - Banjir bandang yang melanda kawasan wisata Guci, Kabupaten Tegal, pada tanggal 20 Desember 2025 memicu kembali sorotan terhadap kondisi lingkungan di lereng Gunung Slamet.
Peristiwa ini terjadi ketika hujan deras mengguyur wilayah hulu sungai dalam waktu relatif singkat, menyebabkan debit air meningkat drastis hingga meluap ke kawasan wisata dan permukiman warga.
Aliran air membawa material lumpur, batu, dan kayu, mengakibatkan kerusakan fasilitas serta menghentikan sementara aktivitas pariwisata. Di tengah penanganan darurat, muncul perdebatan mengenai sejauh mana kerusakan hutan berperan dalam memperparah dampak banjir tersebut.
Baca juga : Asing Masuk Rp30 Triliun, Mengapa Saham Blue Chip Masih Kalah dari Lapis Dua?
Curah Hujan Tinggi Jadi Pemicu
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyatakan bahwa banjir bandang Guci dipicu oleh curah hujan dengan intensitas sangat tinggi yang membuat sungai tidak mampu menampung debit air.
Hujan ekstrem ini dinilai sebagai faktor langsung yang menyebabkan air meluap dan mengalir deras ke wilayah hilir. Meski demikian, penjelasan tersebut tidak sepenuhnya menjawab kekhawatiran masyarakat dan pegiat lingkungan yang menilai bahwa kondisi kawasan hulu telah mengalami degradasi cukup serius.
Menurut mereka, jika tutupan hutan di lereng Gunung Slamet masih terjaga dengan baik, dampak hujan deras tidak akan berubah menjadi banjir bandang yang merusak.
Sorotan juga tertuju pada proyek Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Baturraden yang dikembangkan oleh PT Sejahtera Alam Energi (SAE) di kawasan Gunung Slamet.
Dikutip laman lembaga Mongabay, Selasa, 23 Desember 2025, proyek ini memulai tahap eksplorasi sekitar tahun 2017, namun kemudian berhenti dan hingga kini tidak beroperasi. Izin penggunaan kawasan hutan yang dimiliki perusahaan diketahui telah berakhir pada 2023 dan belum diperpanjang.
Meski aktivitas telah dihentikan, kondisi lapangan menunjukkan adanya lahan terbuka, jalan proyek, dan titik-titik eksplorasi yang tidak direhabilitasi secara optimal. Bekas pembukaan hutan tersebut dinilai mengurangi kemampuan tanah menyerap air dan mempercepat limpasan permukaan saat hujan lebat, sehingga meningkatkan potensi banjir bandang.
Selain proyek geothermal, alih fungsi kawasan hutan menjadi lahan pertanian sayur skala besar juga disebut berkontribusi terhadap degradasi lingkungan di lereng Gunung Slamet.
Baca juga : Lele dan Maggot, Peluang Usaha Hijau yang Minim Modal
Praktik pertanian ini umumnya bersifat monokultur dan minim vegetasi permanen, sehingga tanah sering berada dalam kondisi terbuka.
Dalam situasi hujan dengan intensitas tinggi, tanah yang kehilangan daya serap tersebut mudah tererosi dan terbawa aliran air menuju sungai. Kondisi ini memicu terbentuknya aliran debris yang memperparah banjir bandang.
Aktivitas alih fungsi lahan ini masih berlangsung dan menjadi tantangan besar dalam upaya menjaga keseimbangan ekosistem kawasan hulu.
Para pemerhati lingkungan menilai banjir bandang Guci sebagai contoh bencana yang terjadi akibat pertemuan antara fenomena alam ekstrem dan kondisi lingkungan yang telah terdegradasi.
Kerusakan hutan di kawasan hulu dinilai bersifat akumulatif, berasal dari berbagai aktivitas yang berlangsung dalam waktu lama, mulai dari proyek pembangunan yang tidak tuntas hingga alih fungsi lahan tanpa pengelolaan berkelanjutan.
Dalam konteks perubahan iklim yang meningkatkan frekuensi dan intensitas hujan ekstrem, kondisi ini membuat wilayah lereng Gunung Slamet semakin rentan terhadap bencana hidrometeorologi.

Muhammad Imam Hatami
Editor
