2026 Bawa Peluang Baru untuk K-pop di China
- Awal 2025, tampaknya hanya masalah waktu sebelum K-pop kembali ke China daratan, hingga akhirnya terlihat bahwa harapan itu muncul terlalu cepat.

Distika Safara Setianda
Author


JAKARTA, TRENASIA.ID – Awal 2025, tampaknya hanya masalah waktu sebelum K-pop kembali ke China daratan, hingga akhirnya terlihat bahwa harapan itu muncul terlalu cepat.
Kini, dengan datangnya tahun baru dan munculnya kembali tanda-tanda pencairan hubungan, optimisme kembali muncul, meskipun jalan ke depan tetap terjerat dalam kompleksitas diplomatik, baik yang baru maupun yang lama.
Terlepas dari kemunduran berulang kali, investor dan analis tampaknya bersedia untuk kembali bertaruh pada potensi komersial pasar China yang sangat besar. Namun, para pakar memperingatkan, bahkan jika konser kembali digelar, ketidakpastian tetap akan menyelimuti keberadaan K-pop di ekonomi terbesar kedua di dunia ini.
China Memengaruhi Fluktuasi Suasana Pasar

Saham industri K-pop telah berfluktuasi tajam dalam beberapa bulan terakhir, mencerminkan ekspektasi yang berubah-ubah atas rencana pembukaan kembali China.
Harapan muncul pada akhir Oktober menjelang KTT Korea-China pada 1 November, namun meredup karena tidak ada perkembangan nyata. Harapan itu kembali bangkit pada Desember setelah muncul spekulasi kedua negara sedang bernegosiasi untuk menyelenggarakan konser K-pop di Beijing pada bulan Januari.
Meskipun pemerintah Korea menyatakan belum ada keputusan final, pengumuman lain segera menghidupkan kembali harapan tersebut.
Pada 22 Desember, penyelenggara “Dream Concert,” konser amal K-pop tahunan yang menampilkan berbagai artis dan diselenggarakan oleh Korea Entertainment Producers’ Association (KEPA) sejak 1995, mengumumkan edisi 2026 akan ditayangkan melalui siaran tunda di jaringan televisi China, Hunan TV, salah satu stasiun penyiaran paling berpengaruh di negara tersebut.
“Siaran mendatang di televisi China dari pertunjukan di Hong Kong akan melampaui sekadar acara biasa dan berfungsi sebagai simbol pertukaran budaya yang diperbarui antara Korea dan China,” kata KEPA dalam sebuah rilis.
Dream Concert 2026 diselenggarakan bersama oleh Changsha Liu Jiu Culture dari China, dan dijadwalkan berlangsung di Hong Kong pada 6-7 Februari. Para penyelenggara mengumumkan deretan artis pertama yang akan tampil seperti Taemin (SHINee), Hwasa, The Boyz, serta Chen, Baekhyun, dan Xiumin (EXO).
Pasar bereaksi dengan cepat. Pada 23 Desember 2025, saham HYBE naik 5,02%, sementara SM Entertainment yang terdaftar di Kosdaq melonjak 7,58%, JYP Entertainment naik 3,14%, dan YG Entertainment 4,25%.
“Konser Dream Concert 2026 yang akan datang tidak hanya disiarkan di China daratan, operator China terlibat bersama sejak tahap perencanaan,” kata analis NH Investment & Securities, Lee Hwa-jung, dilansir dari Korea JoongAng Daily.
“Dengan partisipasi China dalam konser K-pop yang semakin substansial, patut dinantikan pertunjukan K-pop akan kembali digelar di China pada tahun 2026.” Pasar memiliki alasan kuat untuk tetap memperhatikan perkembangan di China.
Dalam laporan yang dirilis pada bulan Maret, Hana Securities memperkirakan berdasarkan pendapatan tur Big Bang dari konser mereka di China pada 2015 dan 2016, laba operasional tahunan di agensi K-pop besar bisa meningkat sebesar 15-40% jika grup K-pop dengan daya tarik tiket terkuat seperti BTS, BLACKPINK, SEVENTEEN, dan Stray Kids dapat menggelar konser berskala arena di negara tersebut. Kenaikan ini sebagian juga didorong oleh peningkatan penjualan merchandise konser dibandingkan satu dekade lalu.
Apakah Kali Ini Benar-benar Terjadi?
Meski harapan akan pencairan hubungan terus berlanjut sepanjang tahun 2025, kemajuan berulang kali terhenti.
Sejak awal 2017, Beijing telah mempertahankan larangan de facto terhadap konten budaya Korea, pariwisata, dan operasi ekonomi sebagai balasan atas penempatan sistem Pertahanan Area Ketinggian Tinggi Terminal (THAAD) AS oleh Seoul.
Meskipun China secara konsisten membantah adanya larangan formal, konser K-pop berskala besar praktis absen setelah tahun 2016.
Optimisme mulai muncul kembali awal tahun ini ketika beberapa pertunjukan di China diumumkan, menyusul kembalinya acara-acara berskala kecil seperti pertemuan penggemar (fan meet-and-greet) dan kegiatan promosi dalam beberapa tahun terakhir. Namun, harapan akan kebangkitan penuh K-pop terus gagal terwujud.
Pada bulan April, boy group EPEX mengumumkan konser di China, tetapi acara itu dibatalkan pada Mei, beberapa minggu sebelum pelaksanaan. Girl group Kep1er juga menunda tanpa batas waktu konser penggemar yang direncanakan pada September, sebuah acara yang menghadirkan pertunjukan musik dan sesi tanya-jawab dengan format lebih intim dibanding konser K-pop biasa.
Dream Concert juga mengalami penundaan. Awalnya diumumkan pada bulan April untuk digelar di Hainan dan Hong Kong, edisi 2025 acara tersebut ditunda hanya dua minggu sebelum pertunjukan yang dijadwalkan pada bulan September, dan akhirnya berlangsung di Abu Dhabi pada bulan November.
Insentif Ekonomi Tetap Kuat
Terlepas dari kekecewaan berulang kali, para analis mengatakan China masih memiliki alasan ekonomi yang kuat untuk membuka kembali pintunya bagi pertunjukan K-pop.
“Konser berskala besar menarik sebagian besar penonton dari luar kota penyelenggara, yang meningkatkan konsumsi lokal,” kata analis Shinyoung Securities, Kim Ji-hyun.
“Bagi artis K-pop, biaya perjalanan dan akomodasi cenderung relatif lebih rendah, dan mereka cenderung memiliki kedekatan budaya yang kuat,” tambah Kim.
Hal itu membuat (artis K-pop) sangat cocok untuk pertunjukan di kota-kota tingkat ketiga atau keempat (yang lebih kecil), yang akan menghasilkan efek limpahan bagi pengeluaran lokal.
Lee menggemakan pandangan tersebut, mencatat bahwa Beijing telah berulang kali memberi sinyal minat untuk memanfaatkan pertunjukan langsung dan konten budaya impor untuk meningkatkan konsumsi.
Ia mengatakan, “Sepertinya kembalinya konser K-pop di China hanya soal waktu.”
Ketegangan Anti Jepang Menjadi Risiko Sekaligus Peluang
Namun, muncul variabel baru, karena ketegangan diplomatik antara China dan Jepang meningkat setelah komentar Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang menyebut kemungkinan keterlibatan militer jika terjadi konflik antara China dan Taiwan.
Akibatnya, beberapa penyanyi Jepang terpaksa membatalkan konser di China. Salah satu contohnya, penyanyi Maki Otuski harus meninggalkan panggung secara tiba-tiba saat pertunjukan sedang berlangsung.
Grup K-pop multinasional yang memiliki anggota Jepang juga terdampak. Misalnya, LE SSERAFIM, yang memiliki dua anggota Jepang, membatalkan acara tanda tangan penggemar di Shanghai karena keadaan yang tak terhindarkan. Sementara boy group Close Your Eyes menggelar fan meeting di Hangzhou tanpa anggota Jepangnya, Kenshin.
Namun, beberapa pihak berpendapat bahwa ini mungkin menjadi peluang tak terduga bagi grup K-pop tanpa anggota Jepang.
“Pembatalan pertunjukan artis Jepang baru-baru ini dapat menguntungkan (grup K-pop tertentu),” kata analis Lee, seraya menyarankan artis Korea dapat menyerap permintaan yang tidak terpenuhi akibat absennya artis Jepang, sambil menunjukkan bahwa HYBE, JYP, dan SM semuanya memiliki grup yang berada di posisi yang baik untuk tampil di China.
Garis Merah Tak Terlihat Akan Tetap Ada
Namun, para pakar memperingatkan ketidakpastian hukum dan administratif akan tetap menjadi ciri struktural pasar China.
“Secara historis, strategi China untuk memperketat pembatasan impor telah berlangsung lama,” kata Lim Dae-geun, dekan Fakultas Kebudayaan & Teknologi di Universitas Studi Asing Hankuk, seraya mencatat bahwa pembatasan budaya, khususnya, memiliki makna simbolis bagi masyarakat negara-negara yang terlibat.
Selain itu, karena larangan ini tidak pernah diakui atau dituangkan secara resmi, tidak ada pencabutan larangan yang jelas atau nyata, yang berarti retorika pelonggaran tidak selalu diterjemahkan menjadi perubahan struktural dalam lingkungan bisnis.
“Bisnis konten pada dasarnya berisiko tinggi, dan keterlibatan pemerintah merupakan faktor tambahan di China,” kata Lim, menambahkan bahwa ekspansi strategis ke pasar seperti Taiwan dan Hong Kong sangat penting untuk mengurangi risiko.

Distika Safara Setianda
Editor
