Apa Sebenarnya yang Terjadi Ketika Asteroid Pembunuh Dinosaurus Menghantam Bumi?
- Hasil paling penting dari peristiwa bencana ini adalah kepunahan massal kelima yang memusnahkan sekitar 80% dari semua spesies hewan, termasuk dinosaurus.

Amirudin Zuhri
Author


JAKARTA-Tersembunyi di bawah perairan Teluk Meksiko, kawah Chicxulub adalah lokasi tumbukan asteroid yang menabrak Bumi 66 juta tahun lalu. Hasil paling penting dari peristiwa bencana ini adalah kepunahan massal kelima yang memusnahkan sekitar 80% dari semua spesies hewan, termasuk dinosaurus.
Tetapi sebenarnya apa terjadi ketika asteroid itu bertabrakan dengan Bumi? Dengan mempelajari geologi baik di Chicxulub maupun di seluruh dunia, para ilmuwan telah mengumpulkan apa yang terjadi pada hari yang mengerikan itu dan tahun-tahun setelahnya.
Menurut sebuah studi tahun 2020 yang diterbitkan di Nature Communications. Asteroid itu berdiameter sekitar 12 kilometer dan melaju sekitar 43.000 km/jam. Tumbukan menciptakan kawah selebar 200 km di permukaan planet.
- Simak Savefrom FB Facebook Lite yang Dapat Download Video dan Foto Online Tanpa Aplikasi Android
- Dorong Vaksinasi Pintu ke Pintu, Jokowi Targetkan Herd Immunity Akhir 2021
- Jalan Panjang Smelter Freeport dari Sumbawa, ke Halmahera, dan Berakhir di Gresik
Sean Gulick, seorang profesor riset di Institut Geofisika Universitas Texas, yang memimpin penelitian mengatakan yang lebih penting lagi, asteroid menghantam planet ini sekitar 60 derajat di atas cakrawala. Sudut ini sangat merusak karena memungkinkan tumbukan asteroid mengeluarkan sejumlah besar debu dan aerosol ke atmosfer.
Tim Gulick memperkirakan tumbukan telah menguapkan batuan evaporit, mengirimkan 325 gigaton belerang dalam bentuk aerosol belerang, serta 435 gigaton karbon dioksida ke atmosfer.
Bahan yang dilemparkan ke atmosfer sebagian besar terdiri dari batu yang dihancurkan dan tetesan asam sulfat, yang berasal dari batuan laut yang kaya sulfat dan dikenal sebagai anhidrit.
Bebatuan Menguap
Menurut sebuah studi tahun 2014 yang diterbitkan dalam jurnal Nature Geoscience batuan ini menguap selama serangan asteroid.
Awan bahan mikroskopis ini menciptakan selubung di sekitar planet ini dan mengurangi panas dan cahaya matahari yang masuk. Pendinginan jangka panjang yang dihasilkan secara drastis mengubah iklim planet.
Sebuah studi tahun 2016 di jurnal Geophysical Research Letters menemukan bahwa suhu rata-rata di daerah tropis anjlok dari 27 derajat Celcius menjadi 5 derejat Celcius.
Saat sinar matahari yang masuk meredup, fotosintesis berkurang dan dasar rantai makanan di darat dan di laut runtuh. Akibatnya dinosaurus dan banyak hewan lainnya pun tidak bisa bertahan.
Sementara itu, asam sulfat di udara menyebabkan hujan asam mematikan yang turun selama berhari-hari setelah hantaman. Peristiwa ini membunuh banyak hewan laut yang hidup di bagian atas, serta di danau dan sungai.
Hantaman asteroid juga memicu tsunami besar. Menurut pemodelan oleh para ahli, gelombang awalnya mencapai ketinggian hampir 1,5 km dan bergerak dengan kecepatan 143 km/jam. sementara gelombang lainnya mencapai ketinggian yang sangat tinggi, termasuk hingga 15 m di Samudra Atlantik dan 4 m di Samudra Pasifik Utara.
Api Mengamuk
Batu yang hancur dan abu yang turun kembali ke permukaan setelah tumbukan juga memicu serangkaian kebakaran hutan yang sangat besar. Asap dan abu tambahan kemungkinan berkontribusi pada selubung pendingin yang selanjutnya mengurangi sinar matahari yang masuk.
Tetapi sementara peristiwa spektakuler lainnya, termasuk kebakaran hutan dan tsunami sangat mengerikan Gulick percaya bahwa masalah lebih besar adalah perubahan atmosfer bumi, di mana kafan mengerikan menyebabkan pendinginan yang berlangsung selama lebih dari satu dekade.
"Satu-satunya cara untuk membuat kepunahan massal adalah mengacaukan sesuatu yang mempengaruhi seluruh planet," katanya sebagaimana dikutip LiveScience Seni 18 Oktober 2021. "Di sini Anda memiliki bukti langsung tentang bagaimana hal itu terjadi."

Anov
Editor
